Ekonomi
Share this on:

Ini Lima Jurus Jitu Genjot Ekspor Pertanian

  • Ini Lima Jurus Jitu Genjot Ekspor Pertanian
  • Ini Lima Jurus Jitu Genjot Ekspor Pertanian

JAKARTA - Sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Karantina Pertanian terus berupaya meningkatkan volume ekspor produk pertanian.

Kementan memperkirakan volume ekspor tahun ini bisa mencapai 45 juta ton. Optimisme ini karena dalam 4,5 tahun terakhir ini terjadi peningkatan ekspor pada komoditas pertanian strategis.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan hasil pertanian pada 2018 surplus Rp0 miliar atau setara Rp139,6 triliun.

Karena itu, untuk terus mendongkrak volume ekspor produk pertanian Menteri Pertanian mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 19 tahun 2019 tentang Pengembangan Ekspor Pertanian.

"Ekspor kita beri karpet merah, kalau perlu dimerahkan lagi. Maksudnya dipermudah terus. Harus kita dorong, kita datangi dan jemput bola," ujar Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil, di Depok, Jawa Barat, di Depok, kemarin (9/8).

Ada lima terobosan yang akan diterapkan guna menggenjot ekspor. Pertama, memberikan kemudahan bagi eksportir dalam perizinan melalui OSS. OSS merupakan program perizinan terpadu, sehingga prosesnya bisa lebih cepat.

"Jadi jika sebelumnya izin baru keluar tiga tahun, tiga bulan, sekarang hanya tiga jam. Bahkan kalau berkas, mungkin tidak sampai tiga jam," katanya.

"Terobosan kedua, mendorong generasi milenial untuk menjadi eksportir melalui program Agro Gemilang. Kita inginkan generasi milenial ikut andil dalam eksportir," ujarnya.

Dalam program itu, pemerintah memberikan bimbingan teknis terkait SPS (Sanitary Phyto Sanitary), persiapan di lapangan dan bimbingan dalam giid handling practices (GHP).

"Kita konektivitas dengan daerah dan petani. Untuk GAP (Good Agricultuer Practices) ada di dinas dan GHP tugasnya pemerintah pusat," tambah dia.

Ketiga, pemerintah membuat kebijakan Inline inspection. Dalam program ini Badan Karantina Pertanian melakukan kunjungan langsung ke eksportir, dari tingkat budidaya hingga handling.

Sehingga mempermudah pelaku usaha dalam menangani produk yang akan diekspor.

"Contohnya saat di Jeneponto ada markisa bagus sekali, bahkan mengalahkan markisa Medan. Tapi ada hama lalat buah. Kita bantu penanganan dengan bimbingan BPP dan BPTP, sedangkan Karantina Pertanian bantu handlingnya," tuturnya.

Ke empat, program I-Mace. Dengan I-Mace, bisa diketahui data sentra komoditas pertanian dan berpotensi ekspor. Bahkan di I-Mace juga terdapat data produk pertanian yang diekspor dan negara tujuannya.

"Harapan kita dengan I-Mace bisa digunakan sebagai bahan kebijakan gubernur dan bupati untuk membangun pertanian di daerahnya. Misalnya dengan membangun kawasan sentra produksi pertanian yang berpotensi ekspor," kata Ali Jamil.

Terobosan kelima yakni elektronik sertifikat (E-Cert). Dengan E-Cert, menurut Ali Jamil, produk pertanian yang diekspor lebih terjamin. Jadi negara tujuan ekspor akan menerima sertifikasi secara online, kemudian langsung diperiksa dan diteliti.

"Setelah semua ok, barang bisa jalan. Jadi barang tidak akan ditolak di negara tujuan," ujarnya.

Berbeda dengan sebelumnya, eksportir akan membawa berkas/sertifikat masih dalam hardcopy bersamaan dengan produknya. Namun jika kemudian ada masalah terhadap produk yang dikirim, justru akan merugikan eksportir.

"E-Cert ini merupakan bentuk penjaminan sesungguhnya, karena produk sudah pasti bisa diterima di luar negeri," ujarnya.

Saat ini sudah ada empat negara yang menerapkan E-Cert yakni, Belanda, Selandia Baru, Australia dan Vietnam. Namun ke depan, Ali Jamil berharap akan bisa bekerjasama dengan negara lain, terutama Uni Eropa.

