Ekonomi
Share this on:

Pelonggaran Uang Muka Bangkitkan Bisnis Properti-Otomotif

  • Pelonggaran Uang Muka Bangkitkan Bisnis Properti-Otomotif
  • Pelonggaran Uang Muka Bangkitkan Bisnis Properti-Otomotif

JAKARTA - Perlambatan pertumbuhan industri properti dan otomotif membuat Bank Indonesia (BI) berniat melonggarkan kebijakan loan to value (LTV) yang berimbas pada uang muka. BI segera membuat LTV spasial yang bakal mengklasifikasi kebijakan berdasar wilayah.

Kalau kami dalami, kondisi sektor properti dan otomotif berbeda antara satu region dan region yang lain, ujar Gubernur BI Agus Martowardojo.

Agus menjelaskan, pelonggaran LTV secara spasial dilatarbelakangi data BI yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di beberapa wilayah di Indonesia berbeda-beda. Dia memerinci, hingga kuartal kedua tahun ini, Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi mencatat pertumbuhan yang rendah.

Sementara itu, Pulau Sumatera, Maluku, dan Bali mencatat pertumbuhan yang cukup baik. BI mengkaji (LTV spasial) untuk bisa mendukung ekspansi atau intermediasi perbankan menyalurkan kredit dengan lebih baik. Karena itu, kami pertimbangkan (kebijakan) LTV spasial atau regional yang berbeda, urainya.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menjelaskan, kajian perubahan LTV akan mempertimbangkan stabilitas ekonomi ke depan, baik dari sisi global maupun domestik. Untuk domestik, salah satu yang dipertimbangkan ialah laju inflasi.

Selain itu, pelonggaran LTV sebagai bentuk respons kebijakan sejalan dengan pelonggaran kebijakan moneter BI berupa penurunan suku bunga acuan (7 day reverse repo/7DRR) rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen pada Agustus ini.

Jadi, financing ke ekonomi kan agar bank bisa menyalurkan kredit, ujar Mirza.

Corporate Secretary PT Intiland Development Tbk Theresia Rustandi menuturkan, industri properti sangat menanti kebijakan pelonggaran tersebut. Menurut dia, hal itu juga bisa melengkapi kebijakan pemangkasan suku bunga 25 bps yang telah dilakukan bank sentral.

Itu memang yang kita tunggu. Buat kami, itu bukan hanya akan memberikan sentimen positif pada pembiayaan konsumen untuk kredit properti. Tapi, juga akan membuat produk-produk turunan properti lainnya bisa semakin kompetitif, ujarnya kepada Jawa Pos (induk radartegal.com), kemarin.

Theresia menjelaskan, perlambatan ekonomi global memang berdampak negatif pada industri properti di dalam negeri. Perlambatan tersebut dirasakannya sejak awal 2014.

Perlambatan itu pada akhirnya membuat perseroan lebih berhati-hati dalam merancang sebuah proyek bagi konsumen. Mau tidak mau, perseroan juga akhirnya memikirkan berbagai strategi agar produk yang dirilis bisa lebih cepat diserap konsumen.

Namun, dia tetap optimistis pada pemerintah dan regulator yang terus melakukan deregulasi agar lebih menggairahkan industri properti dalam negeri. Selama ini perseroan juga terus melihat respons pasar melalui berbagai produk yang dikeluarkan.

Beberapa deregulasi itu bagus untuk pengembang. Misalnya, kebijakan kepemilikan orang asing, DIRE, kebijakan kemudahan perizinan, itu semua sangat bagus. Namun, memang perlu disinkronkan dengan pelaksanaannya supaya kebijakan tersebut berjalan efektif, urainya.

Dia juga berharap dengan diturunkannya suku bunga oleh BI dan dikajinya LTV spasial, sektor perbankan bisa lebih cepat mengakomodasi perubahan kebijakan tersebut.

Kita harapkan penurunan suku bunga ini cepat direspons positif dan secara proporsional oleh perbankan dengan skema pembiayaan yang sesuai dengan penurunan suku bunga. Itu yang paling penting, katanya.

Sementara itu, ekonom Pefindo Ahmad Mikail mengatakan, pelonggaran LTV akan berdampak bagus bagi pertumbuhan kredit. Sebab, nasabah jadi lebih ringan dalam mempersiapkan down payment (DP), baik untuk pembelian properti maupun kendaraan.

Pelonggaran LTV mestinya bisa dilakukan tahun ini,? ujarnya.

