Ekonomi
Share this on:

Produksi Seret, Revisi UU Mendesak

  • Produksi Seret, Revisi UU Mendesak
  • Produksi Seret, Revisi UU Mendesak

BATU - Produksi minyak dan gas bumi (migas) menunjukkan tren menurun. Padahal, tingkat konsumsi semakin meningkat. Spesialis Pratama Dukungan Bisnis SKK Migas Yanin Kholison memaparkan, produksi minyak Indonesia kini tidak sampai 800 ribu barrel oil per day (BOPD). Di sisi lain, konsumsinya 1,7 juta BOPD. Artinya, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia harus impor minyak 1 juta BOPD.

Menurut Yanin, banyak permasalahan yang dihadapi industri hulu migas tanah air. Mulai fasilitas operasi produksi yang menua, proses penemuan migas yang semakin lama, sampai penemuan eksplorasi yang semakin mengecil. ’’Indonesia telah mengalami siklus yang panjang di mana sejak 1966 kita tidak lagi menemukan sumber cadangan migas yang besar. Sementara itu, 90 persen yang ada di Indonesia adalah sumur tua yang kalau disedot kebanyakan isinya air,” terangnya di Batu kemarin (9/8).

Begitu halnya dengan jumlah wilayah kerja (WK) pertambangan di Indonesia yang terus menurun. Jika dahulu jumlah WK migas di seluruh Indonesia bisa mencapai 335, sekarang tercatat tinggal 264. Dengan perincian, 87 WK eksploitasi dan 177 WK eksplorasi.

Menurut Yanin, ada beberapa strategi yang dapat menahan laju penurunan produksi. Untuk penambahan produksi jangka pendek, strategi yang bisa dilakukan adalah pengeboran, pemeliharaan fasilitas produksi, percepatan proyek, dan reaktivasi sumur-sumur tua. ’’Bisa juga melalui percepatan realisasi POD dan enhanced oil recovery (EOR) serta meningkatkan investasi,” lanjutnya.

Banyak dampak positif dari investasi di sektor migas. Dia mencontohkan, investasi migas Rp 1 miliar bisa memberikan output ekonomi Rp 1,6 miliar serta penambahan GDP Rp 700 juta.

Pengamat migas M. Kholid Syeirazi mengungkapkan, upaya lain yang dapat ditempuh untuk menaikkan produksi minyak adalah merombak tata kelola industri migas agar lebih simpel. Yaitu, dengan menyelesaikan revisi UU No 22/2001 tentang Migas. Dia mengatakan, dalam UU Migas tersebut, sistem tata kelolanya sangat birokratis. Terlalu banyak prosedur perizinan yang harus dilalui investor.

’’Hal itu membuat investor tidak tertarik berinvestasi di Indonesia. Padahal, negara butuh investor migas untuk membantu meningkatkan produksi,” tuturnya. Namun sayang, UU Migas tersebut sampai saat ini belum diputus DPR. ’’Padahal, revisi tersebut sudah sampai di DPR lebih dari 10 tahun yang lalu, tetapi belum juga selesai,” imbuhnya.

Pihaknya menyarankan pemerintah berkirim surat ke Mahkamah Agung (MA) untuk mengambil alih biar revisi UU Migas cepat selesai. Sebab, industri migas menyangkut hajat hidup orang banyak. ’’Tujuan pengambilalihan tersebut adalah pemerintah bisa segera merombak tata kelola industri migas. Keadaan sekarang sudah darurat, produksi kian menyusut,” paparnya. (car/c17/oki/jpg)

Berita Sebelumnya

Transaksi Saham Kian Cepat
Transaksi Saham Kian Cepat

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Tarif Cukai Naik, Produksi Rokok Susut

Tarif Cukai Naik, Produksi Rokok Susut

Kebijakan pemerintah menaikkan tarif cukai rokok membawa dampak yang beragam bagi industri.


RUU Pengairan Tak Prioritaskan Industri

RUU Pengairan Tak Prioritaskan Industri

Pelaku usaha masih berkeberatan mengenai sejumlah regulasi dalam RUU Sumber Daya Air (SDA) sebagai revisi UU Pengairan Tahun 1974.


Permintaan Mulai Turun, Ada Jumping Kapasitas

Permintaan Mulai Turun, Ada Jumping Kapasitas

Produksi semen di Indonesia menunjukkan angka surplus jika dibandingkan dengan kebutuhan di pasar domestik.


Ekspor Batu Bara Nasional Merosot

Ekspor Batu Bara Nasional Merosot

Kinerja produksi dan ekspor batu bara PT Bukit Asam Tbk selama semester pertama 2018 mengalami kenaikan signifikan.


Produksi Kopi Indonesia Kian Meningkat

Produksi Kopi Indonesia Kian Meningkat

Kopi berkualitas yang dihasilkan dari beberapa daerah di Indonesia, semakin diakui dan diminati oleh dunia.


Produksi Minyak Pertamina Naik 14 Persen

Produksi Minyak Pertamina Naik 14 Persen

Program prioritas PT Pertamina (persero) di sektor hulu membuat produksi minyak dan gas bumi naik.


Perajin Tenun Goyor Butuh Perhatian

Perajin Tenun Goyor Butuh Perhatian

Tenun Goyor yang merupakan warisan kebudayaan terus mengalami perkembangan, mulai dari produksi, pola atau gambar, warna, merek dagang, dan harga.


Perluas Lahan Produksi Kopi

Perluas Lahan Produksi Kopi

Lahan pertanian kopi di Jawa Timur terus diperluas. Itu dilakukan untuk mencukupi kebutuhan dan peningkatan produksi kopi.


Bonus Produksi Panas Bumi Daerah Ditarget Rp89,25 Miliar

Bonus Produksi Panas Bumi Daerah Ditarget Rp89,25 Miliar

Pemerintah menawarkan sejumlah insentif untuk menggenjot pembangunan energi bersih.


Hasil Giling Mentok di 2,12 Juta Ton

Hasil Giling Mentok di 2,12 Juta Ton

Hasil giling gula pada 2017 hanya mencapai 2,12 juta ton. Ada beberapa faktor yang membuat produksi gula pada musim giling kali ini tidak sesuai proyeksi.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!