Berdoa Pakai Bahasa Indonesia, Pengurus MUI: Jenderal Dudung Tak Ada Indikasi Menistakan Sesuatu

JAKARTA - KSAD Jenderal TNI Dudung Abdurachman kembali menjadi sorotan publik. Ini setelah pernyataannya tentang cara dia berdoa sehari-hari.

Dalam sebuah video yang diunggah di Youtube Deddy Corbuzier, Dudung mengatakan dirinya berdoa dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Menanggapi pernyataan itu, Pengurus Harian MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat, Muhammad Makmun Rasyid menilai maksud dan tujuan dari ucapan Dudung itu baik.

"Karena beliau militer jadi selalu bicara dengan penuh ketegasan. Jika kita melihat video utuhnya dan tidak fokus pada sepenggal, maka maksud dan tujuan dari Jenderal Dudung tidak ada indikasi menistakan sesuatu. Kita bebas berdoa dengan menggunakan bahasa apa saja. Tak terkecuali Bahasa Indonesia," kata Makmun Rasyid kepada FIN di Jakarta, Jumat (3/12).

Dia memahami awal muasal kontroversi tersebut berasal dari penggalan kalimat bahwa 'ya Tuhan pakai Bahasa Indonesia saja. Karena Tuhan kita bukan orang Arab.

"Pernyataan ini harus kita sikapi secara bijaksana. Jangan ditafsirkan secara tekstual. Karena memang Tuhan kita tidak bisa diidentifikasi, termasuk orang. Juga tidak dibatasi oleh sesuatu. Jadi pernyataan Jenderal Dudung tidak salah. Justru beliau menegaskan kita bebas berdoa dengan bahasa apa saja yang kita bisa. Tujuannya agar kita tahu maknanya," tambah Makmun.

Dia berharap ke depan Dudung memiliki pendamping yang mengerti bahasa-bahasa baku dan sakral dalam aspek keagamaan.

"Saya melihat Jenderal Dudung ini sangat menyukai juga berbicara aspek keagamaan. Jadi kedepannya untuk menghindari polemik, beliau harus memiliki pendamping yang fungsinya memberikan wejangan sebelum berbicara soal aspek-aspek keagamaan. Sebab ada beberapa aspek yang harus dihindari guna mencegah polemik berikutnya," tuturnya.

Selain itu, Makmun menilai Indonesia membutuhkan sosok seperti Dudung. "Saya menilai, kita butuh sosok seperti Jenderal Dudung yang memiliki ketegasan menjaga NKRI dan keluhuran agama dari orang-orang yang membawa agama penuh kemarahan. Dia selalu mengingatkan masyarakat untuk menjadikan ulama-ulama moderat sebagai teladan agar kehidupan beragama dan bernegara menjadi baik," pungkas Makmun. (rh/zul)

Baca Juga:

  • Pemkab Tegal Kecolongan, Ditutup 2017 Ternyata di Eks Lokalisasi Peleman Masih Ada yang Terima Tamu.
  • Terduga Pembunuh Wanita Muda di Peleman Disebut Serahkan Diri ke Polisi.

Berita Terkait

Berita Terbaru