17 Ramadhan Nuzulul Qur’an, Konteks Kebangsaan Disinggung

Nuzulul Qur'an
Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta Kiai Muhammad Faiz Syukron Makmun (Kemenag RI)

JAKARTA, radartegalonline– Malam ini, Jumat, 7 April 2023 bertepatan tanggal 17 Ramadhan 1444 H merupakan hari peringatan Nuzulul Qur’an. Tidak hanya sebagai peringatan keagamaan, penceramah juga menyinggung konteks kebangsaan.

Konteks ini masuk dalam uraian hikmah dalam acara Peringatan Nuzulul Qur’an 1444 H/2023 M Tingkat Kenegaraan. Dalam peringatan yang bertajuk ‘Nuzulul Qur’an Momentum Merawat Kerukunan Umat’ di Jakarta malam ini, penceramah menekankan konteks kebangsaan dalam penerapan isi Al Qur’an.

Bertindak sebagai penceramah, Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta Kiai Muhammad Faiz Syukron Makmun. Menurutnya, Nuzulul Qur’an merupakan salah satu momen penting dalam merawat kerukunan.

“Selain sebagai peringatan keagamaan, Nuzulul Qur’an memiliki makna tersendiri dalam konteks kebangsaan,” pesannya mengutip dari web resmi Kementerian Agama RI.

Dalam peringatan itu, tampak hadir Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. Kemudian ada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono.

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi dan Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin. Serta Inspektur Jenderal Kementerian Agama Faisal Ali Hasyim.

Nampak pula terlihat jajaran pejabat Bimas Islam Eselon II, III, dan IV. Sejumlah tokoh agama, dan Qari Qari’ah berprestasi juga tampak hadir di acara ini.

Makna Saling Menghormati

Lebih lanjut Kiai Muhammad Faiz menjelaskan, salah satu fase penciptaan manusia yang tercantum dalam Al-Quran adalah kata, ‘Khalaqal-insāna min ‘alaq’.

“Kata ‘Alaq’, selain dapat dipahami sebagai segumpal darah yang menempel pada dinding rahim, juga menggambarkan bahwa manusia tercipta dalam keadaan selalu bergantung kepada pihak lain, tidak dapat hidup sendiri,” ujarnya.

Karenanya, saling menghormati dalam perbedaan bukan berarti menerima dan menyetujui keyakinan orang lain. Menurutnya, penghormatan adalah penerimaan untuk hidup berdampingan demi kemaslahatan.

Dalam kesempatan tersebut, dia pun mengingatkan langkah awal Nabi Muhammad SAW saat di Madinah. Untuk mempererat persaudaraan penduduk di sana, Rosulullah mengikatnya dalam Piagam Madinah.

Pada piagam tersebut, ada pengakuan eksistensi seluruh masyarakat di Kota Madinah dan perlindungan terhadap hak-haknya.

“Nabi Muhammad mengimplementasikan pesan-pesan luhur Al-Quran dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, semenjak beliau sampai di Kota Madinah,” pungkasnya. ***

Ikuti Kami di

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *