Ekonomi
Share this on:

Pemerintah Pastikan Harga Cabai Tak Lagi Pedas

  • Pemerintah Pastikan Harga Cabai Tak Lagi Pedas
  • Pemerintah Pastikan Harga Cabai Tak Lagi Pedas

JAKARTA - Musim kemarau sudah mulai berakhir. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan harga cabai akan berangsur-angsur stabil.

Harga cabai belakangan ini memang menjadi juara. Cabai merah dan keriting melonjak antara Rp95 ribu-Rp100 ribu. Sedangkan harga cabai rawit tembus Rp70 ribu. Kenaikan harga ini membuat para ibu rumah tangga beralih konsumsi cabai kering.

Kurangnya pasokan cabai memang memicu harga cabai meningkat. Hal itu karena musim kemarau. Namun saat ini tengah memasuki musim panen cabai. Alhasil pasokan akan meningkat, sehingga harga cabai tidak lagi pedas.

Plt Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Sukarman mengungkapkan, sebetulnya pasokan cabai secara nasional cukup memenuhi kebutuhan konsumen.

"Harus diakui, produksi cabai rawit Juli-Agustus tahun ini kurang optimal. Meskipun secara kumulatif nasional, jumlahnya masih cukup, tapi produksi lapangannya sangat terbatas. Kondisi di Pulau Jawa sebagai sentra utama produksi aneka cabai menunjukkan adanya kelebihan produksi dibanding kebutuhan seluruh Jawa," ujar Plt Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Sukarman, dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/8).

Kementan mencatat, total kebutuhan cabai rawit pada bulan Agustus, sebanyak 35.319 ton. Sedangkan produksinya mencapai 35.559 ton atau hanya terdapat selisih tipis 240 ton.

"Jika melihat selisihnya cukup sih. Tapi memang riskan memicu fluktuasi harga di pasar," ucap dia.

Kasubdit Cabai dan Sayuran Buah Kementan Mardiyah menambahkan, memasuki bulan September nanti pasokan cabai akan meningkat.

"Memasuki September nanti produksi cabai rawit di Pulau Jawa diperkirakan mencapai 37.598 ton. Selanjutnya memasuki bulan Oktober hingga Desember ditaksir semakin meningkat menjadi sekitar 50 ribu ton per bulan. Rata-rata kebutuhan cabai rawit se Jawa mencapai 34-35 ribu ton per bulan," ujar Mardiyah.

Dengan melihat angka tersebut, pihaknya meyakini potensi produksi akan aman, yakni mencapai 14-16 ribu ton per bulan sehingga mampu memenuhi permintaan pasar di wilayah Sumatera, Bali, dan Kalimantan. Kendati demikian, Kementan pun tetap mewaspadai apabila harga kembali anjlok.

Pihaknya juga telah memetakan secara rinci di daerah mana saja sentra produksi cabai yang berkurang. Seperti di Pulau Jawa yang berpotensi berkurang, akan didorong guna mencukupi.

Sementara daerah yang potensi produksi cabai rawitnya mencukupi hingga akhir tahun, yaitu wilayah Jawa Timur dan Jogjakarta.

"Sedangkan untuk Jawa Barat dan Banten sebaliknya, produksinya masih belum mencukupi. Wilayah Jawa Tengah produksinya berlebih memasuki bulan Oktober hingga Desember nanti," paparnya.

Dari data yang berhasil dihimpun Ditjen Hortikultura, sepanjang Agustus hingga Desember 2019, beberapa sentra cabai rawit di Pulau Jawa produksinya diprediksi berlebih yaitu meliputi Cianjur, Garut, Banjarnegara, Magelang, Wonosobo, Semarang, Temanggung, Brebes, Kulon Progo, Sleman, Ponorogo, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, dan Bojonegoro.

Mardyah juga menyebut berdasarkan pemantauan Tim Ditjen Hortikultura, harga rata-rata cabai rawit merah di sentra produksi nasional terpantau Rp60 ribu-65 ribu per kg atau sudah mulai menurun dibanding pada awal bulan Agustus yang mencapai Rp70 ribu.

Sementara harga cabai keriting di tingkat petani sentra rata-rata Rp48 ribu-50 ribu per kg, menurun dibanding awal Agustus yang mencapai Rp55 ribu-60 ribu per kg. (fin/ima)


Berita Sejenis

Penghapusan IMB Dinilai Ngawur

Penghapusan IMB Dinilai Ngawur

Rencana pemerintah menghapus Izin Mendirikan Bangunan (IMB) menuai kritikan dari para pengamat dan ekonom.


Pertamina Akui Ada Kelebihan Harga Jual Premium

Pertamina Akui Ada Kelebihan Harga Jual Premium

PT Pertamina (Persero) memberi penjelasan terkait temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)


Kenaikan Cukai Rokok Tak Tambal Defisit BPJS Kesehatan

Kenaikan Cukai Rokok Tak Tambal Defisit BPJS Kesehatan

Kemenkeu menyebutkan kenaikan cukai tahun depan tidak meningkatkan sokongan dana untuk Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial alias BPJS Kesehatan.


Ada Niatan Jelek Pemerintah Naikkan Cukai Rokok?

Ada Niatan Jelek Pemerintah Naikkan Cukai Rokok?

Alasan kenaikan cukai rokok untuk menekan konsumsi rokok, dan bisa menambah penerimaan negara dianggap ada niatan yang tidak baik.


Kenaikan Cukai Rokok Kerek Inflasi

Kenaikan Cukai Rokok Kerek Inflasi

Kenaikan cukai rokok 23 persen dan harga jual eceran dengan rata-rata 35 persen pada tahun depan, berpotensi menyumbang laju inflasi.


Pajak Produk e-Commerce Kini Lewat Sistem Online Loh

Pajak Produk e-Commerce Kini Lewat Sistem Online Loh

Pemerintah untuk dua pekan ke depan akan menerapkan pajak terhadap transaksi cross border atau lintas batas antarnegara


Hapus Label Halal, Pemerintah Timbulkan Kegaduhan

Hapus Label Halal, Pemerintah Timbulkan Kegaduhan

Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 29 Tahun 2019 tentang ketentuan Ekspor dan Impor Hewan dan Produk Hewan


Cukai Rokok Naik, Produsen Hingga Petani Tembakau Protes

Cukai Rokok Naik, Produsen Hingga Petani Tembakau Protes

Produsen hingga petani tembakau keberatan terkait rencana pemerintah menaikkan cukai rokok pada tahun depan sebesar 23 persen


Tarik Investor, Pemerintah Rombak 72 UU Perizinan

Tarik Investor, Pemerintah Rombak 72 UU Perizinan

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menggeliatkan investasi asing di Indonesia.


Buruh Tolak Kebijakan Pro Tenaga Kerja Asing

Buruh Tolak Kebijakan Pro Tenaga Kerja Asing

Pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), dengan tegas mendesak pemerintah segera mencabut kebijakan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!