Ekonomi
Share this on:

Fintech Jangan Dihambat dengan Regulasi

  • Fintech Jangan Dihambat dengan Regulasi
  • Fintech Jangan Dihambat dengan Regulasi

JAKARTA - Di Indonesia financial teknologi alias fintech jadi bisnis seksi bernilai ratusan triliun rupiah karena menawarkan beberapa layanan, yakni pinjaman (lending), pembayaran, perencanaan keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), remitansi, dan riset keuangan. Data dari Asosiasi Fintech Indonesia menunjukkan, mayoritas perusahaanfintechsaat ini bergerak di bidang P2Plendingatau pinjaman langsung.

Namun miisnya, dalam transaksi Fintech tersebut banyak terjadi pelanggaran, mulai praktik penagihan bermasalah hingga penyalahgunaan data pribadi kerap dilakukan perusahaan fintech kepada nasabahnya. Tidak hanya, perusahaan fintech ilegal tapi juga perusahaan terdaftar atau berizin di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diduga melakukan berbagai pelanggaran tersebut.

Atas persolan tersebut, beberapa waktu lalu Bank Indonesia (BI) mengumumkan tengah menyiapkan regulasi terkait pertukaran data nasabah antara perbankan dan pelaku teknologi finansial (tekfin/fintech). Hal ini bertujuan guna meningkatkan efisiensi pembayaran.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Hanif Muhammad menilai, banyak Bank meminta level playing field (kesetaraan) dengan memberikan aturan yang lebih ketat kepada fintech seperti yang diberikan BI kepada Bank. Menurut Hanif, aturan untuk fintech tidak perlu disamakan dengan bank selama perlindungan konsumen dan keterbukaan informasi diatur untuk fintech.

"Jika terlalu ketat, perkembangan model bisnis fintech akan menjadi lambat karena belum berkembang sudah tersandung regulasi," kata Hanif kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Senin (25/3).

Meski begitu, dijelaskan Hanif, masih banyak yang perlu diatur, tapi yang aturan untuk fintech tidak perlu sekompleks bank konvensional. "Aturan-aturan lainnya yang masih menjadi celah harus disiapkan, banyak pelanggaran dilakukan oleh fintech baik yang belum terdaffar di OJK maupun yang 99 fintech terdaftar OJK, Jadi bukan berarti tidak perlu aturan," kata Hanif.

Menurut Hanif fintech tidak akan membunuh bank konvensional, baginya perkembangan fintech sebuah keniscayaan yang membuat Bank berkejaran untuk melakukan transformasi layananannya.

"Hadirnya fintech membuat mereka harus mengejar ketertinggalan atau kolaborasi. Pasti ada yang kalah karena tidak mengejar transformasi IT dan transformasi bisnis perbankannya. Akan tetapi perlu dicatat nature-nya Bank itu sudah memiliki infrastruktur IT yang memadai, tapi umumnya memang perkembangannya lamban," tutur Hanif.

Pada kenyataannya, menurut Hanif, tren saat ini fintech dan bank saling bekerjasama, seperti Line baru saja beli20% saham Bank KEB Hana Indonesia, Bank Mandiri bekerjasama dengan salah satu pionir fintech Indonesia, Amartha.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Bank Indonesia melalui Asisten Deputi Direktur Eksekutif Sistem Pembayaran, Bank Indonesia (BI) Susiati Dewi mengatakan, aturan tentang fintech segera dibuat, karena selama ini data sistem pembayaran memang hanya dimiliki oleh pihak perbankan. Makanya sistem pembayaran melalui fintech juga terus berkembang.

"Untuk meningkatkan efisiensi pembayaran, misalnya mesti dilihat daricustomer driven.Itu dilihat dari siapa dia? Secara historikal maka akan bicara data. Si A kebutuhannya begini. Nah data itu biar bisa diakses semua pihak baik bank, maupun non bank," kata Susiati, baru-baru ini.(zul/ibl/din/fin)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Mudik Lewat Tol, Saldo E-Toll Maksimal Rp2 Juta

Mudik Lewat Tol, Saldo E-Toll Maksimal Rp2 Juta

Bank Indonesia bekerjasama dengan Perbankan dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) menyediakan lebih dari 100 layanan gerak Uang Elektronik (UE) di sejumlah rest area


Kapasitas Kursi Kereta Lebaran Ditambah

Kapasitas Kursi Kereta Lebaran Ditambah

Menyambut masa angkut mudik lebaran 2019, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan total 78 kereta api dengan kapasitas 957.282 penumpang.


Kebutuhan Konsumtif Kerek Pinjaman Online Saat Ramadan

Kebutuhan Konsumtif Kerek Pinjaman Online Saat Ramadan

Selama Ramadan dan menjelang Lebaran 2019, diperkirakan permintaan pinjaman melalui fintech Peer-to-Perr (P2P) lending akan terus meningkat.


Jangan Merakit Terus, Saatnya Industri Elektronik Produksi Sendiri

Jangan Merakit Terus, Saatnya Industri Elektronik Produksi Sendiri

Investasi elektronika dan telematika di Indonesia mulai mengepakan sayapnya, meski belum sebesar industri manufaktur.


11 Proyek Migas Berproduksi Tahun Ini

11 Proyek Migas Berproduksi Tahun Ini

Kebutuhan energi di Indonesia terus meningkat setiap tahun seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk.


Pemerintah Diminta Jangan Takut Tindak Aplikator Ojol Nakal

Pemerintah Diminta Jangan Takut Tindak Aplikator Ojol Nakal

Penerapan tarif baru ojek online (ojol) yang ditetapkan pemerintah tidak berjalan dengan semestinya.


Garuda Beber Alasan Kerjasama dengan Mahata

Garuda Beber Alasan Kerjasama dengan Mahata

Sekian lama diam, pihak PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) akhirnya mau angkat suara tentang perjanjian kerjasama dengan PT Mahata Aero Teknologi.


Aplikator Terapkan Tarif Baru, Driver Gojek Batal Mogok

Aplikator Terapkan Tarif Baru, Driver Gojek Batal Mogok

Aplikator Gojek berjanji akan melakukan uji coba tarif untuk Go-Ride di lima kota sesuai dengan pedoman tarif Kemenhub No. 348/2019.


Fintech Ilegal di Indonesia Terbanyak dari China

Fintech Ilegal di Indonesia Terbanyak dari China

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui satgas waspada investasi terus berupaya memberantas fintech peer to peer lending alias pinjaman online ilegal.


Kurangi Defisit, BPJS Kesehatan Jajaki Alternatif Kerjasama dengan Lembaga Penjamin

Kurangi Defisit, BPJS Kesehatan Jajaki Alternatif Kerjasama dengan Lembaga Penjamin

Untuk mengurangi defisit, BPJS Kesehatan tengah menjajaki alternatif kerja sama dengan beberapa lembaga penjamin atau asuransi.



Video

Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!