New Hope
Share this on:

Selalu Ada yang Baru di Tianjin

Selalu Ada yang Baru di TianjinSelalu Ada yang Baru di Tianjin

Selalu ada yang baru di rumah sakit ini. Sudah 10 tahun saya selalu kembali ke Tianjin First Center Hospital (TFCH) di bagian utara RRT ini.

Selalu ada yang baru di rumah sakit ini. Sudah 10 tahun saya selalu kembali ke Tianjin First Center Hospital (TFCH) di bagian utara RRT ini. Sejak saya menjalani transplantasi hati pada tahun 2006 lalu.

Kemarin pagi (5/1) saya kembali menjalani serangkaian pemeriksaan di sana. Yang saya lakukan tiap enam bulan sekali dengan sangat disiplin. Kedisiplinan itulah yang ingin saya jaga. Agar bisa tetap hidup sehat. Termasuk agar bisa menjalani, hehehe, sidang pengadilan.

Sebelum jam 5 pagi darah saya sudah diambil. Banyak sekali: 23 tabung. Dari tangan kanan hanya bisa diambil 9 tabung. Darah tidak mau keluar lagi. Pindah tangan kiri. Juga hanya keluar 10 tabung. Pindah tangan kanan lagi, kali ini di dekat pergelangan, 4 tabung. Air seni dan kotoran juga harus ditampung untuk ikut diperiksa.

Pengambilan darah itu memang harus pagi-pagi. Harus sebelum jam 5, saat saya harus minum obat wajib: penekan imunitas. Agar darah yang diperiksa belum tercampur obat.

Dengan risiko tertentu saya harus minum obat penekan imunitas itu. Setiap hari. Sudah 10 tahun. Agar hati yang ditransplankan ke badan saya itu tidak ditolak sistem tubuh saya.

Maka secara teoretis saya ini mudah terkena penyakit. Akibat imunitas yang terus ditekan. Itulah sebabnya, check up rutin itu harus disiplin. Agar kalau muncul penyakit baru segera bisa diketahui.

Misalnya kalau kanker yang dulu mengancam hidup saya itu muncul lagi. Harus sedini mungkin ditangani. Itulah sebabnya mengapa pemeriksaannya memerlukan darah sampai 23 tabung.

Siangnya saya menjalani tiga macam test scan yang berbeda. Dilanjutkan hari ini untuk di-scan bagian tubuh yang lain lagi. Besok masih ada proses berikutnya dan berikutnya lagi.

Dari ruangan saya di lantai 10 rumah sakit ini, saat ini saya bisa melihat sungai depan itu airnya sudah beku. Subuh tadi udara Tianjin memang sudah minus 5 derajat. Tiga hari lagi akan turun salju. Saat itu nanti saya akan bisa melihat orang-orang yang menyeberang sungai dengan jalan kaki di atas air yang sudah keras membeku.

Saya juga akan bisa melihat orang-orang yang duduk di kursi di atas air beku itu untuk memancing. Mereka membuat lubang di permukaan air beku itu untuk menjulurkan tali pancingnya ke dalam air.

Saat menjalani test scan tadi, saya lihat ada yang baru lagi di rumah sakit ini. Di lobi depan area scan/MRI, banyak mesin seperti ATM. Itulah mesin untuk mencetak hasil scan/MRI. Yang mencetak adalah pasiennya sendiri. Atau keluarganya.

Ini menarik. Orang periksa apa saja bisa langsung mencetak sendiri hasilnya. Termasuk mencetak film hasil MRI. Caranya mudah. Pasien mendapatkan barcode saat menjalani scan dan barcode itulah yang dimasukkan dalam area sensor di ”mesin ATM” itu.

Kini pasien juga tidak berdesakan lagi. Antrean scan atau USG sudah lewat layar monitor. Pasien tinggal melihat di layar TV kapan gilirannya tiba.

Yang terbaru lagi ternyata ini: APPS. Rumah sakit ini punya APPS sendiri. Dengan APPS pasien bisa mengakses jasa apa saja lewat handphone mereka.

Pasien yang menginap seperti saya juga punya kode akses sendiri. Untuk membuka lift, pintu lobi, pintu blok, dan pintu kamar. Saya lihat keteraturannya juga lebih baik. Dan ini dia: pakaian seragam petugas liftnya seperti pramugari pesawat dari Timur Tengah.

