Ekonomi
Share this on:

Deindustrialisasi Terlalu Cepat Terjadi di Indonesia

  • Deindustrialisasi Terlalu Cepat Terjadi di Indonesia
  • Deindustrialisasi Terlalu Cepat Terjadi di Indonesia

Foto: okezone.com

JAKARTA - Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto dalam debat kelima, Sabtu (13/4) malam, menyebutkan Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi. Hal ini karena banyaknya produk impor yang masuk ke dalam negeri.

Dilansir dari data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan ekspor Indonesia sepanjang 2018 mencapai 180,06 miliar dolar AS. Sedangkan impor tercatat sebesar 8,57 miliar dolar AS. Pernyataan ini dibenarkan oleh peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Izzudin Al Farras kepada Fajar Indonesia Network, Minggu (14/4).

Farras memaparkan bahwa deindustrialisasi yang terjadi di Indonesia lebih cepat dibanding negara ASEAN lainnya. Meskipun deindustrialisasi dan transformasi struktural ekonomi merupakan fenomena alamiah dan terjadi secara global.

"Namun demikian deindustrualisais di Indonesia terjadi cepat (deindustrialisasi dini). Dalam 10 tahun terakhir, Indonesia mengalami penurunan porsi manufaktur terhadap Pajak domestik Bruto (PDB) sebesar 7 persen, yang mana negara sebaya (peers) di ASEAN (Thailand dan Malaysia) tidak lebih dari 4 persen," tutur Izzudin.

Setidaknya, kata Izuudin, ada tiga hal sebagai akibat dari menurunnya porsi industri manufaktur, pertama, turunnya penerimaan perpajakan, padahal manufaktur menjadi sektor tertinggi (30 persen) dalam menyumbang pajak. Kedua, daya serap tenaga kerja oleh sektor manufaktur semakin berkurang, dan ketiga, secara agregat, pertumbuhan PDB tidak dapat terdongkrak naik secara cepat karena kontribusi maupun pertumbuhan manufaktur turun dan tumbuh semakin lamban.

"Deindustrialisasi diperparah melalui perubahan pola investasi asing (FDI) yang cenderung berada di sektor tersier dibandingkan sekunder," kata Izzudin.

Menurut Izzudin, pengembangan industri mutlak diperlukan oleh Indonesia. Indonesia harus menyiapkan industrinya untuk menghadapi kebutuhan dalam negeri, yakni di antaranya berupa penciptaan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

"Serta menjawab tantangan revolusi industri 4.0, lolos dari jebakan negara berpendapatan menengah, dan memetik bonus demografi yang diproyeksikan terjadi antara tahun 2025-2035," ujar Izzudin.

Lebih daripada itu semua, lanjut Izuudin, pengembangan industri dibutuhkan oleh Indonesia untuk memutus rantai ketergantungan pasar dunia di mana Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya dibuat sedemikian rupa sehingga menggantungkan nasib ekonominya melalui ekspor komoditas atau barang mentah.

"Dengan memutus rantai ketergantungan tersebut melalui pembangunan industri yang tangguh, Indonesia akan mampu menjadi negara yang mampu mandiri dan berdaulat secara ekonomi," ucap Izzudin.

Mengutip pernyataan Bung Karno, Izuudin mengatakan, bahwa founding father Indonesia, Ir. Soekarno, menggambarkan praktek relasi pembagian kerja di dunia internasional berupa ketergantungan antar negara terjajah (negara berkembang, termasuk Indonesia) dan negara menjajah (negara maju) tersebut dengan istilah nekolim (neokolonialisme dan imperialisme), yakni usaha yg memastikan adanya relasi di dunia internasional yang menjadikan negara-negara terjajah sebagai penyedia bahan mentah dan sebagai pasar untuk barang-barang yg memiliki nilai tambah.

