Kuliner
Share this on:

Gula Merah Mira, Oleh-oleh Khas Sangkulirang yang Terancam Punah

  • Gula Merah Mira, Oleh-oleh Khas Sangkulirang yang Terancam Punah
  • Gula Merah Mira, Oleh-oleh Khas Sangkulirang yang Terancam Punah

Berdirinya perkebunan sawit yang tak terkendali membuat pohon aren harus berebut air dengan pohon sawit.

SANGKULIRANG - Gula Merah khas Sangkulirang, Kutim terancam punah. Berdirinya perkebunan sawit yang tak terkendali membuat pohon aren harus berebut air dengan pohon sawit. Imbasnya jumlah air nira yang dihasilkan menurun drastis.

Bertalu-talu tangan tua Asnan (53) melumat kemiri. Salah seorang pembuat gula merah khas Sangkulirang itu masih kuat memegang gagang palu yang terbuat dari kayu ulin. Perlahan, rutinitas tersebut dikerjakan dengan penuh konsentrasi.

Mata tuanya memperhatikan secara seksama gerakan tangannya yang menghancurkan kemiri. Bahan campuran rebusan air nira sebelum menjadi gula merah. “Ini bahan alami untuk mengeraskan gula merah. Dengan kemiri gula merah bisa awet dan tetap keras lebih dari satu bulan,” ucapnya.

Seperti biasa rutinitas setiap hari yang dilakukan ayah empat ini adalah membuat gula merah yang dijual ke beberapa pedagang di Pasar Sangkulirang. Seluruh proses dia kerjakan sendiri. Mulai dari menyadap pohon aren, merebus air nira, proses pencetakan hingga pembungkusan dengan daun pandan.

“Saya menyadap pagi hari sekitar pukul 05.00 Wita, dibarengi mencari kayu bakar. Nanti sekitar pukul 08.00 Wita saya mulai merebus air benda (air nira),” ungkapnya.

Dia menceritakan, dalam proses pembuatan gula merah setidaknya butuh waktu 21 hari sejak awal penyadapan dimulai dengan memilih pohon kemudian menaiki dengan tangga dan mengupas tangkai aren.

Kemudian dipukul-pukul dengan palu dari kayu. “Proses paling menentukan banyak sedikitnya air yang dihasilkan. Teknik pemukulan pun tidak boleh terlalu keras, harus lembut dan harus merata disekujur batang tersebut,” jelasnya.

Proses pemukulan ini dilakukan berkala, tiga hari sekali dan dilakukan selama enam kali. Jadi total waktunya sekira 18 hari, baru dilakukan pemotongan tangkai.

Setelah dipotong, juga tidak bisa langsung disadap. Perlu menunggu tiga hari lagi untuk mendapatkan air benda yang berlimpah. “Terkadang kalau proses pemukulan awal tidak benar, air yang keluar biasanya sedikit sekali. Rasanya pun hambar. Kalau normal rasanya manis layaknya gula merah,” ungkapnya.

Dalam sehari Asnan bisa menyadap hingga 3-4 liter untuk satu pohon. Dalam sehari, sekitar 15-20 liter yang dikumpulkan dari empat sampai lima pohon saja. Itu pun diakuinya sudah cukup banyak. Padahal dahulu tiap pohon bisa menghasilkan hingga 30 liter, namun jumlah air berkurang sejak banyak pohon sawit berdiri.

“Kami menduga ini karena banyak pohon sawit jadi kawasan kami jarang hujan air benda pun menipis,” ucapnya.

Tiap hari Asnan bisa menghasilkan hanya sekitar 18 hingga 20 butir gula merah, dengan harga jual per butir hanya Rp10 ribu. Namun dia juga mendapat tambahan dari menjual air benda. Diakuinya di usia senja dirinya tidak bisa membuat lebih banyak gula merah.

Karena banyak juga pembuat gula merah yang tidak mau menyadap. Melainkan membeli air benda saja. “Saya bisa dapat Rp200 ribu per hari dari air benda yang saya sadap pagi dan sore, dengan asumsi per botol ukuran 1,5 liter dengan harga Rp20 ribu, total sehari saya bisa mengantongi Rp400 ribu,” ucapnya.

Untuk menekan pengeluaran, Asnan menggunakan kayu bakar yang dia ambil tiap hari di hutan, pasalnya jika menggunakan kompor gas estimasi duit yang dikeluarkan mencapai Rp1,5 juta per bulan. Dia pun lebih memilih memanfaatkan apa yang ada di alam.

