Ekonomi
Share this on:

Mahal, Maskapai Asing Tak Jamin Tiket Murah

  • Mahal, Maskapai Asing Tak Jamin Tiket Murah
  • Mahal, Maskapai Asing Tak Jamin Tiket Murah

JAKARTA - Mahalnya tiket penerbangan masih menjadi isu krusial. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menilai ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan pemerintah supaya maskapai penerbangan nasional bisa survive di pasar transportasi udara.

Ketua Badan Pengurus Pusat (BPP) Hipmi Bagas Adhadirgha menyebutkan, Indonesia adalah satu-satunya negara yang menerapkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap avtur. Komponen avtur itu disebut sangat memengaruhi biaya operasional airlines.

"Biaya operasional akan berpengaruh pada harga tiket transportasi udara," ujar Bagas, kemarin (12/6).

Pria yang juga menjabat CEO Asia Aero Technology itu menambahkan, harga tiket juga dipengaruhi unsur eksternal seperti perpajakan dan biaya fasilitas bandara.

"Solusinya, komponen penunjang transportasi udara seperti spare parts dan avtur dibebaskan dari biaya pajak. Ambil pajaknya nanti di komponen tiket sehingga tidak terjadi dobel pajak. Dengan begitu, biaya operasional akan terpangkas," bebernya.

Menurut Bagas, tiket pesawat mahal pasti akan memengaruhi pariwisata domestik meski tak menjadi faktor utama naik turunnya wisatawan.

"Selama ini tiket pesawat udara hanya menyumbang 10 persen dari total pemasukan pariwisata," urainya.

Pemerintah sempat mencuatkan wacana akan membuka kompetisi pasar penerbangan Indonesia untuk maskapai asing. Namun, menurut pengamat, hal tersebut tak serta-merta bisa menyelesaikan masalah.

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno menganggap, dibukanya pintu bagi maskapai asing di Indonesia tidak menjamin harga tiket pesawat bisa terpangkas.

"Tidak akan berikan solusi tarif bisa murah. Operasional pesawat udara itu memang mahal. Kenapa pernah murah, karena maskapainya menggunakan tarif promosi," ujarnya.

Dia ragu maskapai asing mau melebarkan sayap bisnisnya ke dalam industri penerbangan di Indonesia. Sebab, maskapai internasional seperti AirAsia saja tidak berkembang pesat di Indonesia.

"Andaikan menguntungkan, tanpa diminta pun, pasti asing akan masuk," tandasnya. (fin/ima)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Startup Unicorn RI Bakal Dikuasai Investor Asing

Startup Unicorn RI Bakal Dikuasai Investor Asing

Satu persatu perusahaan rintisan teknologi (startup) unicorn Indonesia dimiliki asing.


Maskapai Citilink Setop Penerbangan Bandara Kertajati

Maskapai Citilink Setop Penerbangan Bandara Kertajati

Hampir sebulan beroperasi, Maskapai Citilink telah menghentikan sejumlah rute dari dan ke Bandara Kertajati, Jawa Barat sejak 26 Juli 2019.


BPJS Kesehatan Masih Tekor, Bagaimana Solusinya?

BPJS Kesehatan Masih Tekor, Bagaimana Solusinya?

Sejak lima tahun lalu sampai saat ini penyakit BPJS Kesehatan tak kunjung disembuhkan.


Gaung Sistem OSS Belum Terdengar

Gaung Sistem OSS Belum Terdengar

Layanan sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik masih kedengaran asing seperti apa penggunaan dan aplikasinya.


Blok Corridor Kembali Dikelola Asing

Blok Corridor Kembali Dikelola Asing

Belum selesai kontraknya, Perusahaan energi multinasional asal Amerika Serikat, Conoco Philips (Grissik) kembali meneken kontrak baru.


Perizinan di Daerah Masih Tak Sinkron

Perizinan di Daerah Masih Tak Sinkron

Ribetnya perizinan di daerah sampai saat ini masih menjadi penghambat investor masuk di daerah.


Lion Air Tunda Turunkan Tarif

Lion Air Tunda Turunkan Tarif

Keinginan pemerintah meminta maskapai menurunkan tarif tiket tak sesuai harapan. Maskapai penerbangan Lion Air masih menunda penurunan tarif penerbangannya.


Bandel, Maskapai Lion Air Belum Turunkan Tarif

Bandel, Maskapai Lion Air Belum Turunkan Tarif

Keputusan pemerintah menurunkan tiket pesawat sebesar 50 persen dari Tarif Batas Atas (TBA), ternyata masih saja ada maskapai yang bandel


Kompetisi Maskapai Tidak Sehat, Regulasi Keputusan Terbaik

Kompetisi Maskapai Tidak Sehat, Regulasi Keputusan Terbaik

Keputusan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengeluarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 106/2019 tentang Tarif Batas Atas (TBA)


Lagi, Data Kementerian Tak Sinkron, Impor Garam Berlebih

Lagi, Data Kementerian Tak Sinkron, Impor Garam Berlebih

Setelah persoalan harga ayam telah selesai, kini muncul masalah baru yakni harga garam yang anjlok di tingkat petani.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!