Ekonomi
Share this on:

Pasar Tanggapi Dingin Kenaikan Rating

  • Pasar Tanggapi Dingin Kenaikan Rating
  • Pasar Tanggapi Dingin Kenaikan Rating

JAKARTA - Pasar modal Indonesia tidak cukup bergairah dalam merespons kenaikan peringkat utang dari Moody’s. Salah satu lembaga pemeringkat yang paling dipercaya investor global tersebut menaikkan peringkat dari Baa3/outlook positif menjadi Baa2/outlook stabil kepada Indonesia.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) masih berada di zona merah dengan penurunan 0,64 persen ke level 6.270,33 kemarin (13/4). Asing mencatat jual bersih (net sell) sebesar Rp620,71 miliar di seluruh market.

Analis Henan Putihrai Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengungkapkan, Standard & Poor’s (S&P) sebetulnya mempunyai pengaruh yang lebih kuat di mata pelaku pasar. S&P memang dikenal sebagai lembaga pemeringkat yang cenderung konservatif sehingga tidak mudah menaikkan peringkat.

’’Meski laporan Moody’s menyatakan peringkat utang Indonesia naik, kita masih harus menunggu laporan dari lembaga yang lebih reliable,’’ katanya kemarin. Moody’s, S&P, dan Fitch Rating adalah trio lembaga pemeringkat yang paling dipercaya investor global.

Dia menambahkan, kenaikan peringkat dari Moody’s telah banyak diantisipasi pasar sehingga bukan suatu hal yang mengejutkan. Namun, pada dasarnya kenaikan peringkat itu tetap diapresiasi meski tidak terlihat euforia pasar dalam jangka pendek.

Dalam jangka panjang, dana asing diyakini masih masuk ke Indonesia. Sebab, keyakinan investor global terhadap Indonesia makin naik seiring peringkat yang bagus dan pengelolaan utang yang baik. Sebagian besar dana asing tersebut bakal masuk ke sektor infrastruktur, terutama melalui pasar surat utang.

’’Indonesia masih menjadi pasar yang menarik untuk berinvestasi. Situasi defisit anggaran negara yang rendah menjadikan kemungkinan gagal bayar pemerintah masih kecil sehingga investasi di instrumen ini (obligasi, Red) menarik,’’ ujar ekonom senior Bank Dunia untuk Indonesia Derek Chen.

Dalam laporannya, Moody’s menjelaskan bahwa kenaikan rating didukung kerangka kebijakan pemerintah dan otoritas lain yang lebih kredibel dan efektif dalam mendukung stabilitas kondisi ekonomi makro. Menurut Moody’s, kebijakan fiskal yang lebih hati-hati dan kebijakan moneter yang kondusif dapat meredam tekanan yang bersumber dari internal maupun eksternal.

Moody’s juga menilai bahwa membaiknya diversifikasi basis ekspor ikut mendukung terjaganya stabilitas perekonomian, khususnya dalam perbaikan defisit neraca transaksi berjalan.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menuturkan, lembaga pemeringkat internasional itu menilai kebijakan-kebijakan fiskal dan moneter cukup konsisten dilakukan dengan kehati-hatian. ’’Indonesia selama ini senantiasa bisa menjaga defisit tidak lebih dari 2,7 persen tahun lalu. Pada 2018 diperkirakan 2,2 persen,’’ tutur Agus di Hotel Radisson Batam kemarin.

Mantan Menkeu itu melanjutkan, di sisi lain, implementasi reformasi di bidang sektor riil dengan adanya sejumlah paket kebijakan ekonomi juga terus dievaluasi di lapangan. Kemudian, revolusi di bidang perizinan menjadi sangat efisien di pusat dan daerah. ’’Kami juga lihat EoDB (ease of doing business) dijadikan perhatian dan insentif-insentif dalam bentuk tax holiday dan tax allowance serta meningkatkan vokasi,’’ tuturnya.

