Ekonomi
Share this on:

Iuran PBI Naik Atasi Defisit BPJS

  • Iuran PBI Naik Atasi Defisit BPJS
  • Iuran PBI Naik Atasi Defisit BPJS

**JAKARTA ** - Tahun ini merupakan tahun ke lima BPJS Kesehatan berdiri. Namun dapat dipastikan lembaga tersebut mengalami defisit. Salah satu sumbernya karena iuran tidak sama dengan iuran yang dihitung secara aktuaris. Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) pun telah melakukan rapat untuk menghitung nilai aktuaris yang baru.

Pada awal terbentuknya BPJS Kesehatan, DJSN sudah mengusulkan standar iuran untuk mereka yang kelas 3 maupun peserta penerima bantuan iuran (PBI) sebesar Rp36.000. Namun hingga kini nilai tersebut tidak dipatuhi pemerintah. Di tahun ini saja iuran PBI masih Rp23.000. Padahal jumlah peserta sudah dinaikan menjadi 98 juta orang.

Anggota DJSN Ahmad Ansyori mengatakan bahwa sudah tiga kali DJSN melakukan rapat untuk membahas besaran iuran. Hari ini rencananya akam dilakukan rapat kembali untuk membahas berapa kenaikan yang terjadi. "Namun sudah ada wacana, iuran harus naik menjadi Rp 38.000 untuk peserta PBI. Namun ini masih tentatif," ungkapnya, kemarin (26/5).

Menurutnya, untuk iuran PBI memang harus ada kenaikan. Sebab, iuran yang ditetapkan sekarang tidak relevan lagi.Sebelumnya, Kepala Humas BPJS Kesehatan Pusat M Iqbal Anas membeberkan iuran yang lebih kecil daripada klaim akan akan menimbulkan kerugian bagi BPJS Kesehatan. Untuk menanggulangi hal ini, dia menyarankan agar jumlah iuran peserta diperbaiki.

"BPJS Kesehatan juga akan mendorong kepatuhan untuk membayar iuran," ungkapnya.

Selama ini memang tidak ada aturan untuk memberikan sanksi bagi mereka yang tidak tertib iuran. Yang selama ini dilakukan hanya mencabut kepesertaannya. Hal ini dinilai menjadi salah satu penyebab ada masyarakat yang mokong tidak membayar iuran.

Untuk menanggulangi kekurangan pembiayaan, pemerintah menyuntikkan dana talangan namun sebelumnya dilakukan audit. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sudah dua tahun ini melakukan audit. Rencananya hari ini hasil audit akan dibeberkan di hadapan DPR.

Namun hal ini dinilai tidak menyelesaikan masalah. "Permasalahan utama adalah besaran iurannya. Ini solusi fundamental," ucap Asisten Deputi Direksi Bidang Data Based Nuik Mubaraq. Setelah besaran iuran ini sesuai dengan saran DJSN maka langkah selanjutnya adalah mendorong peserta agar patuh membayar iuran. (lyn/zul/ful)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Lebaran, Penumpang Kapal Naik Drastis

Lebaran, Penumpang Kapal Naik Drastis

Pengguna kapal laut yang dioperatori oleh PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) pada musim Lebaran tahun ini meningkat drastis.


Pakai Platform Digital, Zakat Naik Tajam

Pakai Platform Digital, Zakat Naik Tajam

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) sudah menghitung total penghimpunan zakat, infaq, dan sadaqah (ZIS) selama bulan Ramadan.


Usai Lebaran Harga Beras Potensi Naik

Usai Lebaran Harga Beras Potensi Naik

Sejumlah komoditas pangan relatif stabil saat Ramadan dan Lebaran 2019. Hanya cabai dan bawang merah yang mengalami lonjakan hingga Lebaran.


Transaksi E-Money di Tol Diperkirakan Naik 20 Persen

Transaksi E-Money di Tol Diperkirakan Naik 20 Persen

Bank Mandiri memperkirakan volume transaksi uang elektronik e-money di jalan tol akan mengalami kenaikan 20 persen selama periode libur Lebaran 2019.


Defisit BPJS Kesehatan Tak Akan Pernah Selesai

Defisit BPJS Kesehatan Tak Akan Pernah Selesai

Kondisi keuangan Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kembali mengalami defisit Rp9,1 triliun di tahun 2018 lalu.


Dikerek Konsumsi, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Naik

Dikerek Konsumsi, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Naik

Momen Ramadan dan Lebaran akan berimbas pada peningkatan pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2019.


Akhirnya BPJS Kesehatan Diaudit

Akhirnya BPJS Kesehatan Diaudit

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) akhirnya mengeluarkan hasil audit final BPJS Kesehatan.


Amerika Bikin Surplus, Tiongkok Buat Defisit

Amerika Bikin Surplus, Tiongkok Buat Defisit

Kementerian Perdagangan mencatat terjadi defisit neraca ekspor dan impor April 2019 menunjukkan defisit cukup tinggi sebesar USD 2,5 miliar.


Vo;ume Impor BBM Picu Defisit Migas

Vo;ume Impor BBM Picu Defisit Migas

Defisit neraca perdagangan pada kuartal I 2019, utamanya disebabkan defisit migas sebesar 2,76 miliar dolar AS.


Defisit April Lalu Paling Buruk di Indonesia

Defisit April Lalu Paling Buruk di Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan sepanjang bulan April 2019 defisit sebesar 2,5 miliar dolar AS.



Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!