Ekonomi
Share this on:

Investor Surat Utang Negara Potensial Kabur

  • Investor Surat Utang Negara Potensial Kabur
  • Investor Surat Utang Negara Potensial Kabur

JAKARTA - Pemerintah diminta ekstra waspada menyikapi koreksi rupiah. Pasalnya, secara eksternal perkembangan terutama Amerika Serikat (AS) amat berpengaruh. Situasi dan kondisi AS harus dimonitor secara saksama. Itu penting karena gejolak rupiah sudah terasa dan memengaruhi industri.

”Pemerintah harus stay di market. Monitor secara ketat perkembangan pasar menjadi keharusan,” tutur Rektor Universitas Paramadina, Firmanzah, ketika dihubungi di Jakarta, kemarin.

Pendapat mantan Dekan Ekonomi Universitas Indonesia (UI) itu cukup beralasan. Di mana, saat ini kondisi ekonomi domestik tengah menghadapi tiga tantangan tidak ringan. Pertama, rencana kenaikan suku bunga the Federal Reserve (The Fed). Disebut-sebut, sepanjang tahun ini, bank central AS itu, bakal melakukan penyesuaian suku bunga paling tidak tiga hingga empat kali.

Kemudian problem kedua yaitu kebijakan AS terkait rencana pengenaan bea masuk baja 25 persen dan aluminium 10 persen. Selanjutnya, faktor ketiga adalah lonjakan harga minyak mentah dunia. Minyak mentah meroket akan berefek pada subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL) membengkak. ”Makanya, pemerintah harus hati-hati dan waspada,” ingat Firmanzah.

Situasi makin runyam mengingat dalam penutupan perdagangan kemarin, nilai tukar rupiah ditutup merosot 14 poin (0,1 persen) menjadi Rp13.776 per USD, setelah bergerak di kisaran Rp13.738-13.790 per USD. Hal senada, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ditutup merosot 50,48 poin (0,77 persen) ke level 6.500 setelah bergerak di antara 6.492-6.589.

Kondisi itu diprediksi bakal mengganggu persepsi investor. Terutama investor manca yang saat ini banyak mengoleksi surat utang negara (SUN). Merujuk data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), asing mengkapling SUN sejumlah Rp842,58 triliun. Kalau pemerintah gagal mengelola dan market terus bergejolak menyusul penyesuaian suku bunga The Fed, potensial arus modal keluar (Capital outflow), sangat kuat.

Tidak disangkal, imbal hasil (yield) obligasi negara bertenor 10 tahun, sejak awal tahun terus menanjak. Di mana, yield obligasi seri terkini bermain di kisaran 6-7 persen. Kalau dicermati, yield itu tertinggi sejak akhir November 2017.

Kala itu, di pasar saham, perlahan menyesuaikan yield obligasi hingga mencapai titik terendah 6,064 persen awal Januari. Namun, kemudian pasar saham mulai bergejolak mendekati Februari 2018. Itu kemudian menyebabkan yield obligasi beranjak naik hingga mencapai 6,55 persen.

”Memang perbaikan ekonomi AS, membuat investor melihat peluang baru. Namun, itu tidak serta merta membuat investor asing menarik dana secara besar-besaran dari emerging market,” tegas Direktur Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Wahyu Trenggono.

Alasanya bilang Wahyu, negara-negara emerging market macam Indonesia, Vietnam, Filipina masih memberi peluang mendapat return lebih besar. Return dari pasar obligasi di kisaran 7 persen untuk SUN 10 tahun dan itu masih sangat tinggi dibanding US Treasury dengan tenor sama di kisaran 3 persen.

”Apalagi, Indonesia baru naik kelas, secara rating, masih memberikan rasa aman bagi investor (terutama asing) untuk terus mempercayakan investasi di Indonesia,” imbuhnya.

Meski begitu sebut Wahyu, ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan pemerintah. Mulai depresiasi rupiah terhadap USD tidak boleh berlebihan. Karena itu berpotensi menggerus return investor asing. Karena itu, ahrus dijaga dan dirawat, koreksi rupiah dijadikan kambing hitam investor asing untuk melepas obligasi.

