Ekonomi
Share this on:

2018, Pendapatan Garuda Indonesia Naik

  • 2018, Pendapatan Garuda Indonesia Naik
  • 2018, Pendapatan Garuda Indonesia Naik

JAKARTA - Dalam debat terakahir Pilpres 2019 pada Sabtu (13/4) malam, Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sempat menyinggung kondisi BUMN sedang tidak sehat. Salah satu BUMN itu adalah maskapai Garuda yang bisa dibilang bangkrut.

Benarkah yang disampaikan Prabowo Subianto perusahaan pelat merah itu dalam kondisi mengenaskan? Mengutip dari laporan keuangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (2/4) lalu, disebutkan maskapai Garuda mencatatkan kenaikan pendapatan usaha sebesar 4,373 miliar dolar AS di 2018, dibandingkan tahun 2017, 4,177 miliar dolar AS.

Berkenaan dengan kenaikan pendapatan, Garuda mencatatkan keuntungan 809.846 dolar AS atau setara Rp11,5 miliar sepanjang 2018. Dari data tersebut kinerja keuangan Garuda Indonesia menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun 2017 yang rugi 216,582 juta dolar AS atau setara Rp3,7 triliun.

Penurunan rupiah juga membuat Garuda memperoleh keuntungan selisih kurs sebesar 28,073 juta dolar AS. Sejalan dengan laba dan pendapatan, aset Garuda Indonesia juga meningkat dari 3,763 miliar dolar AS menjadi 4,371 miliar. Minggu (14/4), tercatat saham emiten berkode GIAA ditransaksikan di harga Rp494 atau meningkat 0,41 persen alias 2 poin.

Selain itu, saham Garuda juga sejak pertengahan Januari 2019 mengalami kenaikan yang cukup signifikan, dari sebelumnya pada periode 2016-2018 saham di angka Rp200-300. Bahkan sahama GIAA juga pernah anjlok pada periode Oktober 2015. Hasil penelusuran Fajar Indonesia Network (FIN), Garuda Indonesia memang sempat mencatkan kerugian 127,97 juta dolar AS atau setara Rp1,86 triliun dala kurun waktu Januari-September 2018.

Kondisi tersebut disebabkan kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah pada periode Januari-September 2018. Avtur, bahan bakar pesawat menyumbang sekitar 37-40 persen terhadap total biaya di maskapai. Sementara peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengatakan, bahwa Garuda Indonesia Grup sedang mengalami kenaikan laba dan pendapatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun 2017.

"Kenaikan ini membuat kinerja saham garuda meningkat. Investor melihat saham milik Garuda berpotensi meningkat harganya karena perlahan Garuda Indonesia grup menunjukkan perbaikan, dapat dilihat dari kenaikan pendapatan dan laba," ujar Huda kepada FIN, Minggu (14/4). (fin)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Investor Asing Tunda Berinvestasi di Indonesia

Investor Asing Tunda Berinvestasi di Indonesia

Aksi massa 21 dan 22 Mei yang berujung ricuh membuat investor asing menunda menanamkan modalnya di Indonesia.


Mudik Lewat Tol, Saldo E-Toll Maksimal Rp2 Juta

Mudik Lewat Tol, Saldo E-Toll Maksimal Rp2 Juta

Bank Indonesia bekerjasama dengan Perbankan dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) menyediakan lebih dari 100 layanan gerak Uang Elektronik (UE) di sejumlah rest area


BEI Siap Putuskan Kejanggalan Laporan Keuangan Garuda

BEI Siap Putuskan Kejanggalan Laporan Keuangan Garuda

Sejumlah pihak melakukan penelusaran terkait ketidakberesan laporan keuangan Garuda Indonesia.


Kapasitas Kursi Kereta Lebaran Ditambah

Kapasitas Kursi Kereta Lebaran Ditambah

Menyambut masa angkut mudik lebaran 2019, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan total 78 kereta api dengan kapasitas 957.282 penumpang.


Pemerintah Dianggap Belum Mampu Kelola Utang

Pemerintah Dianggap Belum Mampu Kelola Utang

Utang Luar Negeri Indonesia (ULNI) pada kuartal I sebesar 387,6 miliar dolar AS atau setara Rp5.542,6 triliun.


Jangan Merakit Terus, Saatnya Industri Elektronik Produksi Sendiri

Jangan Merakit Terus, Saatnya Industri Elektronik Produksi Sendiri

Investasi elektronika dan telematika di Indonesia mulai mengepakan sayapnya, meski belum sebesar industri manufaktur.


Pariwisata Lebih Laku Ketimbang Minyak Sawit

Pariwisata Lebih Laku Ketimbang Minyak Sawit

Menteri Pariwisata Arief Yahya memproyeksikan devisa pariwisata Indonesia mencapai USD 18 miliar atau jauh melampaui minyak sawit (CPO).


Defisit April Lalu Paling Buruk di Indonesia

Defisit April Lalu Paling Buruk di Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan sepanjang bulan April 2019 defisit sebesar 2,5 miliar dolar AS.


Indonesia Waspadai Kelanjutan Perang Dagang AS dan China

Indonesia Waspadai Kelanjutan Perang Dagang AS dan China

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani memperkirakan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China akan berkelanjutan.


Pendapatan dan Belanja Biang Keladi Defisit BPJS Kesehatan

Pendapatan dan Belanja Biang Keladi Defisit BPJS Kesehatan

Sejak tahun pertama, di 2014 sampai saat ini penyakit defisit BPJS Kesehatan tidak kunjung sembuh. Bahkan terus semakin parah.



Berita Hari Ini

Video

Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!