Nasional
Share this on:

Fauzi Hanya Cokot Abdullah, Jaksa Lain Aman

  • Fauzi Hanya Cokot Abdullah, Jaksa Lain Aman
  • Fauzi Hanya Cokot Abdullah, Jaksa Lain Aman

Sidang kasus pemerasan dalam penanganan perkara korupsi pelepasan tanah kas desa (TKD) di Kalimook, Sumenep, memasuki babak akhir.

SIDOARJO - Sidang kasus pemerasan dalam penanganan perkara korupsi pelepasan tanah kas desa (TKD) di Kalimook, Sumenep, memasuki babak akhir. Terdakwa Ahmad Fauzi akhirnya melindungi keterlibatan jaksa lain. Dia hanya membongkar peran Abdullah, staf tata usaha di Bidang Intelijen Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim.

Kemarin (10/1) sidang kasus pemerasan itu memasuki tahap pemeriksaan saksi mahkota dan terdakwa. Dalam pemeriksaan saksi mahkota, Fauzi diperiksa untuk terdakwa lain, yakni Abdul Manaf. Begitu pula sebaliknya, Manaf menjadi saksi untuk Fauzi.

Dalam sidang, Fauzi keukeuh melindungi keterlibatan jaksa lain yang tergabung dalam tim penyidik kasus pelepasan TKD di Kalimook. Padahal, Fauzi mengakui bahwa dirinya sempat menyampaikan keinginan Manaf agar tidak dijadikan tersangka dalam rapat tim penyidik.

Keinginan Manaf itu tentu tidak gratis. Dalam sidang, Manaf mengaku dimintai duit Rp2 miliar oleh Fauzi. Tapi, dia akhirnya hanya bisa memenuhi Rp1,5 miliar. ”Saat itu ada agenda percepatan pemberkasan. Kepada tim (tim penyidik, Red), saya sampaikan ada orang minta tolong saya lewat Abdullah,” kata Fauzi, menjawab pertanyaan hakim.

Adam Ohoiled selaku ketua tim penyidik, seingat Fauzi, meminta permohonan itu tidak ditanggapi dulu. Sebab, peran Manaf dalam kasus TKD tersebut belum diketahui. Pernyataan tanggung itu langsung dipotong karena Fauzi buru-buru membuat pagar untuk kawan-kawannya sesama jaksa. ”Tapi, apa yang saya sampaikan itu tidak dihiraukan oleh tim,” sambungnya.

Pernyataan Fauzi tersebut tentu janggal. Sebab, sebagai anggota tim penyidik, dia tak bisa seorang diri menentukan status Manaf. Apakah dijadikan tersangka atau tetap sebagai saksi. ”Untuk menentukan status tersangka atau tidak, harus lewat ekspose (gelar perkara, Red),” tutur Fauzi.

Jaksa asal Bandung itu menyebutkan, dalam gelar perkara sempat ada jaksa yang setuju agar status Manaf dinaikkan sebagai tersangka. Tapi, ada juga jaksa yang tidak setuju.

Keanehan makin terlihat saat hakim mengorek prosedur penetapan tersangka. Dia mengatakan, tiga di antara lima anggota tim penyidik tidak sepakat untuk menjadikan Manaf sebagai tersangka kasus TKD. Kecuali menjadikan Manaf tersangka atas perbuatan memberikan uang Rp200 juta kepada Wahyu Sudjoko.

”Kami sampai diskusi apa pintu masuknya kalau menjadikan Manaf sebagai tersangka,” tuturnya. Meski tahu bahwa Manaf sulit untuk dijadikan tersangka, Fauzi tetap menggali untung. Ketika uang Rp1,5 miliar diantarkan, dia tetap menerima tanpa memberikan keterangan apa pun kepada Manaf.

Dalam sidang, Fauzi justru cenderung memojokkan Abdullah. Dia menyebut staf tata usaha itulah yang menjadi perantara penyuapan. Fauzi menjelaskan, awalnya dirinya menolak permintaan tolong yang disampaikan langsung oleh Manaf dan seseorang yang bernama Hans. Permintan itu disampaikan ketika Manaf diperiksa oleh Fauzi di kejati.

”Abdullah datang ke saya waktu apel pagi di kantor. Dia minta tolong, katanya Manaf siap memberikan uang Rp750 juta,” terang Fauzi.

