Ekonomi
Share this on:

Bea Impor Normal, Pelaku Industri Sawit Optimistis

  • Bea Impor Normal, Pelaku Industri Sawit Optimistis
  • Bea Impor Normal, Pelaku Industri Sawit Optimistis

JAKARTA - Industri kelapa sawit domestik menghadapi tantangan berat. Itu menyusul pengenaan bea impor cukup tinggi negara tujuan ekspor. Namun, hal itu tidak membuat pelaku usaha patah arang. "Perang tarif hal normal. Kami tetap optimistis," tutur Direktur Utama Dharma Satya Nusantara Andrianto Oetomo, di Jakarta, kemarin.

Sejumlah tantangan ekspor tengah membelit industri sawit nasional. Misalnya India, sejak tahun lalu menaikkan tarif impor CPO dua kali lipat dari 7,5 persen menjadi 15 persen. Dan olahan dari 15 persen menjadi 25 persen. Bahkan tarif itu masih akan dinaikan lagi menjadi 44 persen dan 54 persen. "Palm oil masih kompetitif," tukas Andrianto.

Tahun ini, perusahaan berencana membangun satu pabrik kelapa sawit (PKS) baru di Kalimantan Barat (Kalbar). Pabrik baru itu berkapasitas 30 ton per jam. Dengan pengoperasian pabrik baru itu, total kapasitas PKS milik perseroan mencapai 480 ton per jam. Perseroan juga tengah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa di Kalimantan Timur (Kaltim).

Produksi CPO perusahaan tahun lalu meningkat 29 persen menjadi 403,6 ribu ton. Dengan harga jual rata-rata minyak sawit sebesar Rp8,1 juta per ton. Naik sekitar 8 persen dibandingkan 2016.

Perseroan memiliki 13 kebun dan 7 pabrik kelapa sawit dengan total kapasitas 450 ton TBS per jam. Kemudian 1 kernel crushing plant memproduksi Palm Kernel Oil (PKO) dengan kapasitas 200 ton per hari. "Segmen usaha kelapa sawit berkontribusi 83 persen," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono menambahkan saat ini dukungan pemerintah terhadap industri kelapa sawit Indonesia sangat besar. "Karena itu, kami akan terus bekerja sama dengan pemerintah dalam memajukan sektor kelapa sawit nasional," ujar Joko.

Kerja sama atau partnership dengan pemerintah perlu dilakukan mengingat tujuan dan tantangan ke depan. Partnership dengan pemerintah tidak sekadar perlu dilakukan. Pertama untuk memperkuat pasar ekspor kelapa sawit. Pasar ekspor harus terus diperluas dan diversifikasi.

"Ketika bicara perluasan pasar dan penanganan hambatan pasar pasti harus G to G, maka perlu kerja sama dengan pemerintah," tegasnya. (dai/jpg)

Berita Sebelumnya

Perluas Lahan Produksi Kopi
Perluas Lahan Produksi Kopi

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Pajak PT Timah Melonjak 120 Persen

Pajak PT Timah Melonjak 120 Persen

PT Timah Tbk, selaku anggota Holding BUMN Industri Pertambangan memberikan kontribusi positif untuk penerimaan negara.


Cabut Bebas Bea Masuk Produk E-Commerce

Cabut Bebas Bea Masuk Produk E-Commerce

Pemerintah akan mengembangkan pusat logistik berikat (PLB) e-commerce distribution center.


Tarif Impor Garam Diusulkan 20 Persen

Tarif Impor Garam Diusulkan 20 Persen

Impor garam untuk mengatasi kelangkaan berpotensi merugikan petambak.


Target Pertahankan Market Share

Target Pertahankan Market Share

Stagnasi masih membayangi laju pertumbuhan industri otomotif pada 2018.


Potensi Industri Keuangan Syariah Tinggi

Potensi Industri Keuangan Syariah Tinggi

Pertumbuhan industri keuangan syariah pada 2017 cukup tinggi, yakni mencapai 27 persen menjadi Rp1.133,23 triliun.


Ditopang Data BPS, Bulog Optimistis

Ditopang Data BPS, Bulog Optimistis

Menghadapi bulan puasa, Perum Bulog menjamin ketersediaan pangan, serta stabilisasi harga.


Kadin Tuntut Stabilitas Rupiah

Kadin Tuntut Stabilitas Rupiah

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia telah mengantisipasi koreksi rupiah. Karena itu, kalangan pengusaha telah bisa menyesuaikan.


Gandeng Pelaku e-Commerse dan UMKM

Gandeng Pelaku e-Commerse dan UMKM

Beragam terobosan terus dilakukan perusahaan ekspedisi, SiCepat Ekspres dalam memberikan pelayanan.


Pemerintah Nekat Impor Daging Kerbau India

Pemerintah Nekat Impor Daging Kerbau India

Pemerintah melalui kementerian Perdagangan (Kemendag) positif mengimpor daging kerbau.


Bulog Tunggu Instruksi Pemerintah

Bulog Tunggu Instruksi Pemerintah

Di tengah kontoversi impor beras di tengah-tengah panen raya nasional, Perum Bulog rupanya tak mau melangkah lebih jauh.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!