Angka Covid-19 Kota Tegal Bertambah, Ganjar: Kerumunan dan Izin Keramaian Tolong Dikurangi Dulu

SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memastikan akan terus memantau daerah yang menunjukkan perkembangan kasus Covid-19.

"Kita pantau terus sejak kemarin termasuk beberapa daerah yang kemarin muncul seperti di Kota Tegal. Kota Tegal setelah dites nambah, kita minta untuk beberapa regulasi diperbaiki. Misalnya kerumunan dan izin keramaian tolong dikurangi dulu," ungkapnya dalam rilis yang diterima radartegal.com, Senin (10/8).

Selain Kota Tegal, pihaknya juga menyinggung Kabupaten Brebes yang belum optimal dalam distribusi testing dan tracing. Menurut Ganjar, distribusi tes di Kabupaten Brebes masih rendah.

"Ada, kemarin saya lihat Brebes. Brebes paling rendah. Makanya Brebes akan kita dampingi, akan kita bantu. Apa persoalannya agar nanti kita bisa serius untuk melakukan tracing sehingga kalau kita lihat Brebes itu kan penduduknya banyak. Maksud saya kalau penduduknya banyak (lakukan) seperti Kota Semarang yang paling agresif dan sudah terlampaui banyak sekali, itu jauh lebih baik," jelasnya

Pihaknya mendorong puskesmas dijadikan basis dalam melakukan pengamatan (surveillance) sebagai upaya pengoptimalan testing Covid-19 di wilayah Jawa Tengah. Itu dilakukan mengingat ada beberapa daerah yang testing Covid-19-nya masih rendah dan belum optimal.

Menurut Ganjar, keberadaan puskesmas bisa menjadi sangat penting dalam hal pengoptimalan tes Covid-19. Salah satu alasannya adalah keberadaan puskesmas yang tersebar sampai ke wilayah terkecil. Untuk menjadikan basis maka diperlukan penguatan sumber daya manusia di puskesmas. Hal itu juga yang berusaha diupayakan oleh Satgas Covid-19 Jawa Tengah.

"Masih fluktuatif, tertinggi 3700-an, karena belum optimal maka kemarin saya minta untuk cari alat dan reagen yang kompatibel, termasuk kita minta puskesmas dijadikan basis untuk melakukan surveilance sehingga bisa membantu dan distribusi setiap kabupaten/kota agar bisa dioptimalkan," kata Ganjar usai Rapat Koordinasi Penanggulangan Covid-19 di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (10/8).

Belum optimalnya distribusi tes di setiap kabupaten/kota disebabkan oleh beberapa hal. Mulai dari beberapa reagen yang diberikan ternyata tidak kompatibel dengan alatnya. Terkait hal ini, Ganjar sudah meminta dinas kesehatan dan Satgas Covid-19 untuk mencari alat yang kompatibel secepatnya.

"Ada banyak, yang alat habis pakai bermasalah. Kemarin ada bantuan ternyata tidak kompatibel. Sekarang musti fitting, sehingga ada bantuan peralatan habis pakai itu kira-kira ini pas tidak dengan mesinnya. Maka saya minta untuk identifikasi agar tidak terjadi false. Kalau terjadi false negatif bahaya, kalau false positif orangnya kaget," jelas Ganjar.

Pengoptimalan menjadi penting sehingga target 4.991 tes perhari dapat terdistribusi dengan baik dan juga bisa diketahui capaian masing-masing kabupaten/kota perharinya.

"Insya Allah dalam satu dua hari ini teman-teman akan segera bekerja untuk mencari itu," lanjutnya.

Terkait klaster baru di Pati yang berasal dari salah satu pondok pesantren, Ganjar menegaskan sudah melakukan pendampingan dan pengecekan. Hal itu juga berlaku di beberapa daerah lain yang testingnya belum optimal.

"Kita minta korwilnya mendampingi," ucapnya. (*/ima)

Baca Juga:

  • Wakil Sekjen PA 212 Novel Bamukmin Tuntut Panglima TNI dan KSAD Tayangkan Film G30S PKI di Semua TV.
  • Balas Sindiran KPK, ICW: Ada Pihak yang Mengaku Pejuang Padahal Sejatinya Merupakan Musuh.

Berita Terkait

Berita Terbaru