Ekonomi
Share this on:

Mustahil Indonesia Ekspor Beras

  • Mustahil Indonesia Ekspor Beras
  • Mustahil Indonesia Ekspor Beras

JAKARTA - Wacana Indonesia akan mengekspor beras Bulog ke Negara Papua Nugini dan Timor Leste dianggap tidak akan mungkin terjadi. Hal itu karena harga rata-rata beras dalam negeri terlalu tinggi untuk diekspor.

Hal tersebut salah satu solusi untuk menyerap beras yang tersimpan di gudang Bulog. Sampai saat ini sebanyak 2/3 beras Bulog terancam busuk.

Pengamat Pertanian Dwi Andras mengaku bingung dengan metode penghitungan rencana ekspor beras itu. Mengingat kualitas beras yang sudah menurun karena telah tersimpan hampir satu tahun, dan juga harga yang tinggi di pasar domestik.

"Saya nggak tahu persis hitung-hitungannya seperti apa. Lha beras sudah disimpan hampir satu tahun,' kata Dwi kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (2/7).

Di pasaran, kata dia, rata-rata harga beras di tingkat eceran berkisaran Rp11.700 per kilogram (kg). Sementara beras di negara tetangga seperti Thailand, pada tahun 2017 dijual di pasaran 110 dolar Amerika Serikat (AS) per ton atau setara Rp1,5 juta. Untuk harga eceran dijual Rp1.600 per kg.

"Pertanyaannya di pasar domestik saja Rp11.700. Apa masuk akal mau diekspor?," kata Dwi.

Dwi mengungkapkan, saat ini beras baru dengan kualitas premium broken 5 persen di pasar internasional dijual dengan harga sekitar 430 dolar AS per ton atau setara Rp6 juta. Sedangkan harga eceran dijual Rp6 ribu per kg.

"Ini hanya sekadar wacana saja. Karena kita juga harus melihat harga pasar di kancah internasional seperti apa. Jadi saran saya lebih baik pemerintah konsentrasi bagaimana beras tersebut dilepas di Indonesia karena potensi pasar masih tinggi berada di eceran Rp11.700 per kg," tutur Dwi.

Artinya, lanjut Dwi menjelaskan, jika dijual di tingkat eceran dengan harga hingga Rp11.900 masih akan tetap laku.

Dwi juga mengingatkan, bahwa tahun ini volume produksi beras akan mengalami penurunan. Sebab luas tanam yang tiap tahun berkurang dan pergeseran musim tanam.

"Target panen bulan Agustus puncak panen kedua. Karena musim kering dan pasti cukup besar fusonya, maka produksi tahun ini akan lebih rendah dibanding tahun 2018. Perkiraan saya produksi beras 2 juta ton lebih rendah dibanding tahun lalu, dengan total 32,6 juta ton," papar Dwi.

Terpisah, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso berencana melakukan ekspor 1 juta ton beras. Kebijakan ini ditempuh sebagai salah satu solusi mengatasi penumpukan beras di gudang Bulog yang mulai membusuk.

Ada dua negara yang diincar, yakni Papua Nugini dan Timor Leste. Menurut mantan kepala BNN itu kedua negara tersebut sedang membutuhkan beras.

"Kita bisa saja nanti kan banyak yang butuhkan (beras) juga, bisa juga dengan potensi ekspor kami minta izin lagi karena negara tetangga kita butuh, Papua Nugini, Timor Leste," kata Budi di Jakarta, Selasa (20/7).

Lanjut dia, ekspor hanya sekadar usulan sehingga belum mendapat restu dari pemerintah. Adapun beras yang akan diekspor adalah Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

"Kami sedang ajukan usul ke pemerintah untuk bisa kami lepas karena ini kan CBP. Tidak bisa dijual kalau tidak ada penugasan dari mereka. Paling tidak 1 juta bisa kita lepas tapi harus persetujuan pemerintah," jelas pria yang beken disapa Buwas itu.

Buwas mengklaim beras yang berada di gudang Bulog merupakan produk impor dengan kualitas yang masih bagus meski disimpan cukup lama di gudang Bulog. Menurut dia, jika beras tersebut dijual, maka nanti dana hasil ekspor beras akan dipakai mengganti CBP dengan menyerap beras dari petani.