Sementara Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar menepis pernyataan Prabowo. Jika ada yang bilang Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi karena tidak mengerti tentang industri. Kata dia, gejala dari deindustrialisasi adalah kontribusi industri terhadap PDB sangat rendah yang juga bisa diartikan menurun drastis.

"Ini sekarang kan masih cukup tinggi. Memang secara persentase agak turun, tetapi kan ekonomi sudah tumbuh, investasi jalan," ujar Haris.

Selain itu, indikator deindusutrialisasi bisa dilihat dari sisi tenaga kerja yang mengalami penurun. Kata dia, Indonesia setiap tahun masih membutuhkan tenaga kerja yang besar. "Dengan dua hal itu, tidak terbukti deindustrialisasi," kata dia.

Prabowo Subianto sebelumnya mengatakan Indonesia mengalami kondisi deindustrialisasi. Hal ini berbeda dengan negara lain. Melihat kondisi itu, Prabowo pesimistis bangsa Indonesia akan sejahtera.

"Terjadi deindustrialisasi, kalau negara lain industrialisasi, kita justru deindustrialisasi. Kita sekarang enggak produksi apa-apa. Kita hanya bisa menerima bahan produksi dari bangsa-bangsa lain. Ini keliru dan harus kita ubah," ujar Prabowo.(din/fin)

Berita Sebelumnya

Pemudik Beralih ke Jalur Darat
Pemudik Beralih ke Jalur Darat

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Tiga Maskapai Asing Siap Bersaing di Indonesia

Tiga Maskapai Asing Siap Bersaing di Indonesia

Tidak lama pemerintah mengeluarkan wacana mengundang maskapai asing untuk masuk ke Indonesia, ternyata sudah ada tiga maskapai asing yang siap bersaing.


Polemik Impor Ikan Asin

Polemik Impor Ikan Asin

Indonesia dikenal sebagai negara maritim karena dikelilingi oleh perairan yang sangat luas dan pulau yang cukup banyak.


Indonesia Zona Aman Perang Dagang AS-Tiongkok

Indonesia Zona Aman Perang Dagang AS-Tiongkok

Perang dagang Amerika dan Tiongkok tak terlalu berimbas pada iklim investasi Indonesia. Malah bisa dibilang surplus.


Utang Luar Negeri Swasta RI Berpotensi Picu Krismon 1998

Utang Luar Negeri Swasta RI Berpotensi Picu Krismon 1998

Bank Indonesia (BI) meyebutkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia untuk swasta dan BUMN tumbuh sebesar 1999,6 miliar dolar AS atau setara Rp2.834,2 triliun.


Perang Dagang, Indonesia Sulit Raup Untung

Perang Dagang, Indonesia Sulit Raup Untung

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China tidak selamanya merugikan sejumlah negara.


Pilpres Ulang, Ekonomi Indonesia Rugi Dua Kali Lipat

Pilpres Ulang, Ekonomi Indonesia Rugi Dua Kali Lipat

Tuntutan Tim Hukum Prabowo-Sandi yang menginginkan pemilihan presiden (pilpres) ulang mendapat penolakan dari para pelaku usaha.


Pemerintah Evaluasi Penumpang Pesawat Anjlok

Pemerintah Evaluasi Penumpang Pesawat Anjlok

Polemik tiket mahal telah terjadi pada akhir 2018 lalu.


Gagas Marketplace Paket Umrah

Gagas Marketplace Paket Umrah

Tingginya pengguna marketplace seperti Tokopedia atau Bukalapak, diadopsi oleh Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI).


Kiamat Neraca Perdagangan, Target Pertumbuhan Meleset

Kiamat Neraca Perdagangan, Target Pertumbuhan Meleset

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China semakin memanas. Sejumlah negara akan kena dampak. Termasuk Indonesia terhadap kegiatan ekonomi dalam negeri


Makin Strategis, Produk Indonesia Diberi Diskon

Makin Strategis, Produk Indonesia Diberi Diskon

Perdagangan Indonesia dan Chili makin strategis. Produk Indonesia diberi diskon tarif.



Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!