Akses Jalan Dibangun Tembok, Warga Keluar Rumah Lewat Lorong Sempit

BREBES - Akses jalan warga yang bakal dibangun rumah oleh pemilik tanah terjadi di Desa Larangan Kecamatan Larangan. Akibatnya, sejumlah warga yang berada di lokasi pembangunan tembok sebuah bangunan rumah tersebut harus melewati lorong sempit selebar 50 centimeter untuk beraktivitas sehari-hari.

Informasi yang didapat, akses jalan yang bakal dibangun rumah tersebut terjadi di RT 1 RW 7 Desa Larangan Kecamatan Larangan. Jalan tersebut mulai dibangun tembok untuk rumah sejak seminggu yang lalu.

Saat ini, akses jalan warga yang tersisa hanya menyisakan celah sekitar 40 sampai 50 cm. Padahal, akses itu merupakan jalur yang setiap hari dipakai warga untuk ke kota kecamatan atau pasar.

Memang ada jalur alternatif, tetapi jaraknya cukup jauh karena harus memutar melewati gang-gang sempit.

Hal ini seperti dikatakan salah seorang yang terdampak dengan adanya pembangunan tembok itu, Supratno (53).

"Kalau mau ke pasar ataupun ke kecamatan ya lewatnya lorong itu. Jika berpapasan dengan orang jalannya harus miring," ujarnya kepada wartawan, Selasa (23/11).

Bahkan, sejak adanya pembangunan tembok di akses tersebut, warga RT 01 RW 7 juga jarang memakai motor. Motor baru digunakan warga saat akan bepergian jauh, dan itupun harus memutar arah.

"Ya kalau mau ke pasar jalan kaki lewat lorong ini, walaupun jaraknya jauh. Soalnya, jangankan motor, sepeda saja susah. Kalaupun pakai motor harus putar arah lewat jalan sempit lainnya," ucapnya.

Sejumlah warga yang berada dekat lokasi tersebut sangat khawatir jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dia mencontohkan, jika ada orang meninggal, maka keranda jenazah dipastikan tidak bisa masuk. Kemudian bila terjadi kebakaran, warga akan sulit untuk dievakuasi dan lokasi kebakaran akan sulit dijangkau petugas pemadam.

"Yang kami risaukan jika ada warga yang meninggal, soalnya kerandanya tidak bisa masuk. Dan jika jika ada kebakaran, akses pemadaman sangat sulit," ucapnya.

Warga lain yang ikut terdampak adalah Fahmi (26). Rumahnya kini tertutup tembok. Bahkan, akses masuk rumah keluarga Fahmi hanya tersisa 45 cm. Padahal, sebelumnya akses tersebut sangat lebar.

"Kalau ditutup ini dampaknya banyak. Pertama, tidak bisa keluar kendaraan motor. Kalau jalan, kita harus miring karena sempit. Kemudian jika ada kondisi darurat susah juga," keluhnya.

Informasi yang didapat, tembok yang menghalangi akses jalan warga itu milik Nasikun (59). Rumahnya berada di mulut jalan masuk lorong. Dia beralasan, lahan yang selama ini dijadikan akses jalan oleh warga adalah milik pribadi. Lahan seluas 4,5 x 8 meter itu, akan dibangun rumah untuk anaknya.

"Tanah ini hak milik dari waris dan saya membangun rumah ini untuk anak. Wong saya yang punya pekarangan di sini, jadi saya bangun," terangnya kepada wartawan.

Ditegaskannya, tanah miliknya itu tidak dibangun sepenuhnya. Dari 4,5 x 8 meter, telah disisakan 50 cm untuk akses jalan. Dia berharap, tetangga sebelahnya juga memberikan 50 cm sehingga ada akses masuk selebar 1 meter.

"Saya sudah memberi akses jalan 50 cm dari jarak bangunan saya. Mestinya yang 50 cm diberikan oleh tetangga saya dan becak itu masuk. Sebagai pendidik saya tahu aturan dan tanah ini sudah bersertifikat. Harapannya tetangga memberikan 50 cm, sehingga kalau ada 50 cm sama 50 cm maka ada 1 meter," sambungnya.

Sementara itu, pemerintah desa setempat melalui Kadus I Desa Larangan Ropi'i mengaku sudah memediasi antara warga yang terisolasi dengan pemilik bangunan. Namun hingga hari ini belum ada titik temu.

"Sudah mendatangi kedua belah pihak, namun sampai saat ini belum ada solusinya," ucapnya. (ded/ima)

Baca Juga:

  • Novia Widyasari yang Diduga Bunuh Diri Sudah 2 Kali Dihamili Polisi Pacarnya dan 2 Kali Diaborsi.
  • Prihatin Wali Kota Portal Alun-alun, Warga: Kita Ingin Tak Ada Egoisme dan Arogansi Kekuasaan.

Berita Terbaru