Selain Manaf, ada Hans yang siap memberikan uang Rp750 juta. Belakangan, Hans diketahui sebagai bos Manaf. Jadi, total uang yang siap diberikan untuk mengamankan kasus TKD Kalimook Rp1,5 miliar.

”Saya tak pernah ngomong soal uang kepada terdakwa (Abdul Manaf, Red) maupun Hans, Yang Mulia,” kilah Fauzi. Menurut dia, pembicaraan tentang uang justru disampaikan oleh Abdullah.

Pernyataan Fauzi itu tentu memojokkan Abdullah. Sebab, saat dihadirkan sebagai saksi, Abdullah berkilah tidak mengetahui pembicaraan mengenai uang tersebut. Tugasnya hanya menyampaikan permintaan tolong Manaf kepada Fauzi.

Nah, yang menarik, versi Manaf, keterangan Fauzi dan Abdullah sama-sama tidak benar. Keduanya dianggap saling mengingkari pembicaraan mengenai uang. Manaf mengaku bahwa Fauzi dan Abdullah sama-sama pernah membicarakan ”uang pengamanan” perkara TKD.

Manaf mengaku pernah menyampaikan kepada Abdullah bahwa dirinya siap memberikan uang Rp750 juta agar tak dijadikan tersangka. Di sisi lain, Manaf juga pernah mendengar Fauzi membicarakan uang suap. Dia mendengarnya dari Hans maupun Abdullah. Saat itu Manaf mendengar Fauzi meminta Rp2 miliar.

”Abdullah pernah menyampaikan permintaan dari Fauzi yang harus saya penuhi,” papar Manaf. Tapi, permintaan itu tak bisa dipenuhi. Abdullah lantas memerintahkan Manaf untuk menjual apa pun agar bisa memenuhi permintaan tersebut.

Manaf akhirnya hanya bisa menyerahkan uang Rp1,5 miliar. ”Saat saya menyerahkan uang itu, Pak Fauzi sempat tanya kok hanya Rp1,5 miliar. Kurangannya bagaimana?” ujar Manaf, menirukan pernyataan Fauzi kala itu. Saat ditanya seperti itu oleh Fauzi, Manaf hanya bisa menunjukkan bukti penjualan rumah. Bukti tersebut digunakan untuk menegaskan bahwa dirinya hanya punya uang Rp1,5 miliar.

Manaf ingat betul, saat uang itu diserahkan, Fauzi sempat menggerutu karena yang disetor seharusnya Rp2 miliar. Manaf yang mengaku tidak punya uang saat itu sampai menangis. Meski ada kekurangan, Fauzi tetap mengambil kunci mobil (mobil untuk menaruh uang) untuk mengambil uang tersebut.

Hakim sempat mencecar Fauzi, mengapa sebagai penegak hukum mau menerima uang dari Manaf. Jawaban Fauzi pun ngelantur. Dia beralasan sebenarnya tak terpikir untuk menerima uang dari Manaf. Uang yang diserahkan di mobil yang diparkir di halaman Kejati Jatim itu diambil begitu saja.

”Saat itu saya tak terpikirkan apa-apa. Sebab, konsentrasi saya mengikuti sidang praperadilan Dahlan Iskan,” kilahnya. Hakim geram dengan jawaban tersebut. ”Jawaban Saudara itu tak ada hubungannya. Anda itu penegak hukum lho, harusnya bisa memikirkan konsekuensinya,” cecar hakim M. Mahin.

Hakim tidak puas dengan jawaban tersebut. Sebab, banyak kejanggalan dalam keterangan Fauzi yang berputar-putar. Termasuk soal status Manaf yang sudah dipastikan tidak bisa menjadi tersangka di kasus TKD. Apalagi, Fauzi tetap menerima uang yang dianggap Manaf bisa menyelamatkan dirinya itu.

Karena Fauzi terus mbulet, hakim Mahin sampai menceramahinya. ”Saudara bukan orang biasa. Saudara tahu hukum. Jadi, saya tidak perlu bertanya panjang-panjang. Kita kan tidak bisa menerima sesuatu karena jawaban Anda muter-muter,” kata hakim.

Hakim pun memaparkan fakta sidang yang dijelaskan Fauzi dengan tidak logis. Misalnya, pertemuan Fauzi dengan Manaf di ruang tunggu Kejati Jatim. Juga pertanyaan Fauzi tentang nominal Rp1,5 miliar dan bukan Rp2 miliar. Hakim juga membeberkan sikap Fauzi yang membawa mobil Manaf untuk pulang ke tempat kosnya, lalu membawa kembali mobil itu ke kejati.

