Nasional
Share this on:

Maruli: Moral Fauzi Bejat

  • Maruli: Moral Fauzi Bejat
  • Maruli: Moral Fauzi Bejat

Kepala Kejati Jatim Maruli Hutagalung terus berusaha agar tidak dikaitkan dengan kasus pemerasan Rp1,5 miliar yang dilakukan jaksa Ahmad Fauzi.

SURABAYA - Kepala Kejati Jatim Maruli Hutagalung terus berusaha agar tidak dikaitkan dengan kasus pemerasan Rp1,5 miliar yang dilakukan jaksa Ahmad Fauzi. Secara terbuka, bapak tiga anak itu menyebut moral Fauzi bejat.

Hal tersebut dikatakan Maruli dalam press release capaian kinerja Kejati Jatim selama 2016, kemarin. Dalam acara tersebut, dia berusaha mengklarifikasi ulahnya dan anak buahnya yang menjadi polemik.

Salah satunya terkait dengan Fauzi. Maruli membeberkan keburukan anak buahnya itu selama ini. Sebelum ditangkap karena memeras saksi Abdul Manaf, Fauzi pernah ditangkap Maruli. ’’Dia mengatur rentut (rencana tuntutan pidana, Red),’’ katanya.

Saat itu Maruli memerintah Asisten Intelijen Kejati Jatim Eddy Birton untuk menangkap Fauzi. Setelah ditangkap, penyidik di bidang Pidana Khusus Kejati Jatim tersebut memohon-mohon kepada Maruli agar dimaafkan.

Hanya, setelah ditangkap, Fauzi dilepaskan dan tidak diproses hukum. Maruli beralasan Fauzi masih muda sehingga dirinya tidak memberikan hukuman. Bahkan, meski pernah tertangkap basah mengatur perkara, Fauzi tetap dipercaya mengusut sejumlah perkara korupsi di Kejati Jatim.

Tidak lama setelah ketahuan bermain-main dengan rentut, Fauzi kembali memeras Abdul Manaf Rp1,5 miliar. Manaf merupakan saksi dalam kasus penjualan tanah kas Desa Kalimook Kecamatan Kalianget, Sumenep.

Dalam pertemuan tersebut, Maruli membenarkan kabar yang beredar selama ini bahwa dirinya mengenal Fauzi ketika berdinas di Papua. Karena pekerjaannya dinilai baik, Fauzi pun dibawa ke Kejagung hingga ke Kejati Jatim.

’’Kerjaannya (Fauzi, Red) bagus. Tapi, moralnya bejat. Ini anak kurang ajar,’’ ucap Maruli.

Dia menegaskan, perbuatan Fauzi sudah mencoreng nama kejaksaan. ’’Muka saya ditaruh kotoran,’’ imbuhnya. Suami Orpha Agustina Ndolu itu juga menuding Fauzi melakukan pemerasan seorang diri tanpa diketahui tim penyidik yang lain.

Maruli juga berupaya menutupi keterlibatan Abdullah, staf TU Intelijen Kejati Jatim, yang disebut-sebut dalam surat dakwaan Fauzi. Saat ditanya wartawan apa tindakan kejati terhadap Abdullah, Maruli seolah cuci tangan. Dia mengaku tidak tahu-menahu hal itu karena kasus tersebut ditangani Kejagung.

Selain soal Fauzi, Maruli menegaskan akan kembali menyeret La Nyalla Mattalitti ke pengadilan. Menurut dia, La Nyalla akan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tindak pidana pencucian uang dalam penyelewengan dana hibah Kadin Jatim.

Maruli menyatakan, pengusutan terhadap La Nyalla terus berjalan. Dia bahkan sudah merencanakan langsung penetapan tersangka pada awal 2017. ’’Sembilan puluh persen untuk La Nyalla. Kalau kemarin dihukum, langsung saya ajukan,’’ ujarnya.

Maruli juga angkat bicara soal bebasnya La Nyalla. Pernyataannya tetap saja tendensius terhadap para hakim yang menyidangkan La Nyalla. Maruli seolah tidak ingin meluruskan pernyataannya selama ini yang membuat Mahkamah Agung (MA) tersinggung.

