Ekonomi
Share this on:

Lebih Responsif Genjot Pasar Ekspor

  • Lebih Responsif Genjot Pasar Ekspor
  • Lebih Responsif Genjot Pasar Ekspor

JAKARTA - Indonesia harus lebih responsif menyikapi perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok. Sebab, bukannya mereda, hubungan dagang antara kedua negara justru kian panas.

Apalagi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memberlakukan tarif 10 persen terhadap impor Tiongkok senilai USD 200 miliar atau Rp 3.000 triliun. Bahkan, Trump menegaskan siap melancarkan kenaikan tarif fase ketiga senilai USD 267 miliar jika Tiongkok mengambil tindakan balasan terhadap produk AS.

’’Kami sudah sangat jelas mengenai jenis perubahan yang harus dilakukan dan telah memberikan semua peluang kepada Tiongkok untuk memperlakukan kami lebih adil. Tapi, sejauh ini Tiongkok tidak bersedia mengubah praktiknya,’’ ujar Trump dikutip dari Reuters.

Bea masuk 10–25 persen yang ditetapkan AS pada produk Tiongkok berlaku mulai 24 September mendatang. Produk yang dikenai tarif meliputi barang keperluan sehari-hari seperti koper, tas jinjing, kertas toilet, hingga wol. Produk makanan juga tak luput dikenai bea masuk seperti daging beku, beragam jenis ikan, kedelai, buah-buahan, serta beras.

Tiongkok belum melontarkan pernyataan resmi dan rencana detail menanggapi langkah terbaru AS. Dilansir dari Reuters, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Tiongkok Geng Shuang menuturkan bahwa langkah-langkah AS telah membawa ’’ketidakpastian baru’’ untuk pembicaraan antara kedua negara. Memanasnya hubungan dagang kedua negara membuat kekhawatiran dampak terhadap negara berkembang belum hilang. Termasuk Indonesia.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Iman Pambagyo menjelaskan, setelah saling menaikkan tarif untuk produk impor, AS dan Tiongkok bakal mencari pasar baru untuk ekspor produknya.

’’Perang dagang ini meningkatkan persaingan pasar karena produk yang dihasilkan Tiongkok dan AS akan mencari pasar ke negara lain. Indonesia, salah satunya,’’ jelasnya di kantor Kemendag kemarin (18/9).

Iman menambahkan, Indonesia bakal tetap melakukan pendekatan positif kepada kedua negara. Indonesia akan mengelola impor secara lebih baik karena ada trade diversion dari Tiongkok dan AS. Selain itu, pemerintah bakal mengajak pengusaha membantu mengedukasi sekaligus meningkatkan kecintaan produk dalam negeri.

Di sisi lain, perang dagang yang terjadi antara AS dan Tiongkok juga disebut bisa membawa dampak positif bagi Indonesia. Sebab, Indonesia bisa memanfaatkan perang dagang tersebut untuk menggenjot ekspor produk ke dua negara tersebut.

Sekretaris Jenderal Kemendag Karyanto Suprih menyebutkan, komoditas Indonesia yang ekspornya berpotensi terus digenjot ke AS dan Tiongkok, antara lain, produk perikanan, minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya, serta buah-buahan.

Sementara itu, Ketua Komite Tetap Pengembangan Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Handito Joewono menegaskan bahwa para pengusaha akan berupaya menangkap peluang ekspor.

Pihaknya juga sudah menyiapkan strategi pengembangan ekspor yang sebenarnya terangkum dalam road map pengembangan ekspor Indonesia 2016–2030. Beberapa poinnya adalah penambahan jumlah eksporter, diversifikasi produk dan pasar ekspor, serta peningkatan harga ekspor.

’’Perang dagang mengakibatkan Amerika dan Tiongkok mengalami kekurangan pasokan terhadap produk tertentu. Kondisi ini memungkinkan Indonesia mengirimkan komoditas tersebut sebagai pengganti dengan harga lebih tinggi,’’ tuturnya.

Ekonom Indef Eko Listiyanto mengungkapkan, pemerintah harus responsif terhadap kinerja ekspor. Sebab, meski secara tahunan nilai ekspor Agustus 2018 tumbuh 4,15 persen, secara bulanan kinerja ekspor menurun 2,9 persen menjadi USD 15,82 miliar. Menurut Eko, ekspor dapat turun lebih dalam jika pemerintah tidak responsif terhadap sikap AS dalam memproteksi perekonomiannya dari serbuan barang impor.

’’Sebab, selain Tiongkok, kita masih memiliki hubungan ekspor impor dengan AS dan Jepang,’’ terangnya. (agf/rin/c14/fal/jpg)

Berita Sebelumnya

Sepakat Kurs di Level Rp14.500 per USD
Sepakat Kurs di Level Rp14.500 per USD

Berita Berikutnya

Perbankan Kerek Dana Murah
Perbankan Kerek Dana Murah

Berita Sejenis

Target Ekspor Lebih Rendah daripada 2018

Target Ekspor Lebih Rendah daripada 2018

Pertumbuhan ekspor nonmigas tahun ini dipatok lebih rendah daripada 2018.


UKM Didorong Lebih Manfaatkan Teknologi Digital

UKM Didorong Lebih Manfaatkan Teknologi Digital

Perkembangan dunia digital memungkinkan usaha kecil dan menengah (UKM) untuk tumbuh. Tidak terkecuali usaha yang dijalankan dari rumah oleh para perempuan.


Konsumsi Solar-Premium di Bawah Kuota

Konsumsi Solar-Premium di Bawah Kuota

Upaya pemerintah menekan penyelewengan konsumsi solar, premium, dan minyak tanah bersubsidi agar lebih tepat sasaran menunjukkan hasil.


Terdorong Permintaan Pasar Domestik

Terdorong Permintaan Pasar Domestik

Kinerja sektor industri agro diproyeksi terdongkrak karena lonjakan permintaan domestik seperti produk makanan dan minuman pada momen pemilihan umum (pemilu).


Potensi Pasar Saham Syariah

Potensi Pasar Saham Syariah

Pasar saham syariah menunjukkan kinerja yang positif pada 2018. Jumlah investor saham syariah per November tumbuh 82 persen.


Pemerintah Kaji Pemberian Keringanan Pajak

Pemerintah Kaji Pemberian Keringanan Pajak

Pemerintah berupaya memacu kinerja ekspor barang, termasuk hasil pertanian dan perkebunan.


2018, BEI Himpun Dana Rp16,01 Triliun

2018, BEI Himpun Dana Rp16,01 Triliun

Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengatakan, total dana yang dihimpun selama 2018 dari pasar modal sebesar Rp 16,01 triliun.


Peluang Genjot Sektor Perdagangan

Peluang Genjot Sektor Perdagangan

Kesepakatan Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA) memberikan peluang bagi pelaku usaha Indonesia.


Semakin Diminati, KA Joglosemarkerto Selalu Penuh 90 Persen Lebih

Semakin Diminati, KA Joglosemarkerto Selalu Penuh 90 Persen Lebih

Antusiasme penumpang Kereta Api (KA) Komuter Joglosemarkerto sangat tinggi. Bahkan tingkat okupansinya gila-gilaan, di atas 90 persen.


Pacu Ekspor lewat Kawasan Berikat

Pacu Ekspor lewat Kawasan Berikat

Berbagai kemudahan diberikan kepada para pelaku usaha untuk memacu ekspor. Yang terbaru, pemerintah menerbitkan aturan anyar tentang Kawasan Berikat.



Video

Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!