Ekonomi
Share this on:

Bank Dunia Pangkas Pertumbuhan Global

  • Bank Dunia Pangkas Pertumbuhan Global
  • Bank Dunia Pangkas Pertumbuhan Global

Kegiatan usaha dan konsumsi rumah tangga akhir tahun lalu masih melambat.

JAKARTA - Kegiatan usaha dan konsumsi rumah tangga akhir tahun lalu masih melambat. Hasil survei kegiatan dunia usaha (SKDU) yang dipublikasikan Bank Indonesia (BI) kemarin (11/1) mengindikasikan bahwa kegiatan bisnis pada kuartal IV 2016 tumbuh lebih rendah bila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya (qtq).

’’Perlambatan kegiatan usaha itu terutama disebabkan penurunan kegiatan usaha pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Juga, sektor pertambangan dan penggalian,’’ kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara kemarin.

Perlambatan ditunjukkan dengan saldo bersih tertimbang (SBT) 3,13 persen atau lebih rendah jika dibandingkan dengan 13,2 persen pada kuartal III 2016. Tingkat penggunaan tenaga kerja pada kuartal IV 2016 juga menurun. Kinerja sektor industri pengolahan pada kuartal IV 2016 terindikasi tetap meningkat dengan SBT 1,44 persen atau lebih tinggi daripada 1,09 persen pada kuartal sebelumnya.

Nilai purchasing managers index (PMI)-SKDU kuartal IV 2016 berada pada level ekspansi sebesar 50,91 persen, naik dari 48,74 persen pada kuartal III 2016. Berdasar komponen pembentuknya, ekspansi PMI-SKDU disebabkan ekspansi pada indeks volume produksi 55,12 persen dan indeks volume pesanan 51,04 persen.

Kegiatan usaha diperkirakan meningkat pada kuartal I 2017. Terbukti, SBT perkiraan kegiatan usaha kuartal I 2017 mencapai 6,73 persen. ’’Ekspansi kegiatan usaha diperkirakan terutama terjadi pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Juga, sektor industri pengolahan serta sektor pertambangan dan penggalian,’’ ujarnya.

Sejalan dengan peningkatan kegiatan usaha sektor industri pengolahan, PMI-SKDU pada kuartal I 2017 diprediksi mencapai 52,96 persen atau berada pada level ekspansi. Bank sentral juga memproyeksikan konsumsi rumah tangga kuartal IV 2016 tumbuh melambat secara year-on-year (yoy), tetapi naik secara quarter-to-quarter (qtq).

Perlambatan konsumsi rumah tangga terlihat dari rata-rata pertumbuhan tahunan indeks penjualan riil (IPR) kuartal IV 2016 yang diperkirakan sebesar 9,5 persen, lebih rendah kalau dibandingkan pada kuartal IV 2015 yang tumbuh 9,9 persen. IPR pada kuartal III 2016 tercatat 9,4 persen.

BI pun memprediksi pertumbuhan penjualan eceran masih meningkat 10,5 persen pada Desember 2016. Pada November 2016, pertumbuhan IPR tercatat 10 persen atau lebih tinggi daripada Oktober yang hanya tumbuh 8,1 persen.

’’Peningkatan penjualan eceran terutama terjadi pada kelompok makanan. Penjualan eceran kelompok non makanan masih mencatat pertumbuhan meski melambat,’’ ungkap Tirta.

Sementara itu, Bank Dunia memangkas pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 2,7 persen. Angka tersebut lebih rendah daripada proyeksi Juni 2016 yang berada di level 2,8 persen. Namun, proyeksi tahun ini masih lebih baik jika dibandingkan dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia 2016 yang mencapai 2,6 persen.

Pemangkasan itu menyusul antisipasi kebijakan perdagangan yang akan dikeluarkan Presiden terpilih AS Donald Trump. Dalam janji kampanyenya, Trump melakukan proteksi untuk mendorong perekonomian AS.