“Tidak ada bedanya rasa gula merah yang dibakar pakai kayu atau kompor. Hanya saja saya jamin, gula merah saya lebih baik karena tanpa campuran gula pasir dan untuk pengerasnya dari kemiri yang tahan lama. Karena ada saja yang pakai santan namun hanya bertahan satu minggu setelah itu gula merah menjadi lumer. Saya jamin itu,” ucapnya.

Asnan merupakan seorang nelayan tekun. Pada pagi hari, dia melaut dan sore sekira pukul 15.00 Wita sepulang melaut berlanjut membuat gula merah hingga malam hari. Semua teknik membuat gula dipelajari Asnan dari ayahnya yang dulunya pembuat gula merah juga. “Kini saya sudah tua tidak sanggup lagi kalau harus nelayan, lebih baik kerja santai dengan menyadap dan membuat gula merah. Meski pun ini juga tak mudah,” sebutnya.

Dahulu, Asnan sempat ikut bekerja dengan salah seorang kerabat membuat gula aren dalam jumlah besar. Namun karena pembagian keuntungan dianggap tidak sesuai, sejak dua tahun lalu dia memilih mandiri.

“Lebih enak kerja sendiri,” selorohnya.

Meski demikian dirinya pun berharap pemerintah bisa mencarikan solusi dan peduli terhadap budidaya aren. Mengingat saat ini pemerintah lebih fokus menggarap sawit ketimbang komoditas ini.

Namun kini banyak petani mengeluhkan menurutnya hasil sadapan. “Sejak era sawit hasil penyadapan berkurang lama-lama pohon aren yang ada saat ini menjadi tidak produktif. Kalau bukan dari gula merah saya tidak tahu harus hidup dari apa lagi,” keluhnya. (riz)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Padukan Kebiasaan Seruput Kopi dan Literasi

Padukan Kebiasaan Seruput Kopi dan Literasi

Warung kopi (warkop) yang menyediakan jaringan internet mungkin sudah biasa.


Mencoba Lezat dan Kentalnya Kopi Sangrai Khas Pulosari Pemalang

Mencoba Lezat dan Kentalnya Kopi Sangrai Khas Pulosari Pemalang

Desa Pulosari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang yang merupakan salah satu desa penghasil tanaman kopi Robusta.


Mengubah Sayuran Terong Jadi Keripik

Mengubah Sayuran Terong Jadi Keripik

Sayuran yang biasa digunakan untuk bahan masakan, kini telah dikembangkan oleh warga Desa Siremeng Kecamatan Pulosari menjadi keripik aneka sayur.


Nikmatnya Kopi Tugu Juang Khas Pulosari Pemalang

Nikmatnya Kopi Tugu Juang Khas Pulosari Pemalang

Setiap daerah pasti memliki potensi dan keunggulan masing-masing. Biasanya, di beberapa desa di pegunungan, potensi yang banyak adalah sayuran.


Yuk, Lesehan di Blok M Square

Yuk, Lesehan di Blok M Square

Bagi para pelancong di Jakarta, ada tempat yang recommended buat kulineran malam.


Segar... Wedang Tuak, Minuman Tradisional Salem yang Menyehatkan

Segar... Wedang Tuak, Minuman Tradisional Salem yang Menyehatkan

Salah satu minuman khas di Kabupaten Brebes yang belum banyak didiketahui adalah wedang tuak yang terbuat dari air aren pohon kelapa.


Park Bo-gum Kepincut Kuliner Khas Indonesia

Park Bo-gum Kepincut Kuliner Khas Indonesia

Bagi Park Bo-gum, Indonesia sangat memikat untuk urusan kuliner. Bintang papan atas drama Korea itu tiba di Jakarta pada Rabu malam (11/1).


Yummmiii... Lezatnya Cake Imut yang Hidup, Anda Mau Coba?

Yummmiii... Lezatnya Cake Imut yang Hidup, Anda Mau Coba?

Bukan hanya rasa, penampilan juga menjadi alasan memilih kue. Apalagi untuk perayaan spesial.


Hmmm... Enaknya Pizza Rumahan

Hmmm... Enaknya Pizza Rumahan

Ayu, pemilik bisnis pizza rumahan yang diberi brand Pizza Hitz Pemalang mencoba mengembangkan hobi membuat jajanan menjadi sebuah peluang usaha.


Nikmatnya Olos, Jajanan Khas Tegal Buruan ABG Pantura

Nikmatnya Olos, Jajanan Khas Tegal Buruan ABG Pantura

Bukan hanya warung tegal yang merupakan khas Tegal, tetapi banyak pula jajanan khas yang tak kalah lezatnya dibandingkan daerah lain.



Kolom

Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!