Ekonomi
Share this on:

Minat Investasi Properti Luar Negeri Tinggi

  • Minat Investasi Properti Luar Negeri Tinggi
  • Minat Investasi Properti Luar Negeri Tinggi

SURABAYA - Minat membeli properti di luar negeri, rupanya, relatif lebih stabil ketimbang di dalam negeri. Bagi investor, memiliki properti di luar negeri bisa menjadi alternatif investasi sekaligus menambah portofolio investasi.

Principal Ray White Satelit Bambang Budiono menyatakan, alasan investor mempunyai properti di luar negeri cukup beragam. ’’Ada yang murni investasi. Tapi, banyak juga yang membeli untuk kebutuhan tempat tinggal anak selama sekolah di luar negeri,’’ ujarnya, kemarin.

Situasi itu melatarbelakangi Ray White dan Era Galaxy mengadakan ekshibisi. Mereka menawarkan sembilan proyek, baik landed house maupun apartemen, yang tersebar di beberapa negara.

Di antaranya, Johor Baru, Malaysia; Singapura; Auckland, Selandia Baru; serta Australia yang mencakup Sydney, Melbourne, dan Perth. Ada pula proyek di Bali dan Gili Trawangan, Lombok. ’’Bagi investor, regulasi pajak penjual di sana cukup menarik,’’ katanya.

Besaran pajak bagi penjual dihitung dari laba atau capital gain. Berbeda dengan di Indonesia, pajak dihitung dari harga jual properti. Rata-rata capital gain berbeda-beda setiap lokasi. Di Australia, misalnya, rata-rata capital gain setiap tahun mencapai 8–10 persen.

Principal Era Galaxy Sumatera Henry Nugroho menjelaskan, bila digunakan sebagai investasi, pendapatan lain dari membeli properti di luar negeri berasal dari sewa atau yield. Rata-rata yield setiap tahun mencapai 3–4 persen.

’’Kisaran harga sewa itu mengikuti inflasi. Kebanyakan laju inflasi di luar negeri relatif stabil,’’ ungkapnya.

Kemudahan lain membeli properti di luar negeri adalah suku bunga kredit yang terjangkau. Yakni, kurang dari 5 persen. ’’Tapi, sekarang membeli secara in-house lebih mendominasi, sekitar 60 persen,’’ jelasnya.

Stabilitas politik dan ekonomi di negara tujuan investasi juga menjadi pertimbangan. Karena itu, meski pajak pembeli dipatok tinggi, animo konsumen tidak terpengaruh. Contohnya, Singapura yang menaikkan pajak bagi pembeli menjadi 18 persen. Sebagaimana diketahui, pajak tersebut ditetapkan untuk menekan arus pembeli properti asing sekaligus menekan kenaikan harga properti di sana.

’’Tapi, minat pembeli asing, termasuk dari Indonesia, untuk membeli di Singapura masih tinggi. Jadi, pajak sebesar itu dinilai tidak mahal karena lokasinya menjanjikan,’’ terang Bambang.

Regulasi lain yang juga mendukung masuknya pembeli asing di negara tersebut adalah pemberian hak milik. Kecuali untuk properti yang dibangun di atas lahan sewa, hak yang diberikan dibatasi dalam jangka waktu tertentu. Misalnya, selama 90 tahun.

’’Hampir di semua negara menerapkan hak milik. Beda dengan Indonesia yang statusnya hak pakai,’’ paparnya.

Sebagai alternatif investasi, tidak sedikit pembeli properti di luar negeri yang melakukan pembelian berulang. ’’Bukan untuk dirinya saja, tapi juga merekomendasikan kepada saudara dan teman,’’ tuturnya. Meski demikian, pembeli baru masih lebih mendominasi. (res/c14/fal/jpg)


Berita Sebelumnya

Investasi Menutup Pelemahan Konsumsi
Investasi Menutup Pelemahan Konsumsi

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Investasi Menutup Pelemahan Konsumsi

Investasi Menutup Pelemahan Konsumsi

Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempaat tahun ini dapat mengompensasi kinerja triwulan ketiga yang berada di bawah ekspektasi.


OJK Terbuka terhadap Akuisisi Danamon

OJK Terbuka terhadap Akuisisi Danamon

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut baik minat Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) yang akan membeli 40 persen saham Bank Danamon.


Kemenkop & UKM Perluas Hubungan dengan Negeri K-Pop

Kemenkop & UKM Perluas Hubungan dengan Negeri K-Pop

Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop & UKM) mendorong pengusaha UKM berinovasi. Termasuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) berdaya saing.


Properti Komersial Masih Diminati

Properti Komersial Masih Diminati

Kebutuhan berbisnis di kalangan pelaku usaha masih tinggi. Permintaan terhadap properti komersial pun tidak pernah surut.


Investor Domestik Mulai Tumbuh

Investor Domestik Mulai Tumbuh

Kontribusi investor dalam negeri dalam perkembangan pasar modal kian berkembang.


Prospek Bisnis Starup Makin Bersinar

Prospek Bisnis Starup Makin Bersinar

Perkembangan startup di Asia Tenggara semakin pesat. Angka investasi terhadap perusahaan rintisan meningkat 23 kali lipat.


Bentuk Holding Itu Lebih Disegani

Bentuk Holding Itu Lebih Disegani

Kalangan DPR RI menyambut baik rencana pembentukan holding BUMN. Seperti holding tambang, energi, properti, konstruksi hingga perbankan.


Market Properti Masih Tumbuh

Market Properti Masih Tumbuh

Pengembang properti Intiland Development (DILD) sukses mencatat penjualan (marketing sales) Rp3 triliun.


Korban Investasi Bodong Tak Ditanggung Negara

Korban Investasi Bodong Tak Ditanggung Negara

Ketua Satuan Tugas Waspada Investasi, Tongam Tobing mengatakan, tidak sedikit korban penipuan investasi bodong di Indonesia adalah orang-orang berpendidikan.


Waktu Tunggu KRL dari Jakarta Masih Dikeluhkan

Waktu Tunggu KRL dari Jakarta Masih Dikeluhkan

Antusiasme warga menggunakan KRL Lintas Cikarang-Jakarta Kota yang belum lama ini dioperasikan semakin tinggi.



Kolom

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!