Ekonomi
Share this on:

Ekonomi Melambat, Minat Investor Asing Masih Tinggi

  • Ekonomi Melambat, Minat Investor Asing Masih Tinggi
  • Ekonomi Melambat, Minat Investor Asing Masih Tinggi

JAKARTA - Di tengah perlambatan ekonomi global, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat minat investor asing berinvestasi di pasar saham domestik masih cukup tinggi.

Sampai dengan 26 Juni 2019, investor asing melakukan aksi beli bersih sebesar Rp59,72 triliun. Sedangkan di pasar Surat Berharga Negara (SBN) net buy (beli bersih) Rp 90,99 triliun.

"Sementara itu, bila dilihat dalam sebulan terakhir, aksi beli bersih investor asing di pasar reguler tercatat sebesar Rp2,89 triliun dan aksi jual sebesar Rp56,17 miliar," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso di Jakarta, kemarin (27/6).

Diakui mentabilkan ekonomi dan sektor jasa keuangan Indonesia tidaklah mudah karena adanya dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS).

Akibatnya, kata dia, lembaga global seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen.

Sementara IMF, menurunkan proyeksi dari 3,5 persen menjadi 3,3 persen.

Meski demikian, aktivitas keuangan di pasar modal tercatat cukup baik sampai dengan 31 Mei 2019 sebesar Rp54,76 triliun dari 53 penawaran umum.

Sementara PT Bank Tabungan Negara (Persero) menyebutkan, obligasi Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) III tahap II meraih minat cukup besar dari investor sebesar Rp4,11 triliun. Perolehan itu lebih tinggi dari target meraup pendanaan sebesar Rp3,14 triliun.

"Meskipun kondisi pasar modal masih bergejolak selepas pemilu presiden dan kondisi ekonomi global terdampak perang dagang, namun minat dari para investor terhadap obligasi BTN cukup besar karena kinerja kami positif di mata investor," kata Direktur Utama BTN Maryono lewat keterangan tertulisnya kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (27/6).

"Faktor yang membuat obligasi BTN cukup menarik adalah tingkat bunga yang ditawarkan, karena saat ini kecenderungan yield SUN bertenor 1 tahun, 3 tahun dan 5 tahun yang menjadi benchmark obligasi PUB III BTN tahap II ini melandai dalam kurun 1 bulan ini," tambah Maryono.

Terpisah, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto mengatakan, saat ini memang pasar saham Indonesia cenderung menarik karena adanya tren bunga turun di global sehingga perlu alternatif investasi ke saham.

"Selain itu, ketidakpastian politik semakin mereda dan rating investasi Indonesia juga meningkat. Akhirnya pasar saham jadi pilihan oleh investor," kata Eko kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (27/6).

Eko menambahkan, terkait SBN karena yield atau imbal hasil lebih menarik Indonesia dibanding negara-negara tetangga.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebutkan, minat investor dalam membeli Surat Utang Negara (SUN) atau Surat Berharga Negara (SBN) di tahun ini lebih tinggi ketimbang tahun sebelumnya. Hitungan itu berdasarkan rata-rata jumlah penawaran yang masuk di lelang SBN.

Rinciannya yakni rata-rata penawaran SBN yang masuk di pasar primer (incoming bid) tercatat Rp37,1 triliun per lelang antara Januari hingga Mei tahun ini. Angka ini meningkat 25,72 persen dibanding tahun lalu, di mana incoming bid hanya tercatat sebesar Rp29,51 triliun.

Nah mengacu indikator tersebut artinya fundamental perekonomian Indonesia masih cukup baik karena penawarannya masih tinggi. Selain itu, bisa dilihat dari imbal hasil (yield) SBN milik Indonesia.

"Jadi memang ada confident terhadap SBN sejak awal tahun, termasuk dari investor asing" kata Sri Mulyani, Kamis (23/5). (fin/ima)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Impor Naik 34,96 Persen di Juli 2019

Impor Naik 34,96 Persen di Juli 2019

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor sepanjang bulan Juli masih tinggi, yakni 34,96 persen menjadi 15,51 miliar dolar


Startup Unicorn RI Bakal Dikuasai Investor Asing

Startup Unicorn RI Bakal Dikuasai Investor Asing

Satu persatu perusahaan rintisan teknologi (startup) unicorn Indonesia dimiliki asing.


Masyarakat Kena Dampak Tumpahan Minyak Karawang

Masyarakat Kena Dampak Tumpahan Minyak Karawang

Insiden tumpahan minyak PT Pertamina (Persero) yang terjadi di Karawang hampir dua pekan ini dinilai berdampak pada kehidupan ekonomi nelayan


BPJS Kesehatan Masih Tekor, Bagaimana Solusinya?

BPJS Kesehatan Masih Tekor, Bagaimana Solusinya?

Sejak lima tahun lalu sampai saat ini penyakit BPJS Kesehatan tak kunjung disembuhkan.


Kurangi Defisit Migas, Mobil Listrik Tetap Sulit Redam Krisis Energi

Kurangi Defisit Migas, Mobil Listrik Tetap Sulit Redam Krisis Energi

Sampai saat ini pemerintah masih membahas regulasi mobil listrik.


Gaung Sistem OSS Belum Terdengar

Gaung Sistem OSS Belum Terdengar

Layanan sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik masih kedengaran asing seperti apa penggunaan dan aplikasinya.


Industri Tekstil Masih Menjanjikan

Industri Tekstil Masih Menjanjikan

Pemerintah tengah membidik nilai ekspor dari industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) sepanjang tahun 2019 akan menembus USD15 miliar.


Blok Corridor Kembali Dikelola Asing

Blok Corridor Kembali Dikelola Asing

Belum selesai kontraknya, Perusahaan energi multinasional asal Amerika Serikat, Conoco Philips (Grissik) kembali meneken kontrak baru.


Kelola Sektor Migas Rawan Masuk Bui

Kelola Sektor Migas Rawan Masuk Bui

Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral Ignasius Jonan menyebutkan pengelolaan sektor migas memiliki risiko yang sangat tinggi.


Sharp Indonesia Persiapkan Lulusan Siap Kerja di Banjarmasin

Sharp Indonesia Persiapkan Lulusan Siap Kerja di Banjarmasin

Keterampilan dan kemandirian siswa lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia masih memerlukan perhatian khusus



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!