”Ini uang apa? Apalagi, Anda jaksa. Pertanyaannya, kenapa Anda terima uang itu?” tanya hakim.

Sindiran hakim itu pun tidak membuat Fauzi menjelaskan alasannya sehingga mau menerima uang dari Manaf. Pria yang sedang menjalani proses cerai dari istrinya itu tetap saja mengulangi jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan hakim.

Setelah pemeriksaan saksi mahkota, Fauzi dan Manaf menjalani pemeriksaan terdakwa. Tapi, atas kesepakatan bersama, pertanyaan yang diajukan saat pemeriksaan saksi mahkota telah dianggap ditanyakan dalam pemeriksaan terdakwa.

Sementara itu, saat menanggapi keterangan Fauzi, Manaf mengungkapkan, perbincangan di antara mereka setelah tertangkap dan diperiksa di gedung Kejati Jatim. Menurut Manaf, dalam pembicaraan tersebut, Fauzi mengaku bahwa dirinya menitipkan pesan yang terkait dengan duit itu lewat Abdullah.

”Itu waktu ngobrol setelah ditangkap,” ucap Manaf.

Sidang kemudian diakhiri. Majelis hakim memberikan waktu dua minggu kepada jaksa penuntut umum (JPU) untuk menyusun tuntutan untuk Fauzi maupun Manaf. (bjg/rul/tel/jpg)


Berita Sebelumnya


Berita Sejenis

Tembak Mati, Percepat Indonesia Bebas Narkotika

Tembak Mati, Percepat Indonesia Bebas Narkotika

Polri makin garang memerangi pengedar narkotika. Terbukti, hanya dalam 18 hari pada awal 2017, sudah ada empat pengedar yang meregang nyawa.


Luar Biasa, Empat Perampok sadis di Pulomas Beraksi Hanya 16 Menit

Luar Biasa, Empat Perampok sadis di Pulomas Beraksi Hanya 16 Menit

Ridwan Sitorus alias Ius Pane tak berkutik saat ditampilkan di hadapan publik di Mapolda Metro Jaya kemarin.


Tak Fokus pada Kasus Pemerasan oleh Fauzi, Hakim Beberapa Kali Tegur Jaksa

Tak Fokus pada Kasus Pemerasan oleh Fauzi, Hakim Beberapa Kali Tegur Jaksa

Keseriusan jaksa penuntut umum (JPU) dalam menyidangkan kasus pemerasan oleh jaksa Ahmad Fauzi pantas dipertanyakan.


Suap Pengisian Jabatan Diyakini Tak hanya di Klaten

Suap Pengisian Jabatan Diyakini Tak hanya di Klaten

Potensi suap pengisian jabatan diduga kuat tidak hanya terjadi di Kabupaten Klaten.


Maruli: Moral Fauzi Bejat

Maruli: Moral Fauzi Bejat

Kepala Kejati Jatim Maruli Hutagalung terus berusaha agar tidak dikaitkan dengan kasus pemerasan Rp1,5 miliar yang dilakukan jaksa Ahmad Fauzi.


Negara Jamin Perayaan Natal Aman

Negara Jamin Perayaan Natal Aman

Pengmanan Natal tahun ini diwarnai beberapa penangkapan terduga teroris.


Fauzi Akan Ungkap Jaksa Lain Penerima Uang dari Manaf

Fauzi Akan Ungkap Jaksa Lain Penerima Uang dari Manaf

Kasus pemerasan yang dilakukan jaksa dari Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Ahmad Fauzi memasuki babak baru.


Semua Keberatan Ahok Ditolak Jaksa

Semua Keberatan Ahok Ditolak Jaksa

Sidang kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok kembali dilanjutkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.


Uang Baru Lebih Aman dari Pemalsuan

Uang Baru Lebih Aman dari Pemalsuan

Terhitung Mulai kemarin, masyarakat Indonesia sudah bisa menggunakan pecahan uang tunai emisi terbaru.


Duh... Ternyata Banyak Jaksa yang Lakukan Korupsi

Duh... Ternyata Banyak Jaksa yang Lakukan Korupsi

Penangkapan terhadap Eko Susilo Hadi yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendapat perhatian dari Kejaksaan Agung (Kejagung).



Kolom

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!