Ekonomi
Share this on:

Kebutuhan Konsumtif Kerek Pinjaman Online Saat Ramadan

  • Kebutuhan Konsumtif Kerek Pinjaman Online Saat Ramadan
  • Kebutuhan Konsumtif Kerek Pinjaman Online Saat Ramadan

JAKARTA - Selama Ramadan dan menjelang Lebaran 2019, diperkirakan permintaan pinjaman melalui fintech Peer-to-Perr (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) bakal terus mengalami peningkatan. Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah mengatakan peningkatan permintaan pinjol disebabkan untuk kebutuhan yang bersifat konsumtif.

"Ketika masuk Ramadan, selain pembiayaan konsumtif juga ada pembiayaan produktif (yang juga) meningkat," ujar Kuseryansyah di Jakarta, Kamis (16/5) kemarin.

Ramadan tahun lalu, kata dia, pertumbuhan permintaan ojol mencapai sebesar 15-20 persen. Sedangkan untuk tahun ini, dia memprediksi akan di atas angka itu. Namun dia belum bisa menyebutkan angka persisnya.

"Angka pastinya lagi kita lihat. Tahun lalu 15-20 persen, tapi dengan adanya penambahan penyelenggara fintech, peningkatan lebih dari itu," kata Kuseryansyah.

Catatan AFPI, hingga per Maret 2019, total pendanaan penyaluran pinjol mencapai Rp33 triliun. Angka itu diakumulasi selama dua tahun dari 113 anggota fintech yang tergabung di AFPI.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga Maret 2019 akumulasi pinjaman yang telah disalurkan perusaan fintech lending mencapai Rp33,20 triliun. Angka ini tumbuh sebesar 46,68 persen (ytd) dibandingkan posisi pada Desember 2018 senilai Rp22,67 triliun.

Menurut Kuseryansyah jumlah penyaluran tersebut merupakan pencapain yang positif. Sebab, selama 2019 ini industri pinjol telah berkembang pesat. "Industri pinjol telah tumbuh sebesar 50 persen secara year to date," ucap dia.

Berdasarkan data OJK saat ini, terdapat 113 penyelenggara fintech lending yang terdaftar dan berizin di OJK, yang terdiri dari 107 penyelenggara bisnis konvensional dan 6 penyelenggara bisnis syariah. Dan lima di antaranya sudah berstatus izin.

Sementara Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nailul Huda menilai bisnis pinjol akan menurun dibandingkan tahun lalu. Hal itu disebabkan penagihan yang cenderung mengarah pada tiundakan kriminal. Dia memprediksi diprediksi peningkatan tahun ini tdak akan seperti tahun lalu yang naik sekitar 784 persen.

"Pertumbuhan tahun ini paling berada di bawah angka tersebut (784 persen), bahkan bisa di bawah 100 persen pertumbuhannya," ujar Huda kepada Fajar Indonesia (FIN).

Lanjut Huda, selain minat masyarakat mengalami penurunan terhadap pinjol, juga disebabkan karena pemberian bunga yang terlalu tinggi. "Tapi bunga yang tinggi ini dinilai memang konsekuensi dari kemudahan masyarakat dalam administrasi peminjaman di fintech," kata Huda.

Seharusnya, kata Huda, bunga yang ditawarkan oleh fintech sama dengan bunga yang ditawarkan oleh perbankan. Hal tersebut bisa saja terjadi apabila fintech dan perbankan saling bersinergi. "Bukan mustahil dilakukan apabila fintech bekerjasama dengan perbankan dalam operasionalnya," ucap Huda.

Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian, dan Pengembangan Fintech OJK, Munawar Kasan, mendukung fintech dan perbankan saling bersinergi. "Sinergi akan menghasilkan hasil yang berlipat daripada saling melemahkan," kata Munawar.

Seperti diketahui, fintech lahir dengan semangat memberikan kemudahan akses layanan jasa keuangan yang lebih cepat dan lebih mudah. Fintech berkembang dengan pesat di sejumlah negara pasca keuangan global pada 2008 silam. (din/zul/fin)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Kasus Lion Air Group, Perlu UU Data Pribadi

Kasus Lion Air Group, Perlu UU Data Pribadi

Pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini rupanya tidak diikuti keamanan sistemnya.


Sudah Tahu Anterin? Pesaing Gojek dan Grab

Sudah Tahu Anterin? Pesaing Gojek dan Grab

Penyedia transportasi online Gojek dan Grab punya pesaing baru yang bernama Anterin.id.


Kenaikan Cukai Rokok Kerek Inflasi

Kenaikan Cukai Rokok Kerek Inflasi

Kenaikan cukai rokok 23 persen dan harga jual eceran dengan rata-rata 35 persen pada tahun depan, berpotensi menyumbang laju inflasi.


Pajak Produk e-Commerce Kini Lewat Sistem Online Loh

Pajak Produk e-Commerce Kini Lewat Sistem Online Loh

Pemerintah untuk dua pekan ke depan akan menerapkan pajak terhadap transaksi cross border atau lintas batas antarnegara


Kenang BJ Habibie Kuatkan Rupiah Saat Krisis Ekonomi

Kenang BJ Habibie Kuatkan Rupiah Saat Krisis Ekonomi

Banyak karya yang telah disumbangkan oleh Presiden ke-3 RI BJ Habibie, sehingga putra bangsa itu tidak hanya dikenal di Tanah Air, melainkan di dunia.


Pemerintah Tak Perlu Intervensi Soal Harga Cabai

Pemerintah Tak Perlu Intervensi Soal Harga Cabai

Sejak tiga bulan lalu sampai saat ini harga cabai masih tetap tinggi. Bahkan saat ini tembus mencapai Rp100 ribu per kilogram (kg).


Bulan Depan, Tarif Ojol Serentak Berlaku di Seluruh Indonesia

Bulan Depan, Tarif Ojol Serentak Berlaku di Seluruh Indonesia

Pemberlakuan tarif baru ojek online (ojol) akan berlaku penuh di seluruh Indonesia mulai 2 September 2019 dini hari.


Krisis Garam Industri, 180 Karyawan di-PHK

Krisis Garam Industri, 180 Karyawan di-PHK

Saat ini stok garam industri sebanyak 77 ribu ton. Angka ini akan habis pada September mendatang.


Pemerintah Targetkan Kepemilikan Utang Asing 20 Persen

Pemerintah Targetkan Kepemilikan Utang Asing 20 Persen

Saat ini kepemilikan utang asing dalam Surat Utang Negara (SUN) di Indonesia mencapai Rp1.005 triliun atau 38,49 persen.


Harga Garam Makin Anjlok Rp250 per Kg

Harga Garam Makin Anjlok Rp250 per Kg

Harga garam sejak bukan Juni 2019 sampai saat ini semakin melorot. Padahal saat ini sedang berlangsung panen garam.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!