Sebagaimana diketahui, selama ini Maruli mengaitkan ’’kemenangan’’ La Nyalla dengan hubungan kekerabatan antara La Nyalla dan Ketua MA Hatta Ali. ’’Kalau saya mau ngomong lebih, bisa. Saya punya senjatanya kok. Tidak boleh tersinggung dong. Sesama penegak hukum kok tersinggung,’’ ungkapnya.

Menurut dia, semestinya Hatta Ali tidak perlu mengumumkan bahwa La Nyalla merupakan keponakannya. Sebab, hal itu membuat hakim yang menangani kasus La Nyalla tidak punya keberanian.

Maruli menganalogikan hubungan Hatta dengan La Nyalla seperti antara dirinya dan anak buahnya. ’’Saya tanya ke anak buah saya, kamu berani sama anak saya? Dijawab tidak berani karena saya pimpinannya. Makanya, harusnya jangan diumumin kalau dia (Hatta Ali) pamannya (La Nyalla),’’ ucapnya.

Dia mempertanyakan independensi majelis hakim, terutama hakim karir. Sebab, menurut Maruli, hakim ad hoc menyatakan La Nyalla terbukti bersalah, sedangkan hakim karir menyatakan La Nyalla tidak bersalah.

’’Kenapa hakim karir itu lari semua?’’ ungkapnya. (atm/rul/tel/bjg/c5/ang/jpg)


Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Fauzi Hanya Cokot Abdullah, Jaksa Lain Aman

Fauzi Hanya Cokot Abdullah, Jaksa Lain Aman

Sidang kasus pemerasan dalam penanganan perkara korupsi pelepasan tanah kas desa (TKD) di Kalimook, Sumenep, memasuki babak akhir.


Tak Fokus pada Kasus Pemerasan oleh Fauzi, Hakim Beberapa Kali Tegur Jaksa

Tak Fokus pada Kasus Pemerasan oleh Fauzi, Hakim Beberapa Kali Tegur Jaksa

Keseriusan jaksa penuntut umum (JPU) dalam menyidangkan kasus pemerasan oleh jaksa Ahmad Fauzi pantas dipertanyakan.


Fauzi Akan Ungkap Jaksa Lain Penerima Uang dari Manaf

Fauzi Akan Ungkap Jaksa Lain Penerima Uang dari Manaf

Kasus pemerasan yang dilakukan jaksa dari Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Ahmad Fauzi memasuki babak baru.


Effendi Ghazali: Yang Zalimi Dahlan Level Tanggung-tanggung

Effendi Ghazali: Yang Zalimi Dahlan Level Tanggung-tanggung

Pengadilan Tipikor Surabaya menjadi saksi ketulusan para tokoh antikorupsi dalam memberikan dukungan moral kepada Dahlan Iskan.


Jaksa Pemeras Tertangkap Tangan, kok Belum Disanksi?

Jaksa Pemeras Tertangkap Tangan, kok Belum Disanksi?

Jaksa Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur Ahmad Fauzi yang tertangkap tangan memeras pihak beperkara Rp1,5 miliar bakal dipecat.


’’Kami Percaya Dahlan, Gak Percaya Kejaksaan’’

’’Kami Percaya Dahlan, Gak Percaya Kejaksaan’’

Dukungan moral untuk Dahlan Iskan yang ditahan Kejaksaan Tinggi, Jawa Timur, terus mengalir. Kali ini dari masyarakat Mojokerto.


Medan Filipina Selatan Sangat Berat, Penyelamatan Selalu Timbulkan Korban Jiwa

Medan Filipina Selatan Sangat Berat, Penyelamatan Selalu Timbulkan Korban Jiwa

Tokoh senior Jamaah Islamiyah Ali Fauzi meminta pemerintah, utamanya militer Indonesia melakukan perencanaan yang matang.


Ahok Bongkar Kebobrokan Pejabat

Ahok Bongkar Kebobrokan Pejabat

Sejumlah pihak menantang Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merealisasikan aksinya membongkar borok para pejabat di era Gubernur Fauzi Bowo dan Sutiyoso.



Kolom

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!