Ekonomi
Share this on:

Kasus Lion Air Group, Perlu UU Data Pribadi

  • Kasus Lion Air Group, Perlu UU Data Pribadi
  • Kasus Lion Air Group, Perlu UU Data Pribadi

JAKARTA - Pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini rupanya tidak diikuti keamanan sistemnya. Yang mengejutkan, perusahaan keamanan siber asal Rusia, Kaspersky Lab, menemukan ada sekitar 30 juta data penumpang Lion Air Group yang bocor.

Lantas bagaimana tanggapan pengamat penerbangan dalam kasus ini?

Pengamat Penerbangan Alvin Lie mengatakan, sudah seharusnya pemerintah Indonesia untuk membuat undang-undang perlindungan data pribadi. Dia memastikan, UU tersebut akan melindungi data-data konsumen.

"Intinya mereka punya UU data pribadi baik itu institusi pemerintah maupun swasta. Jadi tidak peduli apakah disimpan di dalam negeri atau luar. Jadi dengan memiliki badan hukum bisa melindungi data pribadi pelanggan," ujar Alvin Lie kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Jumat (20/9).

Pihak Lion Air sendiri mengatakan masih melakukan koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta pihak terkait terhadap temuan Kaspersky Lab adanya dugaan bocornya data 30 juta penumpang.

"Lion Air Group berkoordinasi dengan vendor sebagai mitra kerja sama sesuai perjanjian, dan dinyatakan data penumpang aman," kata Corporate Communications Strategic Lion Air Grup Danang Mandala Prihantoro dalam keterangannya, kemarin (20/9).

Danang memastikan data penumpang Lion Air di Indonesia hingga saat ini masih aman.

Jika ada bukti mengenai kebocoran data, maka akan segera dilakukan langkah-langkah sesuai ketentuan.

Dalam kasus ini, Lion Air Group juga sudah melaporkan atas kejadian dimaksud ke pihak berwajib menurut masing-masing negara yakni Lion Air (kode penerbangan JT), Batik Air (kode penerbangan ID) dan Wings Air (kode penerbangan IW) di Indonesia; Malindo Air (kode penerbangan OD) di Malaysia dan Thai Lion Air (kode penerbangan SL) di Thailand.

"Operator Lion Air Group di Indonesia telah melakukan tindakan tepat dan cepat menurut Peraturan No. 20 tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik (Peraturan Perlindungan Data), dalam rangka memastikan bahwa data para tamu tidak terganggu," jelas dia.

Lion Air Group menyatakan tidak menyimpan secara detail mengenai pembayaran dari tamu atau penumpang ke dalam server. Lion Group tidak mempunyai data-data terkait yang berhubungan pembayaran penumpang. Data yang tersebar bukan data pembayaran (finansial) dari penumpang.

"Lion Air Group terus mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan data," lanjut Danang.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, Lion Air Group mengimbau, kepada seluruh tamu atau penumpang yang memiliki akun miles untuk segera mengubah kata sandi (to change their passwords) jika kata sandi digunakan sama pada layanan yang lain secara online.

"Lion Air Group akan memberikan informasi sesuai perkembangan terbaru," tukas Danang.

Sebelumnya, Kaspersky Lab melaporkan ada sekitar 30 juta data penumpang Lion Air Group tepatnya Malindo Air dan Thai Lion Air bocor. Data yang dimaksud meliputi passport, alamat, dan nomor kontak.

Dilansir dari Channel News Asia, Malindo Air mengatakan tengah menginvestigasi laporan kebocoran data ini.

Sementara, Lion Air dan Thai Lion Air belum berkomentar.

Malindo Air juga sudah meminta pelanggan untuk mengganti kata sandinya.

Dilaporkan, data penumpang tersebut diunggah dan disimpan dalam Amazon Web Services (AWS), lokasi penyimpanan dalam cloud untuk publik.

Kaspersky mengatakan sebagian data penumpang maskapai grup Lion Air yang bocor telah diperjualbelikan. (din/fin/ima)

Berita Sebelumnya

Fantastis, Utang Bulog Rp28 Triliun
Fantastis, Utang Bulog Rp28 Triliun

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Pertumbuhan Ekonomi Digital Bantu Geliatkan Investasi

Pertumbuhan Ekonomi Digital Bantu Geliatkan Investasi

Perkembangan ekonomi digital di Tanah Air cukup tumbuh secara signifikan. Hal itu bisa mendorong investor asing menanamkan modalnya ke Indonesia.


OMG!, Makin Suka-suka Akses Youtube dan Social Media

OMG!, Makin Suka-suka Akses Youtube dan Social Media

Telkomsel menghadirkan Paket Kuota Data Oh My Gigabytes! (OMG!) yang merupakan paket baru Telkomsel


Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air Rujuk

Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air Rujuk

Selang sehari Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air memutuskan untuk berpisah, kemarin keduanya sepakat kembali menjalin kerja sama.


Kurangi Utang BUMN, Swasta Perlu Dilibatkan

Kurangi Utang BUMN, Swasta Perlu Dilibatkan

Utang BUMN sudah sangat mengerikan. Setiap tahun mengalami kenaikan yang tidak sedikit.


Pentingnya UU Perlindungan Data untuk Fintech

Pentingnya UU Perlindungan Data untuk Fintech

Kehadiran financial technology alias fintech sejak akhir 2015 lalu hingga sekarang menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat.


Daya Beli Lemah, Alasan Giant Rontok dan Bukalapak Goyang

Daya Beli Lemah, Alasan Giant Rontok dan Bukalapak Goyang

Tahun 2019, merupakan tahun terberat bagi para pelaku usaha di Tanah Air.


Kenang BJ Habibie Kuatkan Rupiah Saat Krisis Ekonomi

Kenang BJ Habibie Kuatkan Rupiah Saat Krisis Ekonomi

Banyak karya yang telah disumbangkan oleh Presiden ke-3 RI BJ Habibie, sehingga putra bangsa itu tidak hanya dikenal di Tanah Air, melainkan di dunia.


Pemerintah Tak Perlu Intervensi Soal Harga Cabai

Pemerintah Tak Perlu Intervensi Soal Harga Cabai

Sejak tiga bulan lalu sampai saat ini harga cabai masih tetap tinggi. Bahkan saat ini tembus mencapai Rp100 ribu per kilogram (kg).


Pemerintah Dorong Mobil Listrik untuk Angkutan Umum

Pemerintah Dorong Mobil Listrik untuk Angkutan Umum

Kemenhub mendorong pengembangan mobil listrik di Indonesia diterapkan pada angkutan umum sebelum untuk transportasi pribadi.


Perang Dagang, Indonesia Potensi Kena Resesi Ekonomi

Perang Dagang, Indonesia Potensi Kena Resesi Ekonomi

Perang dagang yang semakin memanas antara Amerika Serikat (AS)-Cina dan Jepang-Korea, ditambah kasus Brexit yang tak segera selesai



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!