Ekonomi
Share this on:

Pemerintah Terbitkan Sukuk Global USD 3 Miliar

  • Pemerintah Terbitkan Sukuk Global USD 3 Miliar
  • Pemerintah Terbitkan Sukuk Global USD 3 Miliar

JAKARTA - Pemerintah kembali menerbitkan sukuk global di pasar internasional senilai USD 3 miliar atau sekitar Rp 40,5 triliun (kurs Rp13.500). Kali ini pemerintah merilis jenis green global sukuk dengan tenor 5 tahun dan 10 tahun. Dua jenis sukuk itu disebut juga sukuk wakalah.

Green global sukuk tersebut digunakan untuk pembiayaan green project yang sudah dilaksanakan maupun yang akan dijalankan. Masa settlement akan dimulai pada 1 Maret mendatang. ”Karena sifatnya green bond, ia dikaitkan dengan project yang kita lakukan. Yaitu, proyek yang sifatnya green karena ini berhubungan dengan komitmen climate change dari pemerintah Indonesia,” jelas Menkeu Sri Mulyani Indrawati di kantornya, kemarin.

Green sukuk tenor 5 tahun diterbitkan senilai USD 1,25 miliar dengan imbal hasil 3,75 persen. Masa jatuh tempo jenis sukuk tersebut adalah 1 Maret 2023. Sedangkan green sukuk tenor 10 tahun dirilis sebesar USD 1,75 miliar dengan imbal hasil senilai 4,40 persen.

Masa jatuh temponya 1 Maret 2028. Setiap seri sukuk tersebut telah mendapat peringkat investment grade dari tiga lembaga rating, yakni Moody’s Investors Service, S&P Global Rating, dan Fitch Ratings.

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia tersebut mengatakan, sukuk wakalah dengan tenor 5 tahun merupakan penerbitan green sukuk pertama di dunia yang dilakukan pemerintah negara (sovereign). Selain itu, green sukuk tersebut merupakan penerbitan pertama yang dilakukan pemerintah di bawah kerangka green bond dan green sukuk yang baru ditetapkan.

”Jadi, dalam hal ini kita manfaatkan sambutan yang sangat baik dari dunia internasional, terutama dari market yang memang membutuhkan kombinasi antara sifatnya yang green dan comply terhadap climate change,” paparnya.

Transaksi green sukuk tersebut, lanjut Sri Mulyani, berhasil dilakukan dengan memanfaatkan waktu yang tepat. Yaitu, setelah terjadinya volatilitas yang tinggi di pasar modal global. Hal tersebut didorong ekspektasi inflasi Amerika Serikat (AS) dan peningkatan suku bunga The Fed sejak awal Februari lalu.

Selain itu, transaksi tersebut didukung orderbook global dengan kualitas yang baik dilihat dari penetapan harga. ”Pricing (penetapan harga, Red) sukuk wakalah republik adalah pada 30 basis point (bsp) lebih rendah daripada indikasi pricing awal untuk kedua seri. Transaksi ini sejalan dengan tujuan pemerintah untuk memperkokoh pasar keuangan syariah global dan komitmen terhadap pendanaan hijau,” terangnya.

Sukuk wakalah didaftarkan pada Bursa Saham Singapura (Singapore Stock Exchange) dan NASDAQ Dubai. Struktur akad sukuk itu adalah wakalah dengan underlying asset, yakni barang milik negara (BMN) berupa tanah dan bangunan serta proyek-proyek APBN yang sedang dalam pembangunan atau akan dibangun.

Sementara itu, beberapa proyek yang akan dibiayai green sukuk tersebut berasal dari tiga kementerian, yakni Kementerian PUPR, Kemenhub, dan Kementerian ESDM.

Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman menambahkan, sukuk wakalah menarik minat dari berbagai investor asing maupun lokal. Sukuk wakalah dengan tenor 5 tahun didistribusikan kepada 32 persen investor syariah di Timur Tengah dan Malaysia. Kemudian, 10 persen investor Indonesia, 25 persen investor Asia, 18 persen investor AS, dan 15 persen investor di Eropa.

”Yang tenor 10 tahun, distribusinya 24 persen ke investor di Timur Tengah dan Malaysia, 10 persen di dalam negeri, 12 persen di Asia, 22 persen di Amerika Serikat, dan 32 persen di Eropa,” katanya. (ken/c10/fal/jpg)

Berita Sebelumnya

Deposito Dipilih karena Lebih Likuid
Deposito Dipilih karena Lebih Likuid

Berita Berikutnya

Gandeng Pelaku e-Commerse dan UMKM
Gandeng Pelaku e-Commerse dan UMKM

Berita Sejenis

Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Akan Picu Inflasi

Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Akan Picu Inflasi

Pemerintah memastikan akan menaikkan tarif iuran BPJS Kesehatan bagi Penerima Bantuan Iuran (PBI).


Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,6%, Pemerintah Perkuat Investasi

Dorong Pertumbuhan Ekonomi 5,6%, Pemerintah Perkuat Investasi

Pertumbuhan ekonomi ditarget 5,6 persen tahun depan. Karenanya, pemerintah akan merealisasikan tingkat konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor.


Penerimaan Negara Ditarget Naik

Penerimaan Negara Ditarget Naik

Pemerintah mencanangkan kenaikan penerimaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020.


Investasi Menggeliat Pasca Pilpres

Investasi Menggeliat Pasca Pilpres

Tidak hanya bursa saham dan rupiah yang diprediksi menunjukkan kinerja positif, pemerintah meyakini investasi di sektor industri akan meningkat.


Negoisasi Gagal, Pemerintah Bentuk Satgas Batalkan Pelarangan CPO RI

Negoisasi Gagal, Pemerintah Bentuk Satgas Batalkan Pelarangan CPO RI

Negosiasi pemerintah Indonesia dengan Dewan Negara Produsen Sawit (CPOPC) di Brussels, Belgia, Selasa (9/4) silam, tidak membuah hasil.


Ini Strategi Pemerintah supaya Neraca Dagangnya Surplus

Ini Strategi Pemerintah supaya Neraca Dagangnya Surplus

Neraca perdagangan Indonesia di Januari lalu defisit hingga 1,16 miliar dolar AS.


Fiskal dan Moneter Senjata RI Hadapi Turbulensi Ekonomi Global

Fiskal dan Moneter Senjata RI Hadapi Turbulensi Ekonomi Global

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China diperkirakan akan berakhir damai, sehingga meringankan beban dunia yang melemah, termasuk Indonesia.


Pembentukan Holding Penerbangan Masih Dikaji

Pembentukan Holding Penerbangan Masih Dikaji

Pemerintah bakal membentuk holding penerbangan. Perkembangan terbaru, masih dilakukan pengkajian yang mendalam.


Lahan Terbatas, Pemerintah Putuskan Impor Bawang Putih

Lahan Terbatas, Pemerintah Putuskan Impor Bawang Putih

Pemerintah melalui Perum Bulog direncanakan akan mengimpor bawang putih dari China pada April ini.


Banjir Produk Impor E-Commerce Tak Signifikan Sumbang Defisit

Banjir Produk Impor E-Commerce Tak Signifikan Sumbang Defisit

Neraca perdagangan Indonesia diketahui defisit sebesar 8,56 miliar dolar AS sepanjang tahun 2018.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!