Ekonomi
Share this on:

Ingin Cara Instan, Investasi Bodong Makin Tumbuh Subur

  • Ingin Cara Instan, Investasi Bodong Makin Tumbuh Subur
  • Ingin Cara Instan, Investasi Bodong Makin Tumbuh Subur

JAKARTA - Edukasi dan literasi keuangan menjadi kunci dalam upaya memberangus praktik investasi bodong yang masih marak terjadi. Salah satu pemicu fenomena munculnya investasi bodong adalah budaya instan di masyarakat yang ingin cepat kaya dengan sedikit usaha.

"Ya itu budaya kita yang inginnya instan. Kita inginnya enggak capek. Tapi enggak ada dapat untungnya gede. Setinggi-tingginya bunga, kalau kita nabung di deposito ya ada batasnya, berapa persen misalnya. Enggak ada yang pengembalianya 10 persen setahun. Jadi masyarakatnya harus diedukasi, pengen kaya cepat itu harus dihilangkan," tutur Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, kepada Fajar Indonesia Network, Jumat (5/4) kemarin.

Sementara terkait dengan keberadaan investasi bodong, ia mengatakan, investasi bodong yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia terjadi lantaran tidak produktifnya para entitas yang mengelola investasi tersebut, seharusnya berujung pada kegiatan yang produktif.

"Jadi harus ada kegiatannya, kalau dana investasinya enggak diolah, enggak dijadikan kegiatan produktif ya enggak berkembang. Sehingga dana itu harus diputar dan menghasilkan keuntungan," kata Heri.

Ia menilai, Investasi bodong yang sering terjadi ialah perusahaannya ada, namun tidak mempunyai kegiatan produktif. Hal ini bisa disebabkan berbagai faktor. Ketika dana terhimpun, biaya atau cost untuk mengelola dana tersebut tidak diperhitungkan secara matang. Sehingga, pemilik perusahaan gagal mengembalikan dana beserta margin yang dijanjikanya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat 30% dari total investasi ilegal yang sudah dihentikan tahun ini merupakan investasi berbentuk multi level marketing (MLM).

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi Tongam L Tobing mengatakan, seperti jasa keuangan ilegal lainnya, MLM juga menawarkan keuntungan yang menggiurkan masyarakat.

"Sekitar 30% ini di MLM karena mudah menawarkannya sehingga masyarakat mudah tergiur. Kalau di MLM yang ditawarkan keikutsertaan peserta. Peserta dapat bonus, bukan produk," kata Tongam dalam acara Sosialisasi Satuan Tugas Waspada Investasi Ilegal di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (5/4).

Selain MLM, OJK juga mencatat investasi ilegal yang sudah dihentikan 25%-nya merupakan investasi di perdagangan berjangka komoditi, berupa perdagangan forex atau emas.

Investasi ini menawarkan keuntungan dalam 7 hari sebesar 30% . Investasi perdagangan berjangka komoditi ilegal ini juga memberi imbal hasil fix tanpa risiko sehingga tidak rasional.

"Kerugian yang diderita masyarakat belum secara pasti bisa kita nilai karena pada saat masuk proses hukum di Kepolisian baru kita lihat secara pasti kerugiannya. Tapi saat ini kita melakukan penghentian praktik secara dini," jelas Tongam.

Selama 2019, OJK telah menghentikan operasi 47 investasi ilegal hingga Maret. Sementara, untuk perusahaan financing technology (Fintech) peer-to-peer (P2P) lending ilegal sudah 399 yang dihentikan operasinya bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

Pada 2017 OJK sudah menghentikan 80 investasi ilegal, tahun 2018 sebanyak 108 investasi ilegal yang dihentikan dan 404 Fintech ilegal. Kemudian di 2019 ini ada 399 Fintech lending ilegal dan 47 investasi ilegal.

"Trennya meningkat karena sangat mudah dengan teknologi saat ini orang menawarkan produk ilegal di website, aplikasi," kata Tonggam. (ibl/zul/din/fin)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Jangan Merakit Terus, Saatnya Industri Elektronik Produksi Sendiri

Jangan Merakit Terus, Saatnya Industri Elektronik Produksi Sendiri

Investasi elektronika dan telematika di Indonesia mulai mengepakan sayapnya, meski belum sebesar industri manufaktur.


Investasi China di Indonesia Terusik

Investasi China di Indonesia Terusik

Investasi China di dalam negeri dianggap tidak memenuhi standar lingkungan, hak asasi manusia (HAM), dan tak mengenal tata kelola perusahaan yang baik atau good


Senin Depan, Pemerintah Tentukan Turun Tidaknya Tarif Pesawat

Senin Depan, Pemerintah Tentukan Turun Tidaknya Tarif Pesawat

Polemik mahalnya tarif pesawat tidak berujung. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pun terus berupaya mencari cara untuk menyelesaikannya.


Pemerintah Cari Cara Permudah Distribusi Beras Bulog

Pemerintah Cari Cara Permudah Distribusi Beras Bulog

emerintah berupaya mencari cara agar Perum Bulog dapat lebih mudah menyalurkan stok beras.


Fintech Ilegal di Indonesia Terbanyak dari China

Fintech Ilegal di Indonesia Terbanyak dari China

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui satgas waspada investasi terus berupaya memberantas fintech peer to peer lending alias pinjaman online ilegal.


Pemilu, Belanja Iklan Cuma Tumbuh 4 Persen

Pemilu, Belanja Iklan Cuma Tumbuh 4 Persen

Penyelenggaraan pesta demokrasi berdampak pada tren belanja iklan di sejumlah media.


Hubungan Dagang Indonesia-Mesir Makin Baik

Hubungan Dagang Indonesia-Mesir Makin Baik

Duta Besar Mesir untuk Indonesia Ahmed Amr Ahmed Moawad optimistis bahwa hubungan dagang antara Indonesia dan Mesir akan terus meningkat.


Pengusaha Indonesia Tertarik Investasi di Bangladesh

Pengusaha Indonesia Tertarik Investasi di Bangladesh

Duta Besar Indonesia untuk Bangladesh Rina P. Soemarno mengatakan banyak pengusaha dan perusahaan Tanah Air yang berminat untuk berinvestasi di Bangladesh.



Perizinan Rumit Bikin Investor Asing Kabur BOGOR -

Perizinan Rumit Bikin Investor Asing Kabur BOGOR -

Sampai saat ini kinerja investasi Indonesia masih rendah, karena banyaknya aturan yang diberlakukan.



Berita Hari Ini

Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!