Saya tidak akan lama di Tianjin. Kali ini saya hanya akan menjalani pemeriksaan kesehatan yang penting-penting saja. Agar minggu depan sudah bisa menjalani persidangan pengadilan di Surabaya sesuai yang dijadwalkan.

Kebetulan cuaca Tianjin juga kurang enak. Sangat dingin dan berkabut. Begitu berkabutnya sampai saya naik kereta cepat selama lima jam dari Shanghai. Takut pesawat tidak bisa mendarat di Tianjin.

Kebetulan pesawat Garuda dari Jakarta ke Shanghai memang telat. Tidak tanggung-tanggung: empat jam.

Tentu saya bertanya baik-baik ke awak Garuda. Mengapa telat begitu parah? Ternyata Garuda tidak dapat izin melintas di atas Singapura pada jam yang diminta. Ini karena waktu yang dialokasikan Singapura untuk Garuda sudah lewat. Garuda tidak menggunakannya tepat waktu. Akhirnya digeser empat jam kemudian.

Mengapa Garuda tidak tepat waktu menggunakan jatah lewat udara Singapura? Ini karena Garuda tidak bisa berangkat tepat waktu. Mengapa? Karena harus ada penggantian ban. Rupanya baru diketahui ada ban yang harus diganti.

Mengapa ketahuannya baru saat itu? Saya tentu tidak lagi mengejar awak Garuda dengan pertanyaan seperti itu. Saya hanya penumpang biasa.

Saya justru harus ingat kebijakan saya dulu. Saat saya masih menteri dan saat itu banyak pesawat telat terbang. Saya pun menegaskan: agar pesawat yang tidak bisa berangkat tepat waktu jangan menggeser jadwal terbang pesawat berikutnya. Agar tidak terjadi telat yang beruntun. Pesawat yang telat terbang harus dicarikan waktu kosong yang tersedia.

Ternyata Singapura melakukan hal yang sama. Korbannya Garuda. (*)



Kolom Sejenis

 Angpao pun Dikirim dengan WeChat

Angpao pun Dikirim dengan WeChat

Tiba di Tianjin pekan lalu saya tersenyum: jumlah sepeda yang bisa disewa bertambah dua kali lipat.


Arah Baru dari Empat Jurus Mobil Listrik

Arah Baru dari Empat Jurus Mobil Listrik

Kini ada dua aliran besar dalam penggunaan energi mobil listrik.


Pesantren di Antara Dentuman Karaoke

Pesantren di Antara Dentuman Karaoke

Saya lagi asyik menulis sore itu. ’’Ada tamu dari Gang Dolly,’’ ujar istri saya sambil berbisik.


Dunia Digital vs Dunia Nyata

Dunia Digital vs Dunia Nyata

Dalam banyak kesempatan, saya mendengar kuatnya anggapan bahwa dunia maya (digital) berbeda dengan dunia nyata.


Berakhir yang Belum, Jelas yang Kabur

Berakhir yang Belum, Jelas yang Kabur

Inilah urusan murni keluarga yang menjadi urusan penuh negara.


Wasiat Terakhir yang Bikin Perpecahan

Wasiat Terakhir yang Bikin Perpecahan

PERPECAHAN keluarga Perdana Menteri Singapura terus melebar.


Kegilaan Rusdi Kirana Terobos Vacuum

Kegilaan Rusdi Kirana Terobos Vacuum

Tiongkok itu ibarat vacuum cleaner. Kita bisa kesedot. Tiongkok tidak bermaksud menyedot pun, negara sekitarnya bisa kesedot sendiri. Ekonominya.


Ingat Ayah di Senam Puasa

Ingat Ayah di Senam Puasa

Di bulan puasa ini peserta senam saya menurun drastis. Dari 50 tinggal 15 orang.


MILLENNIALS dan DISRUPTION

MILLENNIALS dan DISRUPTION

Belakangan ini banyak perusahaan atau organisasi yang mulai menaruh perhatian terhadap generasi millennials.


Bisa Jadi Janda Sekaligus Duda

Bisa Jadi Janda Sekaligus Duda

Banyak pertanyaan yang diajukan ke saya. Khususnya dari golongan Tionghoa.



Kolom

Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!