Pefindo telah menurunkan peringkat obligasi lima perusahaan multifinance. Penurunan itu dilakukan karena penerbit obligasi mengalami gagal bayar dan masuk dalam masa penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Yang terbaru, ada PT Bima Multi Finance yang meminta penarikan rating dari Pefindo. Penarikan pemeringkatan itu dilakukan karena perseroan mengalami gagal bayar.

Penjualan kendaraan pada semester I memang menunjukkan penurunan. Secara year-on-year (yoy), penjualan mobil turun 27,45 persen, sedangkan penjualan motor turun 26,87 persen. Jika pelonggaran LTV segera dilakukan, pasar kendaraan bermotor akan semakin bergairah.

Secara terpisah, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Maryono menyambut baik langkah BI yang akan mengkaji kemungkinan pelonggaran LTV. Menurut dia, besarnya DP turut mengakibatkan masyarakat sulit membeli rumah.

Uang muka salah satu sebab (kredit) perumahan belum naik signifikan,? tuturnya.

Bank Indonesia (BI) mencatat, pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) hingga Mei 2017 sebesar 0,55 persen secara quarter-to-quarter (qtq). Angka tersebut melambat jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu sebesar 2,39 persen.

Meski kredit properti cenderung turun, BTN masih mampu membukukan pertumbuhan yang sangat positif. Per akhir Juni 2017, KPR BTN tumbuh 19,13 persen (yoy) menjadi Rp127,49 triliun dari Rp107,02 triliun pada Juni 2016. BTN mengincar pertumbuhan KPR 21?23 persen (yoy) tahun ini. (dee/rin/c7/sof/jpg)


Berita Sebelumnya

Pengguna Mobile Banking Baru 25 Persen
Pengguna Mobile Banking Baru 25 Persen

Berita Berikutnya

Imbangi Fintech, Bank Getol Akuisisi
Imbangi Fintech, Bank Getol Akuisisi

Berita Sejenis

BI Perkuat Larangan Bitcoin

BI Perkuat Larangan Bitcoin

Bank Indonesia (BI) bakal membuat aturan tentang financial technology (fintech) yang memuat larangan penggunaan mata uang digital atau cryptocurrency.


Properti Segmen Menengah Masih Prospektif

Properti Segmen Menengah Masih Prospektif

Segmen menengah masih menjadi andalan pengembang properti untuk memenuhi target penjualan. Citra Harmoni, misalnya.


Pelonggaran Uang Muka Berdasar Segmen

Pelonggaran Uang Muka Berdasar Segmen

Rencana pelonggaran aturan loan to value (LTV) belum bisa dikeluarkan Bank Indonesia (BI) dalam waktu dekat.


Zaman Now, Zakat Pakai Saham

Zaman Now, Zakat Pakai Saham

Sistem digital telah merasuk dalam beragam lini bisnis. Tidak terkecuali dalam industri pasar modal khususnya transaksi saham.


Minat Investasi Properti Luar Negeri Tinggi

Minat Investasi Properti Luar Negeri Tinggi

Minat membeli properti di luar negeri, rupanya, relatif lebih stabil ketimbang di dalam negeri.


2018, Gaikindo Bakal Gelar Dua Pameran

2018, Gaikindo Bakal Gelar Dua Pameran

Terus mendorong pertumbuhan industri otomotif di Indonesia, Gaikindo di 2018 bakal menggelar dua pameran otomotif.


Properti Komersial Masih Diminati

Properti Komersial Masih Diminati

Kebutuhan berbisnis di kalangan pelaku usaha masih tinggi. Permintaan terhadap properti komersial pun tidak pernah surut.


Google Beri Fitur Gratis untuk UKM

Google Beri Fitur Gratis untuk UKM

Google meluncurkan beberapa fitur gratis baru untuk membantu pelaku usaha di Indonesia mengembangkan bisnis.


Prospek Bisnis Starup Makin Bersinar

Prospek Bisnis Starup Makin Bersinar

Perkembangan startup di Asia Tenggara semakin pesat. Angka investasi terhadap perusahaan rintisan meningkat 23 kali lipat.


Bentuk Holding Itu Lebih Disegani

Bentuk Holding Itu Lebih Disegani

Kalangan DPR RI menyambut baik rencana pembentukan holding BUMN. Seperti holding tambang, energi, properti, konstruksi hingga perbankan.



Kolom

Video

Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!