Ekonomi
Share this on:

Indeks Positif di Pekan Pertama

  • Indeks Positif di Pekan Pertama
  • Indeks Positif di Pekan Pertama

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mencetak kinerja positif 0,95 persen di sepanjang pekan pertama Januari.

JAKARTA - Indeks harga saham gabungan (IHSG) mencetak kinerja positif 0,95 persen di sepanjang pekan pertama Januari. Sebaliknya, investor asing tercatat negatif karena terjadi capital outflow Rp 362 miliar.

Pada akhir perdagangan kemarin, IHSG ditutup naik 21,518 poin (0,404 persen) ke level 5.347,022. Sementara itu, indeks LQ45 naik 2,61 poin (0,29 persen) ke level 900,10.

Dalam perdagangan kemarin, capital outflow terjadi setelah investor asing melakukan pembelian bersih Rp127 miliar. Bursa di Asia ditutup beragam kemarin. Indeks Hang Seng naik 0,21 persen dan indeks Straits Times naik 0,29 persen. Sebaliknya, indeks Nikkei 225 turun 0,34 persen dan indeks Composite Shanghai turun 0,35 persen.

VP Research and Analysis Valbury Asia Securities Nico Omer Jonckheere menyatakan, pelaku pasar merespons data ekonomi Tiongkok yang membaik. Data manufaktur dan sektor jasa yang membaik pada bulan Desember menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi terus berlangsung. Ekonomi Tiongkok lebih baik pada kuartal IV 2016 daripada tiga kuartal sebelumnya.

Perbaikan ekonomi Tiongkok menjadi sinyalemen positif ke pasar internasional. ’’Hanya tinggal menunggu apakah membaiknya berkelanjutan atau hanya temporer,’’ ucapnya.

Pemulihan ekonomi dari tekanan eksternal juga ditunjukkan Jepang. Data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa produksi industri meningkat 1,5 persen pada November setelah mengalami perlambatan pertumbuhan pada bulan sebelumnya.

’’Peningkatan tersebut merupakan pertanda bahwa ekonomi Jepang secara perlahan terus menunjukkan perbaikan. Dari kenaikan permintaan untuk elektronik Jepang di luar negeri hingga rebound permintaan untuk barang-barang seperti mobil di dalam negerinya,’’ imbuh Nico.

Pejabat Bank of Japan mengaku optimistis perekonomian negaranya membaik. Selain itu, pihaknya meyakini ekonomi sudah mengalami pemulihan yang mapan.

’’Namun, BoJ mengingatkan dampak kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) pada pasar global merupakan risiko yang bisa menghambat prospek tersebut. Sebab, akan ada modal yang keluar dari pasar emerging market akibat kenaikan bunga The Fed,’’ tuturnya.

Padahal, emerging market di Asia merupakan pasar potensial bagi produk Jepang seperti otomotif. (gen/c22/noe/jpg)


Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!