Ekonomi
Share this on:

Pekerja Industri Diproyeksi Naik 8 Persen

  • Pekerja Industri Diproyeksi Naik 8 Persen
  • Pekerja Industri Diproyeksi Naik 8 Persen

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memprediksi kebutuhan tenaga kerja di sektor industri akan naik 8 persen sampai tahun 2035. Peningkatan ini tersebar pada seluruh subsektor manufaktur, seperti industri makanan dan minuman, logam, tekstil dan pakaian, serta otomotif.

Koordinator Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Mujiyono mengatakan, kenaikan ini disebabkan faktor meningkatnya investasi di sektor industri manufaktur. Seperti di tahun 2014 sebesar Rp195,74 triliun, naik menjadi Rp226,18 triliun di tahun 2018.

Hal ini berimbas pada naiknya serapan tenaga kerja di sektor industri. Seperti di tahun 2015 saja, tenaga kerja di manufaktur sebanyak 15,54 juta orang lalu di tahun 2018 naik menjadi 18 juta orang, bebernya kepada Fajar Indonesia Network, Rabu (1/5) kemarin.

Faktor lain yang menjadi dasar penyerapan sambung Mujiyono, adalah tingginya penyerapan tenaga kerja. setiap tahun rata-rata sektor industri membutuhkan tenaga kerja sebanyak 672 ribu orang. "Kami telah memperhitungkan, itu kalau industri dipatok tumbuh 5-6 persen," ungkapnya.

"Tingginya kebutuhan tenaga kerja tersebut seiring masuknya sejumlah investasi di Indonesia dan upaya pemerintah yang semakin gencar menggenjot sektor industri untuk terus ekspansi. Baik dalam rangka memenuhi pasar domestik maupun ekspor," imbuhnya.

Oleh karena itu, mulai tahun ini pemerintah memfokuskan pada pengembangan kualitas SDM sebagai agenda pembangunan nasional. Langkah strategis yang tengah dijalankan, antara lain melakukan berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan vokasi industri secara lebih masif.

Mujiyono menyampaikan, Indonesia punya potensi besar dalam upaya membangun kualitas SDM seiring dengan momentum bonus demografi yang sedang dinikmati sampai 20 tahun ke depan. "Hingga 2030 nanti, Indonesia diprediksi mengalami masa bonus demografi. Yakni penduduk usia produktif mencapai 67,5 persen dari total jumlah penduduk sebesar 297 juta jiwa," jelasnya.

"Penduduk usia produktif dinilai akan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi dan pengembangan inovasi. Maka itu, kami terus berupaya mencetak lebih banyak tenaga ahli dan menciptakan iklim industri yang kondusif agar serapan dan produktivitas tenaga kerja terus meningkat," imbuhnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sempat menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan 17 juta orang yang akan bekerja di bidang ekonomi digital hingga 2030 mendatang. Sebanyak 75-375 juta orang tenaga kerja global akan beralih profesi.

"Karenanya, ada lima kompetensi penting yang kami kembangkan, yakni coding programming, mekatronika, data analysis statistics, artificial intelligence, dan softskill flexibility," sebutnya.

Menperin mengungkapkan, implementasi ekonomi digital akan membawa Indonesia naik kelas dengan target menjadi negara berpendapatan level kelas menengah atas (upper middle income country) pada tahun 2020. Untuk itu, diperlukan penerapan peta jalan Making Indonesia 4.0 secara sinergi di antara pemangku kepentingan. (fin/zul/tgr)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Ekonomi Global Diproyeksikan Turun, Indonesia Terjaga di 5 Persen

Ekonomi Global Diproyeksikan Turun, Indonesia Terjaga di 5 Persen

Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global turun dari 3,5 persen menjadi 3 persen pada 2019.


Masuk Kuartal Keempat, Geliat Ekonomi Masih di Level 5 Persen

Masuk Kuartal Keempat, Geliat Ekonomi Masih di Level 5 Persen

Kuartal ketiga akan segera berakhir, dan segera memasuki kuartal keempat 2019, namun pertumbuhan ekonomi belum menunjukkan geliat yang menggembirakan


Inflasi Lebih Rendah dari Bulan Lalu, Kenapa?

Inflasi Lebih Rendah dari Bulan Lalu, Kenapa?

Bank Indonesia (BI) mengumumkan hasil survei pemantauan harga (SPH) di sejumlah wilayah, tercatat inflasi minggu kedua Oktober 2019 sebesar 0,04 persen.


Kenaikan Cukai Rokok Gerus Pendapatan Negara

Kenaikan Cukai Rokok Gerus Pendapatan Negara

Industri Hasil Tembakau (IHT) memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Karenanya, cukai rokok selama ini dapat mengerek pendapatan negar


Deflasi September 2019 0,27 Persen, Faktor Harga Komoditas Turun

Deflasi September 2019 0,27 Persen, Faktor Harga Komoditas Turun

Anggapan September 2019 mengalami deflasi 0,27 persen disebabkan penurunan daya beli adalah tidak tepat.


Karhutla Turunkan Jumlah Penumpang Pesawat 5,9 Persen

Karhutla Turunkan Jumlah Penumpang Pesawat 5,9 Persen

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan menimbulkan kerugian materil


Kenaikan Tarif 18 Ruas Tol Bisa Dibatalkan

Kenaikan Tarif 18 Ruas Tol Bisa Dibatalkan

Hingga akhir tahun 2019 tarif 18 ruas tol diusulkan akan naik.


Terancam PHK, Buruh Tembakau Tolak Kenaikan Cukai Rokok

Terancam PHK, Buruh Tembakau Tolak Kenaikan Cukai Rokok

Rencana kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen dan Harga Jual Eceran (HJE) sebesar 35 persen, tidak pernah reda dari sorotan berbagai pihak.


Kenaikan Cukai Rokok, 254 Pabrik Rokok Terancam Gulung Tikar

Kenaikan Cukai Rokok, 254 Pabrik Rokok Terancam Gulung Tikar

Pengusaha rokok mengeluhkan kenaikan cukai rokok yang terlalu tinggi sebesar 23 persen dan Harga Jual Eceran (HJE) 35 persen.


Suku Bunga Acuan Turun Jadi 5,25 Persen

Suku Bunga Acuan Turun Jadi 5,25 Persen

Bank Indonesia (BI), kembali menurunkan suku bunga acuan BI 7 Daya Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!