"Kami lepas 1 juta dari 2,2 juta yang CBP dengan asumsi kami ganti. Sehingga kami punya peluang untuk serap lebih banyak lagi. Kalau tidak dikasih kesempatan 1 juta ini kami tidak bisa serap lagi," kata dia.

Sementara Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang mengatakan, akan mengupayakan Bulog bisa menyalurkan beras ke Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebanyak 70 persen. Penyaluran ini bertambah.

"BPNT fokusnya, kita akan upayakan akan lebih dari 70 persen. Akan di atas 70 persen. Ya kalau bisa 70 sampai 100 persen," ungkap Agus di Jakarta, kemarin (2/7).

Agus meyakini bahwa kualitas beras Bulog masih baik, sehingga bisa untuk menyupplai masyarakat pada program BPNT.

Direktur Pengadaan Perum Bulog Bachtiar menambahkan, sebanyak 700 ribu ton beras Bulog akan disalurkan ke BPNT hingga Desember 2019.

"Penyaluran beras sekitar 700 ribuan ton, Juli sampe dengan Desember ya," pungkas Bachtiar. (fin/ima)

Berita Sebelumnya

Desak Ritel Beli Ayam Peternak
Desak Ritel Beli Ayam Peternak

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Smartfren, FX, Senimart Ajak Millenials Toleransi Perbedaan

Smartfren, FX, Senimart Ajak Millenials Toleransi Perbedaan

Mengambil momentum HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 yang mengambil tema “Menuju Indonesia Unggul”, Smartfren, FX dan juga Senimart.


Dongkrak Ekspor Temukan Kendala

Dongkrak Ekspor Temukan Kendala

Sebagaimana perintah Presiden Jokowi Widodo (Jokowi) untuk menggeliatkan pasar ekspor di mancanegara, namun tidak semudah yang diharapkan.


Pemerintah Targetkan Kepemilikan Utang Asing 20 Persen

Pemerintah Targetkan Kepemilikan Utang Asing 20 Persen

Saat ini kepemilikan utang asing dalam Surat Utang Negara (SUN) di Indonesia mencapai Rp1.005 triliun atau 38,49 persen.


Sukseskan HUT RI-74, Sharp Indonesia Siapkan SDM Maju Lewat Sharp Class di Pamekasan

Sukseskan HUT RI-74, Sharp Indonesia Siapkan SDM Maju Lewat Sharp Class di Pamekasan

Sambut HUT RI ke-74, PT Sharp Electronics Indonesia turut menyukseskan tema ‘SDM Maju Indonesia Unggul’


Ribetnya Regulasi Bikin Hambat Investasi

Ribetnya Regulasi Bikin Hambat Investasi

Bank Indonesia (BI) menyebutkan investasi di kuartal II tahun ini bergerak tipis 5,01 persen atau lebih rendah


Idul Kurban Sumbang Inflasi

Idul Kurban Sumbang Inflasi

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebutkan Hari Raya Idul Adha menyumbang inflasi sepanjang bulan Agustus 2019.


Ini Lima Jurus Jitu Genjot Ekspor Pertanian

Ini Lima Jurus Jitu Genjot Ekspor Pertanian

Sesuai arahan Presiden Jokowi, Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian terus berupaya meningkatkan volume ekspor produk pertanian.


Defisit Transaksi Berjalan 3,04 Persen Masuk Bahaya

Defisit Transaksi Berjalan 3,04 Persen Masuk Bahaya

Bank Indonesia (BI) mencatat defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II 2019 sebesar 8,4 miliar dolar AS atau setara 3,04 persen


Ekspor CPO Diprediksi Turun Jadi 30 Juta Ton

Ekspor CPO Diprediksi Turun Jadi 30 Juta Ton

Penjegalan sawit Indonesia di Uni Eropa diperkirakan membuat ekspor sawit tahun ini menurun sebanyak 30 juta ton hingga akhir tahun 2019 ini.


Kontribusi Go-Jek Terhadap Perekonomian Indonesia Hingga Rp55 Triliun

Kontribusi Go-Jek Terhadap Perekonomian Indonesia Hingga Rp55 Triliun

Kehadiran transportasi online meningkatkan perekonomian masyarakat, sekaligus mengurangi pengangguran di Tanah Air.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!