Wahyu menilai kalau cadev masih sangat meyakinkan. Untuk jangka menengah dan panjang, cadev masih bisa diandalkan. Itu berdasar indikator pada negara-negara maju, seperti positifnya indikator produk manufaktur di Jerman. Itu menunjukan industri Jerman telah membaik.

Dengan begitu, secara otomatis butuh bahan baku dan komoditi. ”Itu sangat positif terhadap ekspor Indonesia didominasi komoditas. Lonjakan ekspor komoditas perkebunan dan hasil tambang akan memperkuat cadev,” bebernya.

Dalam kalkulasi BI, tahun ini The Fed bakal menaikkan bunga 3 kali. Saat suku bunga The Fed melambung, investor asing cenderung keluar dari pasar SBN meski bersifat temporer. Misalnya, kala kenaikan Fed Fund Rate (FFR) 14 Maret 2017, posisi kepemilikan investor asing pada SBN mencapai Rp763,92 triliun, lalu turun menjadi Rp763,86 triliun.

Saat kenaikan FFR edisi 14 Juni 2017, kepemilikan asing senilai Rp763,92 triliun, merosot menjadi Rp 763,86 triliun. Lalu, kenaikan suku bunga FFR pada 13 Desember, asing mempunyai Rp 834,54 triliun.

Sebelumnya, presiden Joko Widodo mewanti-wanti para pembantunya untuk tetap waspada. Mengamati pasar dan menjaga supaya tetap stabil. Itu penting karena keadaan benar-benar menuntut penanganan serius. (far/jpg)

Berita Sebelumnya

Kadin Tuntut Stabilitas Rupiah
Kadin Tuntut Stabilitas Rupiah

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Wajib Pajak Tak Patuh Bakal Diperiksa

Wajib Pajak Tak Patuh Bakal Diperiksa

Masyarakat diminta tak perlu takut menghadapi pemeriksaan pajak seiring dengan keluarnya Surat Edaran Dirjen Pajak No SE-15/PJ/2018 tentang Kebijakan Pemeriksaa


Aktif Gaet Investor Pemula

Aktif Gaet Investor Pemula

Bursa Efek Indonesia (BEI) berusaha menggaet lebih banyak investor pemula. Salah satu upayanya, menggandeng berbagai komunitas.


Penyerapan PMN Capai 92 Persen

Penyerapan PMN Capai 92 Persen

PT Perusahaan Listrik Negara (persero) hampir setiap tahun memperoleh kucuran dana penyertaan modal negara (PMN) untuk membantu program kelistrikan.


Dorong Investor Aktif Transaksi

Dorong Investor Aktif Transaksi

Jumlah investor yang aktif bertransaksi di lantai bursa masih rendah.


PLN Tidak Kurangi Proyek Infrastruktur Listrik

PLN Tidak Kurangi Proyek Infrastruktur Listrik

PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) harus mengatur kembali pembiayaan pembangunan proyek ketenagalistrikan.


Pasok Listrik ke Jatiproton dan PIER

Pasok Listrik ke Jatiproton dan PIER

PT Perusahaan Listrik Negara (persero) memasok listrik sebesar 311 mVA ke kawasan industri Jawa Timur Probolinggo Tongas (Jatiproton).


Dorong Porsi Investor Lokal Suntik Start-up

Dorong Porsi Investor Lokal Suntik Start-up

Porsi investor lokal belum cukup signifikan menyuntikkan dana ke perusahaan rintisan (start-up).


Tawarkan Investasi Infrastruktur ke Tiongkok

Tawarkan Investasi Infrastruktur ke Tiongkok

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menawarkan investasi berskema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) kepada calon investor di Tiongkok.


Pemerintah Ingin Tarik Lebih Banyak Investor Jepang

Pemerintah Ingin Tarik Lebih Banyak Investor Jepang

Tren investasi Jepang ke Indonesia menunjukkan perlambatan dalam kurun tiga tahun terakhir.


Izin Online Mayoritas Sektor Perdagangan

Izin Online Mayoritas Sektor Perdagangan

Kian banyak calon investor yang memanfaatkan fasilitas online single submission (OSS).



Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!