Di tempat yang sama, Menko Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan bahwa kenaikan rating utang dari Moody’s tersebut dipastikan telah melalui berbagai kajian yang mendalam. Mantan gubernur BI itu menekankan bahwa kajian yang dikeluarkan Moody’s juga membahas utang pemerintah.

Dalam kajiannya, mereka menyebut, di antara negara-negara dengan peringkat investment grade, Indonesia adalah negara dengan persentase utang terhadap PDB yang terendah. ’’Di bawah 30 (persen),’’ tegasnya.

Ekonom Tony Prasetiantono menguraikan, kenaikan rating utang ini akan memberikan tambahan daya tarik bagi investor asing untuk masuk ke Indonesia. Yakni, melalui investasi langsung (foreign direct investment/FDI) atau secara tidak langsung dengan pembelian surat berharga di pasar modal. Akibatnya, daya dorong bagi ekonomi domestik bakal bertambah.

’’Ini akan menjadi energi positif bagi perekonomian Indonesia yang tengah terdampak ketidakpastian global,’’ ujarnya.

Beberapa negara yang berada dalam posisi rating sama dengan Indonesia versi Moody’s adalah Spanyol, Kolombia, Uruguay, Filipina, Bulgaria, India, Italia, dan Panama. (ken/rin/c14/sof/jpg)

Berita Sebelumnya

12 BUMN Merugi Rp5,2 Triliun
12 BUMN Merugi Rp5,2 Triliun

Berita Berikutnya

Percepat Orientasi Ekspor
Percepat Orientasi Ekspor

Berita Sejenis

Moody's Naikkan Rating Lima BUMN

Moody's Naikkan Rating Lima BUMN

Lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Investor Service menaikkan peringkat utang lima perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).


Ekspansif, Pengembang Bidik End User dan Kalangan Bisnis

Ekspansif, Pengembang Bidik End User dan Kalangan Bisnis

Pengembang properti tetap ekspansif menyasar pasar.


Pasar Alat Kesehatan Indonesia 2018 Tembus Rp13,5 Triliun

Pasar Alat Kesehatan Indonesia 2018 Tembus Rp13,5 Triliun

Pasar alat kesehatan (Alkes) tahun ini diperkirakan melampaui USD 1 miliar, setara Rp13,5 triliun.


Pemerintah Terbitkan Sukuk Global USD 3 Miliar

Pemerintah Terbitkan Sukuk Global USD 3 Miliar

Pemerintah kembali menerbitkan sukuk global di pasar internasional senilai USD 3 miliar atau sekitar Rp 40,5 triliun (kurs Rp13.500).


Investor Panen Hasil Investasi

Investor Panen Hasil Investasi

Otoritas pasar modal mengklaim investor tengah menikmati 'panen' hasil inveatasi.


Pasar Modal Butuh Dukungan

Pasar Modal Butuh Dukungan

Dukungan industri teknologi finansial atau financial technology (fintech) untuk pasar modal dinilai masih kurang.


Pasar Lembaga Pembiayaan di Tegal Sangat Potensial

Pasar Lembaga Pembiayaan di Tegal Sangat Potensial

Tegal rupanya menjadi daerah yang menjanjikan bagi pangsa pasar lembaga pembiayaan.


Surplus Neraca Dipengaruhi Kenaikan Harga Komoditas

Surplus Neraca Dipengaruhi Kenaikan Harga Komoditas

November tahun lalu kinerja impor melonjak. Dampaknya, surplus neraca dagang tergolong kecil, hanya USD 130 juta.


Kepercayaan Asing Dorong Peningkatan Investasi

Kepercayaan Asing Dorong Peningkatan Investasi

Pasar modal Indonesia begitu 'seksi' di mata dunia. Tahun ini saja, indeks harga saham gabungan (IHSG) berkal-kali mencetak rekor baru.


Perluas Pasar Elpiji Nonsubsidi

Perluas Pasar Elpiji Nonsubsidi

PT Pertamina (Persero) berencana meluncurkan produk liquefied petroleum gas (LPG) 3 kg.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!