Ali Jamil mengungkapkan, pemerintah juga telah membuat strategi agar pertumbuhan ekspor terus meningkat. Di antaranya, mendorong pertumbuhan eksportir baru, diversifikasi produk ekspor melalui dua cara yakni mendorong ekspor produk setengah jadi dan jadi (produk turunan) serta mendorong produk baru, seperti jeruk purut dan daun ketapang.

"Kami juga mendorong meningkatkan frekuensi pengiriman ke luar negeri," ujarnya.

Kesempatan yang sama, Direktur PT Cakrawala Skyland eksportir jeruk purut, Indah Sofiati mengungkapkan, pihaknya masih menemukan kendala dalam soal perizinan. Karenanya dengan mendapat bimbingan dari Badan Karantina Petranian yang tadinya sulit menjadi lebih mudah.

"Jadi mendapat masukan dari badan karantina di Prancis dan Karantina Pertanian. Jadi lebih mudah masuknya," ucap dia.

Kesulitan lainnya, ungkap dia adalah untuk mendapatkan pasokan jeruk purut di dalam negeri tidak mudah. Namun diakui kualitas jeruk purut semakin baik.

"Kualitas jeruk purut punya kita sudah lebih baik. Yah harapan saya lebih ditingkatkan lagi kualitasnya," kata dia.

Belum lagi kata dia, banyak tengkulak sehingga harga jeruk yang dibelinya menjadi mahal.

"Mungkin petani tidak mengambil untung banyak, karena harganya hanya sekitar Rp8-10 ribu/kg, ini karena harga di tengkulak mencapaiRp 25 ribu/kg," pungkas dia. (fin/ima)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya

Idul Kurban Sumbang Inflasi
Idul Kurban Sumbang Inflasi

Berita Sejenis

Dongkrak Ekspor Temukan Kendala

Dongkrak Ekspor Temukan Kendala

Sebagaimana perintah Presiden Jokowi Widodo (Jokowi) untuk menggeliatkan pasar ekspor di mancanegara, namun tidak semudah yang diharapkan.


Pemerintah Targetkan Kepemilikan Utang Asing 20 Persen

Pemerintah Targetkan Kepemilikan Utang Asing 20 Persen

Saat ini kepemilikan utang asing dalam Surat Utang Negara (SUN) di Indonesia mencapai Rp1.005 triliun atau 38,49 persen.


Pemerintah Pastikan Harga Cabai Tak Lagi Pedas

Pemerintah Pastikan Harga Cabai Tak Lagi Pedas

Musim kemarau sudah mulai berakhir. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan harga cabai akan berangsur-angsur stabil.


Ribetnya Regulasi Bikin Hambat Investasi

Ribetnya Regulasi Bikin Hambat Investasi

Bank Indonesia (BI) menyebutkan investasi di kuartal II tahun ini bergerak tipis 5,01 persen atau lebih rendah


Hampir Lima Tahun, Kebijakan Menteri Susi Pukul Industri Perikanan

Hampir Lima Tahun, Kebijakan Menteri Susi Pukul Industri Perikanan

Hampir lima tahun Susi Pudjiastuti menjabat sebagai menteri Perikanan dan Kelautan (KKP).


Harga Garam Makin Anjlok Rp250 per Kg

Harga Garam Makin Anjlok Rp250 per Kg

Harga garam sejak bukan Juni 2019 sampai saat ini semakin melorot. Padahal saat ini sedang berlangsung panen garam.


Ekspor CPO Diprediksi Turun Jadi 30 Juta Ton

Ekspor CPO Diprediksi Turun Jadi 30 Juta Ton

Penjegalan sawit Indonesia di Uni Eropa diperkirakan membuat ekspor sawit tahun ini menurun sebanyak 30 juta ton hingga akhir tahun 2019 ini.


Kenaikan TDL Diputuskan Usai Pidato 17 Agustus Jokowi

Kenaikan TDL Diputuskan Usai Pidato 17 Agustus Jokowi

Pemerintah tahun ini memastikan tidak akan ada kenaikan tarif dasar listrik (TDL).


Produksi Telur dan Ayam Surplus, Kementan Dorong Peningkatan Ekspor

Produksi Telur dan Ayam Surplus, Kementan Dorong Peningkatan Ekspor

Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan ketersediaan komoditas ayam dan telur saat ini telah dinyatakan surplus.


Masyarakat Kena Dampak Tumpahan Minyak Karawang

Masyarakat Kena Dampak Tumpahan Minyak Karawang

Insiden tumpahan minyak PT Pertamina (Persero) yang terjadi di Karawang hampir dua pekan ini dinilai berdampak pada kehidupan ekonomi nelayan



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!