Nasional
Share this on:

Saksi Penembakan Rumah Anggita DPR Bunuh Diri

  • Saksi Penembakan Rumah Anggita DPR Bunuh Diri
  • Saksi Penembakan Rumah Anggita DPR Bunuh Diri

JAKARTA - Anggota Polri yang melakukan bunuh diri menggunakan senjata api kembali terjadi. Adalah anggota Brimob Polri Detaseman A Satuan III Bripka Teguh Dwiyatno yang diduga melakukan tindakan nekad itu, kemarin subuh.

Dia diduga menembakkan senjata jenis revolver ke pelipis kanannya. Teguh diketahui sedang diperiksa Divisi Propam, karena kasus tembakan nyasar ke rumah anggota DPR fraksi PKS Jazuli Juwaini. Teguh diduga mengalami stres, akibat pemeriksaan tersebut.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divhumas Mabes Polri Brigjen Rikwanto menuturkan, almarhum Bripka Teguh ditemukan meninggal dunia sekitar pukul 05.00 di garasi rumahnya di Asrama Brimob, Kedaung, Pamulang, Banten. Terdapat luka di pelipis kanan yang tembus ke kepala bagian belakang sebelah kiri.

"Teguh masih berseragam lengkap," jelasnya.

Lalu ditemukan juga sebuah senjata api laras pendek jenis revolver dengan nomor 683031 milik Teguh. Posisi senjata revolver tidak terlalu jauh dari tangan kanan Teguh. "Dengan kondisi itu, maka diduga Teguh melakukan bunuh diri," paparnya ditemui di kantor Divhumas Mabes Polri kemarin.

Apa penyebab Teguh melakukan bunuh diri? Rikwanto menuturkan bahwa Teguh sedang diperiksa terkait adanya peluru nyasar ke rumah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Jazuli Juwaini. Teguh diperiksa dalam kaitan sebagai penanggungjawab logistik yang artinya dia mengurusi persenjataan.

ā€¯Kemungkinan Teguh stres karena pemeriksaan tersebut" jelasnya.

Saat latihan itu, posisinya mengosongkan peluru dengan menembak ke arah aman. Biasanya ditembakkan ke arah atas. Namun, kemungkinan terjadi parabola atau peluru meluncur ke atas dan kembali turun. Peluru tersebut mengenai jendela rumah anggota DPR Jazuli.

"Jarak antara lapangan tembak dengan rumah sekitar 250 meter," terangnya.

Berapa kali Teguh diperiksa? Rikwanto mengatakan bahwa yang pasti Teguh dalam pemeriksaan Divpropam terkait masalah tersebut. Sebab, penggunaan senjata itu merupakan kewenangannya. "Latihan menembak juga merupakan kewenangan Teguh," papar jenderal berbintang satu tersebut.

Saat ditanya bagaimana metode pemeriksaan yang dilakukan hingga membuat Teguh stres dan melakukan bunuh diri, Rikwanto menuturkan bahwa respon personil saat diperiksa tentu berbeda. Ada yang menganggap pemeriksaan itu biasa saja atau malah justru menganggap pemeriksaan itu akhir dari karirnya.

"Ini masih asumsi ya,"paparnya.

Sementara Koordinator Divisi Advokasi Arif Nur Fikri menjelaskan, seharusnya dalam bila anggota Polri dalam masa pemeriksaan, maka senjatanya seharusnya disita sementara. Hal tersebut seharusnya merupakan prosedur tetap dalam kepolisian. "Sehingga, ada antisipasi dampak dari pemeriksaan tidak menyalahgunakan senjata yang membahayakan diri sendiri dan orang lain," terangnya.

Masalahnya, banyak anggota Polri yang justru tidak memahami secara mendalam prosedur tetap penggunaan senjata. Sehingga, penyalahgunaan senjata kerap terjadi. "Anggota Polri kebanyakan hanya dilatih kemampuan menembak, tapi prosesur tetap yang berfungsi mencegah penyalahgunaan tidak dimengerti," paparnya

Dengan begitu ada dua cara untuk mengantisipasi penyalahgunaan senjata api. Pertama dengan kembali mensosialisasikan prosedur tetap penggunaan senjata. "Jadi dalam kondisi tertentu diketahui harus dibagaimanakan senjata apinya," ungkapnya.

