11 Santriwati Diduga Jadi Korban Pelecehan Seksual Ustaz dan kakak Kelasnya, Baru 5 Orang Berani Speak Up

DEPOK - Pelecehan di lingkungan pesantren kembali terjadi. Kali ini ditengarai terjadi di sebuah pondok pesantren yang ada di kawasan Beji Timur, Depok, Jawa Barat.

Konon pelecehan seksual itu dialami belasan santriwati yang diduga dilakukan ustaz dan kakak kelasnya para korban. Ironisnya, dugaan kasus pelecehan seksual itu diketahui sudah terjadi selama setahun lalu, tetapi baru terungkap pekan kemarin.

Megawati, perwakilan kuasa hukum korban, mengungkapkan para korban baru berani menceritakan kejadian yang dialaminya ketika proses pembelajaran di kegiatan libur.

Menurut Megawati, ternyata tidak hanya satu atau dua santriwati, tetapi ada 11 orang yang diduga menjadi korban. Hingga kini baru 5 santriwati yang disebut berani melaporkannya ke Polda Metro Jaya.

“Dari 11 yang dilecehkan, yang berani untuk speak up hanya 5 orang. Tapi sekarang yang diperiksa baru 3 orang. Yang 1 orang lainnya masih di Bandung dalam kondisi sakit,” kata Megawati sebagaimana yang dikutip dari laman PMJ News, Kamis (30/6).

“Karena beberapa dari mereka yatim piatu, jadi mereka takut untuk melaporkannya. Mereka merasa hutang budi ke pondok pesantren itu karena dapat fasilitas gratis,” sambungnya.

Megawati sudah mengetahui kejadian itu setelah diceritakan oleh para korban. Sehingga pada akhirnya ornag tua korban juga sepakat untuk membuat laporan ke Polda Metro Jaya.

Penyidik Polda Metro Jaya juga sudah meminta keterangan terhadap tiga orang santriwati berinisial A, T dan R. Setelahnya pihak kepolisian langsung melakukan pengembangan dan juga menunggu hasil visum dari rumah sakit.

“Pihak Polda Metro Jaya mengembangkan kasusnya, dari situ kami lakukan visum. Tapi sampai hari ini hasil visumnya belum keluar. Jadi kami juga masih menunggu hasil visum, dan anak itu sudah cedera, sudah ada luka,” ujar Megawati.

Lebih lanjut, Megawtai mengungkapkan bahwa motif dari pelaku adalah mengajak korban ke ruangan kosong yang kemudian terjadilah kekerasan seksual.

Santriwati yang menjadi korban mengaku sama sekali tidak dijanjikan apapun dan hanya terus diberikan ancaman agar tidak memberi tahu orang tuanya. Polda Metro Jaya kini terus menyelidiki serta mendalami kasus ini dan pihak pondok pesantren juga masih belum angkat bicara terkait dengan kasus tersebut.

“Belum, masih proses penyelidikan korban dulu. Ini baru pemanggilan pertama,” paparnya.

Polda Metro Jaya sudah menerbitkan surat tanda terima polisi terkait kasus kekerasan seksual ini dengan nomor STTLP/B/3083/V1/2022/SPKT/POLDA METRO JAYA; STTLP/B/3084/V1/2022/SPKT/POLDA METRO JAYA; dan STTLP/B/3082/VI/2022/SPKT/POLDA METRO JAYA tertanggal 21 Juni 2022 dengan sangkaan Pencabulan dan atau Persetubuhan Terhadap Anak Pasal 76e Jo Pasal 82 dan atau Pasal 76d Jo Pas 81 Undang-Undang No.17 Tahun 2016 tentang penetapan pemerintah pengganti Undang-Undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (zul/rtc)

Baca Juga:

  • Ada Pergerakan 20 Pasukan di Luar Kendali Dukung Sambo, Ketua IPW: Brimob Sampai Tak Ingin Bentrok.
  • Tabungan Brigadir J Diduga Dikuras Salah Seorang Tersangka Pembunuhnya, Pengacara Keluarga: Orang Mati Kirim Duit.

Berita Terkait

Berita Terbaru