Ekonomi
Share this on:

DP Kendaraan Turun Tak Mampu Dongkrak Daya Beli Masyarakat

  • DP Kendaraan Turun Tak Mampu Dongkrak Daya Beli Masyarakat
  • DP Kendaraan Turun Tak Mampu Dongkrak Daya Beli Masyarakat

JAKARTA - Dengan diturunkannya uang muka atau down payment (DP) kendaraan bermotor dan properti mulai 2 Desember 2019, dianggap tak berpengaruh pada peningkatan daya beli masyarakat.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah, memproyeksi tidak akan ada dampak sama sekali pada kebijakan yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) itu. Sebab, bunga kredit masih tetap tinggi.

"Daya beli masyarakat akan tetap, relatif tetap karena bunga kredit masih tetap tinggi," ujar Pieter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (20/9).

Saran dia, untuk meningkatkan daya beli baik terhadap kendaraan maupun properti perlu menurunkan suku bunga kredit. Sehingga jumlah cicilannya menjadi lebih rendah.

Menurut Pieter, kebijakan menurunkan uang muka hanya untuk melonggarkan pembelian kredit, bukan untuk meningkatkan daya beli.

"Kebijakan (penurunan DP KPR dan kendaraan) memang bukan untuk meningkatkan daya beli. Tapi melonggarkan pembelian kredit dengan DP yang lebih rendah," jelas dia.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menilai kebijakan penurunan ini tidak akan memanjang.

"Secara umum akan meningkatkan konsumsi kendaraan bermotor dan properti, namun dampaknya untuk jangka pendek," ujar Huda kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Jumat (20/9).

Lanjut Huda, kebijakan tersebut hanya menguntungkan produsen kendaraan bermotor dan pengusaha properti.

"Seharusnya juga didorong dari kenaikan pendapatan riil masyarakat untuk meningkatkan permintaan kedua barang tersebut," kata Huda.

Sementara, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution meyakini pelonggaran DP KPR dan kendaraan bermotor akan mendongkrak daya beli masyarakat.

"Besarnya tanya BI saja, intinya perlu ada kemudahan fasilitas supaya daya beli, kemampuan, affordability-nya naik. Sebenarnya bukan perumahan saja, kita juga perlu mendorong yang lain," kata Darmin di Jakarta, Jumat (20/9).

Kenapa demikian? Karena menurut dia, penurunan DP Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan kendaraan bermotor akan memicu adanya keinginan masyarakat untuk mengajukan kredit.

"Kalau kita tidak turunkan, ya kita terlalu tinggi. Tapi dengan begitu sekaligus juga mendorong, meningkatkan kemampuan masyarakat untuk meminjam, baik kemampuan untuk berusaha secara umum maupun perumahan," tutur dia.

Sebelumnya, BI memberikan kelonggaran bagi bank dan multifinance untuk mengatur besaran Loan ro Value ( LTV) dan Financing to Value (LTV) untuk kredit properti dan pembiayaan properti fasilitas rumah pertama untuk semua tipe.

"Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kesempatan kepada masyarakat, terutama first time buyer untuk memenuhi kebutuhan rumah pertama melalui KPR," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo. (din/fin/ima)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Investasi di Indonesia Tak Seksi Lagi?

Investasi di Indonesia Tak Seksi Lagi?

Dua perusahaan raksasa minyak asal Amerika Serikat (AS), yakni Exxon Mobil dan Chevron dikabarkan bakal hengkang dari Indonesia.


Ekonomi Global Diproyeksikan Turun, Indonesia Terjaga di 5 Persen

Ekonomi Global Diproyeksikan Turun, Indonesia Terjaga di 5 Persen

Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global turun dari 3,5 persen menjadi 3 persen pada 2019.


Daya Saing Anjlok Akibat SDM Rendah

Daya Saing Anjlok Akibat SDM Rendah

Menurunnya daya saing Indonesia, berdasarkan sebuah lembaga survei internasional, World Economic Forum (WEF), di mana Indonesia dari posisi 45 menjadi 50.


Menteri Keuangan Nilai Teror Tak Pengaruhi Ekonomi Indonesia

Menteri Keuangan Nilai Teror Tak Pengaruhi Ekonomi Indonesia

Sejumlah ekonom sebagian besar menyebutkan insiden penusukan terhadap Menko Polhukam, Wiranto, bakal memengaruhi perekonomian di Indonesia.Sejumlah ekonom sebag


Peringkat Daya Saing Indonesia Turun ke Posisi 50

Peringkat Daya Saing Indonesia Turun ke Posisi 50

Peringkat daya saing Indonesia menurun, dari 45 menjadi 50.


NTM Tak Jalan, Impor Baja dan Tekstil Seolah Tak Terbendung

NTM Tak Jalan, Impor Baja dan Tekstil Seolah Tak Terbendung

Kebijakan Non Tariff Measuser (NTM), sepertinya tak berjalan dengan efektif. Karena impor baja dan tekstil seolah tak terbendung di dalam negeri.


Surutnya Keyakinan Konsumen Tak Menekan Daya Beli Masyarakat

Surutnya Keyakinan Konsumen Tak Menekan Daya Beli Masyarakat

Di tengah kondisi global mengalami pelemahan, perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat (AS) belum reda,


Ekonomi Global Melambat, Ekspor Karet Anjlok

Ekonomi Global Melambat, Ekspor Karet Anjlok

Di tengah kondisi perekonomian global yang melambat, dan ditambah perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat yang tak kunjung mereda


Deflasi September 2019 0,27 Persen, Faktor Harga Komoditas Turun

Deflasi September 2019 0,27 Persen, Faktor Harga Komoditas Turun

Anggapan September 2019 mengalami deflasi 0,27 persen disebabkan penurunan daya beli adalah tidak tepat.


Status Ojol Jadi Angkutan Umum Tak Mungkin Terjadi

Status Ojol Jadi Angkutan Umum Tak Mungkin Terjadi

Desakan pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) agar pemerintah memberi payung hukum terhadap ojol



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!