Langkah kedua adalah dengan memperketat pengawasan dan evaluasi penggunaan senjata api. Menurutnya, saat ini laporan penggunaan senjata api hanya enam bulan sekali. "Masih relevankah evaluasi penggunaan senjata api dua kali dalam setahun itu?. Kemungkin evaluasi ini perlu lebih intens, misalnya dua bulan sekali," terangnya.

Evaluasi penggunaan senjata api yang dipercepat itu cuku mendesak. Mengingat dalam lima bulan ini ada empat kejadian penyalahgunaan senjata. Yang pertama seorang perwira menembak dirinya sendiri sesaat setelah selesai operasi di Poso, Sulawesi Tengah. Kedua di Bengkulu seorang polisi menembak satu keluarga yang menerobos razia kendaraan. "Korban jiwa bisa anggota dan orang lain," urainya.

Ketiga, masih di Bengkulu, seorang polisi menembak anaknya sendiri yang dikira pencuri. "Kejadian Brimob ini yang keempat dalam tahun ini. Tentunya Polri diharapkan berbenah untuk melindungi personilnya dan masyarakat,"ujarnya. (idr/bay/ang/jpg)


Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Ketahuilah, Begini Berbagai Modus Kecurangan yang Rugikan Pasien BPJS

Ketahuilah, Begini Berbagai Modus Kecurangan yang Rugikan Pasien BPJS

Dapat pengakuan atau tidak, pelayanan sejumlah rumah sakit terhadap pasien BPJS masih jauh dari kata baik.


RS Mitra Keluarga Kalideres Harnya Disanksi Teguran Tertulis

RS Mitra Keluarga Kalideres Harnya Disanksi Teguran Tertulis

Hasil investigasi yang dilakukan Kemenkes atas kasus kematian bayi Tiara Debora dilaporkan ke Komisi IX DPR kemarin (13/9).


BPJS Tanggung Pelayanan NICU dan PICU

BPJS Tanggung Pelayanan NICU dan PICU

Bagi rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, tidak ada alasan untuk menolak pasien.


Penembakan Bima, Polisi Amankan 4 Orang yang Diduga Teroris

Penembakan Bima, Polisi Amankan 4 Orang yang Diduga Teroris

Aksi penembakan diduga dilakukan kelompok teror menyasar dua anggota polisi di Bima, kemarin.


Farhat: Soal Politisi Menekan Miryam, Cerita Elza Benar

Farhat: Soal Politisi Menekan Miryam, Cerita Elza Benar

Indikasi sejumlah politikus di DPR menekan Miryam S. Haryani agar mencabut berita acara pemeriksaan (BAP), semakin terang benderang.


Giliran Pengacara Kondang Elza Syarief yang Diancam

Giliran Pengacara Kondang Elza Syarief yang Diancam

Penanganan kasus korupsi kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el) kembali menebar teror bagi para saksi.


Akbar Faizal Bantah Tekan Miryam

Akbar Faizal Bantah Tekan Miryam

Akbar Faizal, anggota Komisi III DPR merasa keberatan namanya disebut dalam kasus yang menjerat Miryam S Haryani, tersangka kasus korupsi e-KTP.


DPR Minta Buka Utuh Rekaman Video Miryam

DPR Minta Buka Utuh Rekaman Video Miryam

Video rekaman penyidikan terdakwa perkara dugaan memberikan keterangan tindak benar Miryam S. Haryani mengundang banyak reaksi.


Setnov Bantu Andi Atur Proyek e-KTP

Setnov Bantu Andi Atur Proyek e-KTP

Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) kembali muncul dalam surat dakwaan untuk terdakwa perkara dugaan korupsi e-KTP.


KPK Diminta Desak Otopsi Jazad Marliem

KPK Diminta Desak Otopsi Jazad Marliem

Misteri kematian saksi kunci megarasuah e-KTP Johannes Marliem di Los Angeles, Amerika Serikat semakin mengundang penasaran publik.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!