Bank Dunia menilai ketidakpastian di AS dan Inggris telah meningkatkan risiko untuk global outlook. Dalam laporannya, Bank Dunia menyoroti langkah Inggris meninggalkan Uni Eropa karena dianggap bakal memberikan ketidakpastian besar pada prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta menyatakan, Bank Dunia menunjukkan sikap pesimistis. ’’Bank Dunia sedikit lebih pesimistis daripada sebelumnya, tapi masih percaya pertumbuhan membaik pada 2017 kalau dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 2,3 persen,’’ terangnya di Jakarta kemarin.

Rangga melihat dampak bagi Indonesia akan terlihat dari membaiknya kinerja ekspor dan surplus perdagangan. Dampak tersebut semestinya berkorelasi pada penguatan nilai tukar rupiah. ’’Jika pertumbuhan ekonomi membaik, seharusnya prospek IHSG juga membaik,’’ tuturnya.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memandang angka proyeksi pertumbuhan 2017 didorong pemulihan ekonomi negara berkembang yang diperkirakan tumbuh 4,2 persen dari tahun lalu 3,4 persen. Pertumbuhan ekonomi negara maju menunjukkan pemulihan terbatas, yakni menjadi 1,8 persen dari tahun lalu yang diprediksi tumbuh 1,6 persen.

Pemulihan ekonomi negara berkembang yang berkontribusi 60 persen dari pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini dipengaruhi ekspektasi perbaikan harga komoditas global. Terutama harga minyak dunia. (rin/dee/c14/sof/jpg)

Berita Sebelumnya

Pertamina Kejar Target di 2017
Pertamina Kejar Target di 2017

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

BI Atur Transaksi Sertifikat Deposito

BI Atur Transaksi Sertifikat Deposito

Bank Indonesia (BI) mengeluarkan peraturan baru, yakni PBI No 19/2/PBI/2017 tentang Transaksi Sertifikat Deposito di Pasar Uang.


OJK Tindak Tegas Fraud Perbankan

OJK Tindak Tegas Fraud Perbankan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menindak tegas PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN).


Genjot Kredit, BTN Pangkas Dividen

Genjot Kredit, BTN Pangkas Dividen

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) tahun ini hanya membagikan dividen 20 persen dari laba bersih tahun buku 2016.


Wow... Ada Program Sejuta Rumah Bagi Petani

Wow... Ada Program Sejuta Rumah Bagi Petani

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mendorong kesejahteraan petani dengan memberikan bantuan berupa traktor penggiling padi.


Mantap, Cadangan Devisa Negara Menanjak USD 119 Miliar

Mantap, Cadangan Devisa Negara Menanjak USD 119 Miliar

Bank Indonesia (BI) mencatat penguatan posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2017.


Pilkada Aman, Rupiah Kuat

Pilkada Aman, Rupiah Kuat

Bank Indonesia (BI) menilai pilkada serentak 2017 tidak bakal mempengaruhi rupiah.


Penghasilan Tak Tetap Bisa KPR

Penghasilan Tak Tetap Bisa KPR

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) berencana meluncurkan produk kredit pemilikan rumah (KPR) mikro akhir Februari ini.


Sasar Pertumbuhan 300 Persen

Sasar Pertumbuhan 300 Persen

Panorama JTB Tours Indonesia mematok pertumbuhan bisnis 300 persen. Proyeksi itu paling banter bakal dicapai hingga 5 tahun mendatang.


Dana Repatriasi Dongkrak DPK

Dana Repatriasi Dongkrak DPK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat realisasi komitmen dana repatriasi tax amnesty melalui bank gateway Rp105 triliun.


Kebijakan Trump Ganjal Recovery Ekonomi

Kebijakan Trump Ganjal Recovery Ekonomi

Bank Indonesia (BI) menilai kondisi ekonomi domestik dalam fase recovery.



Kolom

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!