Traveling
Share this on:

Ke Danau Haji Buang, Bercengkerama dengan Ubur-ubur

  • Ke Danau Haji Buang, Bercengkerama dengan Ubur-ubur
  • Ke Danau Haji Buang, Bercengkerama dengan Ubur-ubur

Pesona Danau Kakaban dengan ubur-uburnya yang tidak menyengat, ternyata ada “kembarannya” di Pulau Maratua.

MARATUA - Pesona Danau Kakaban dengan ubur-uburnya yang tidak menyengat, ternyata ada “kembarannya” di Pulau Maratua. Adalah Danau Haji Mangku di Kampung Payung-Payung yang diklaim memiliki kemiripan dengan Danau Kakaban karena sama-sama memiliki ubur-ubur tak menyengat.

Keindahan bawah laut Pulau Maratua, tentu sudah dikenal masyarakat luas. Bahkan, keberadaan salah satu pulau terluar di Indonesia ini, sudah terkenal hingga mancanegara.

Jika berkunjung ke Maratua, tujuan utama para wisatawan tentu saja ingin menyelami keindahan bawah lautnya yang dihuni ratusan jenis terumbu karang. Atau mungkin hanya untuk sekadar bermain di pantai.

Namun, selain bawah lautnya yang memanjakan mata, objek wisata di daratan Maratua juga tidak kalah menarik untuk dikunjungi. Setelah kehadiran Danau Haji Mangku yang mulai ramai dikunjungi, mungkin perlu juga dicoba berkunjung ke Danau Haji Buang.

Menurut warga lokal, nama Haji Buang diberikan sesuai dengan penemu danau tersebut. Keberadaan danau tersebut sebenarnya sudah tidak asing. Sebab, sejak beberapa tahun lalu, sudah ada yang datang ke danau yang letaknya tak jauh dari Bandara Maratua tersebut.

Namun, kala itu, untuk menuju Danau Haji Buang, harus melalui jalan setapak karena belum ada jalan untuk kendaraan. Dibilang mirip dengan Danau Kakaban, menurut warga setempat, karena terdapat ubur-ubur yang sama-sama tidak menyengat.

“Tapi jumlahnya masih lebih banyak yang di Danau Kakaban. Yang di sini (Haji Buang) paling hanya beberapa jenis saja. Tapi memang ada ubur-uburnya,” kata Miharja, warga setempat, saat ditemui di pinggir danau.

Harja, sapaannya, menuturkan beberapa waktu lalu juga sempat dilakukan penyelaman oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk dilakukan penelitian mengenai kondisi perairan dan keberadaan ubur-uburnya. Harja sendiri turut mendampingi peneliti LIPI melakukan penyelaman selama tiga hari.

Kondisi Danau Haji Buang sendiri masih sangat asri. Selain belum banyak dikunjungi wisatawan, letaknya yang berada di tengah-tengah hutan membuat danau ini cukup memanjakan mata.

Anda yang berkunjung bisa mengabadikan momen di atas papan kayu yang ditopang drum plastik untuk mengapung, dengan latar belakang danau dan langit biru di antara pepohonan. Anda juga bisa menggunakan papan kayu atau perahu kecil untuk berkeliling danau, namun harus ditemani penduduk lokal.

Bagi yang doyan selfie, perlu diperhatikan arah cahaya mataharinya. Sebab, lebatnya pepohonan membuat ruang gerak di tepi danau cukup terbatas. Jika berfoto terlalu membelakangi cahaya, sudah tentu hasil foto yang dihasilkan kurang bagus, karena akan melawan cahaya sehingga hanya menghasilkan bayangan hitam.

Danau Haji Buang juga cocok bagi Anda yang suka melakukan yoga. Suasana tenang di danau ini bisa menjadi lokasi tepat. Anda bisa melakukan yoga di atas papan yang sudah tersedia di tepi danau berapa pun lama yang diinginkan.

Untuk ke objek wisata yang belum dikelola ini, wisatawan akan lebih dimudahkan. Sebab, kini sudah ada jalan masuk menuju danau yang dibuat Gunawan, investor lokal yang membangun resort di Maratua.

Menurut Gunawan, jalan tersebut dibuat sekitar sebulan yang lalu, memanfaatkan tenaga penduduk lokal Maratua. Dengan jalan baru tersebut, wisatawan yang ingin ke Danau Haji Buang bisa menggunakan kendaraan hingga di tepi danau. Atau bisa juga tetap berjalan kaki dengan waktu yang lebih singkat dibandingkan sebelum adanya jalan tersebut.

“Ya, ini untuk membantu saja wisatawan yang mau ke sini (Danau Haji Buang). Karena sebelumnya yang akan ke sini pasti lewat jalur setapak yang butuh waktu kira-kira 30 menit. Kalau lewat jalan ini paling tidak lebih dari 10 menit,” tutur Gunawan.

Jika beruntung, ketika datang ke Danau Haji Buang, Anda akan disambut puluhan monyet ekor panjang yang biasanya berkelompok untuk sekadar bersantai, atau mencari makan di tepi danau. Meski tidak menyerang, namun harus tetap berhati-hati dengan keberadaan primata yang satu ini. Sebab, kebiasaan monyet yang banyak ditemukan di hutan mangrove ini, sering mengambil barang-barang, ketika sering berinteraksi dengan manusia.

Hetifah sendiri menyampaikan kekagumannya terhadap keindahan Danau Haji Buang ini. Menurutnya, dengan potensi yang dimiliki Danau Haji Buang, perlu dikelola dengan bijak, baik oleh masyarakat atau pemerintah kampung setempat. Sehingga, akan memberikan manfaat bagi perekonomian kampung.

“Tinggal dari masyarakat dan pemerintah kampung membahas seperti apa model pengelolaannya. Tentu ini akan memiliki dampak yang baik bagi masyarakat,” ujarnya. (udi/jpg)


Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!