Akses Susah atau Hydrannya yang Gak Ada?

Oleh: Zuhlifar Arrisandy

KEBAKARAN 13 kapal-kapal milik nelayan yang sedang diperbaiki di docking di Jalan Bali Kompleks Pelabuhan Tegal, Rabu (17/11) lalu, benar-benar menampar wajah sejumlah pejabat di Kota Tegal. Bagaimana tidak, hanya sekitar 12 jam lebih, 13 kapal nelayan luluh lantak dilalap si jago merah.

Jika rata-rata setiap kapal seharga Rp3 miliar, jumlah kerugian yang ditanggung pengusaha kapal bisa sudah bisa dihitung mencapai Rp36 miliar. Itu belum dihitung dengan biaya tetek bengek lainnya yang dipersiapkan satu unit kapal sebelum melaut dan saat lego jangkar.

Dari pihak pemilik yang merupakan anggota Paguyuban Nelayan Kota Tegal (PNKT) mengklaim kerugian dari hitungan harga kapal bisa saja lebih dari Rp51 miliar. Karena sebagian besar kapal yang jadi abu itu merupakan kapal berbobot 30 grosston (GT) lebih.

Anda bisa membayangkan sendiri bagaimana besarnya kobaran api yang menjilat-jilat saat itu. Kok bisa? Dengan bobot 30 GT, kapal-kapal itu bisa banyak membawa muatan dan perbekalan, termasuk bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, freon, dan lain-lainnya.

Yang menyedihkan saat kebakaran, kapal-kapal yang bearad di tempat kejadian perkara (TKP) sama sekali tidak bisa bergerak. Kok bisa? Ya bisa, karena alur parkir kapal sangat mepet-mepet dan sangat berdekatan.

Faktor inipun dibenarkan Kapolres Tegal, AKBP Rahmad Hidayat menjadi salah satu penyebab api susah dipadamkan. Sudah begitu, akses masuk menuju docking di area Pelabuhan Tegal sangat sempit.

Konon, area parkir di kompleks Pelabuhan Tegal hanya bisa menampung 400 kapal. Padahal kapal-kapal yang dimiliki warga dan pengusaha ikan yang biasa menepi ada 1.000 kapal.

Armada pemadam kebakaran (damkar) yang datang dari Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Brebes pun tak mudah untuk bermanuver. Pemadaman semakin terkendala dengan tidak adanya hydran di sekitar lokasi.

Jadilah raungan rotator armada damkar pagi hingga siang itu, irama yang kemudian familiar di telinga warga Kota Tegal. Sekitar delapan armada bolak-balik entah berapa putaran menyusuri jalan protokol di Kota Bahari. Cepat padam? Tidak juga.

Tak salah juga jika polisi kemudian mencurigai kemungkinan adanya standard operational procedur (SOP) yang dikerjakan saat perbaikan kapal. Penyelidikan asal sumber api inipun tak main-main dengan mendatangkan Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jawa Tengah.

Tentunya dengan peraliatan yang lebih lengkap dan canggih diharapkan bisa terang benderang mengungkap asal muasal kebarakaran itu. Apalagi kebakaran kapal itu tidak hanya terjadi di Tegal. Satu yang pasti, semua berharap kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi.

Gayung pun bersambut. Kebakaran dahsyat itu membuat prihatin Wakil Ketua DPRD Kota Tegal Habib Ali Zaenal Abidin. Dia langsung meminta ada mobil damkar yang stanby di sekitar kawasan pelabuhan.

Urgensinya satu. Untuk mengantisipasi kejadian serupa di waktu mendatang. Habib juga menyoal ketiadaan hydran air, dengan mendesak segera didirikan hydran di beberapa titik.

Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono pun mengamini. Politisi Partai Demokrat itu berharap semuanya belajar dari kejadian itu. Imbasnya, Orang Nomor Satu di Kota Tegal itu minta akses masuk, baik di kawasan industri maupun home industri perumahan-perumahan, supaya memperhatikan akses mobil damkar.

Berarti akses yang ada saat ini masih amburadul ya? Wallohu’alam bisowab. Sama seperti permintaan Dedy Yon agar kapal yang bersandar di Pelabuhan Tegal dijaga dan dilengkapi alat pemadaman api ringan (APAR). (zul)

Baca Juga:

  • Arteria Dahlan Pernah Protes karena Tidak Dipanggil Yang Terhormat, Netizen: Saking Angkuhnya.
  • Arteria Dahlan Ternyata Lulusan Tanah Sunda, Prof Romli Atmasasmita: Rasa Malumu di Mana?.

Berita Terbaru