Ekonomi
Share this on:

Publik Risau, Tiket Pesawat Semakin Mahal

  • Publik Risau, Tiket Pesawat Semakin Mahal
  • Publik Risau, Tiket Pesawat Semakin Mahal

JAKARTA - Tak sabar, masyarakat pun kian risau dengan harga tiket pesawat yang tinggi. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berjanji hari ini akan mengeluarkan regulasi tentang harga tiket pesawat.

Di sisi lain, pengamat penerbangan berharap agar regulasi tersebut juga berpihak pada bisnis maskapai. Setelah rapat dengan Menteri Maritim Luhut Binsar Panjaitan dan maskapai, Kementerian Perhubungan kemarin melakukan finalisasi aturan tentang tiket.

"Sabar, secepatnya kok. Mudah-mudahan besok (hari ini, red), sudah bisa kita rilis hasilnya," tutur Budi, kemarin (28/3).

Dia beralasan, bahwa aturan ini tidak bisa dibuat dengan tergesa-gesa. Sebab, tim hukum Kemenhub masih mengkaji kontruksi hukumnya. "Maaf kalau dari sisi aturan, tidak bisa saya jelaskan," terangnya.

Meski demikian, Budi berjanji memberikan bocoran bahwa aturan yang akan dirilis hari ini merupakan sub class maskapai. Selama ini kelas penerbangan dibagi menjadi low cost carier (LCC) dan full service. Dia menyatakan bahwa aturan ininsudah dikoordinasikan dengan seluruh pemangku kebijakan. Termasuk dengan maskapai.

Apakah ada kemungkinan aturan baru tersebut bisa menurunkan harga tiket? Budi tidak memberi jawaban pasti. "Di Undang-Undanh dijelaskan bajwa pemerintah untuk mengembangkan ekonomi memiliki hak untuk melindungi konsumen. Insya Allah bisa memberikan kondisi win-win antara maskapai dan masyarakat," ujarnya.

Menanggapi pernyataan Menhub, Corporate Communications Strategic Lion Air Danang Mandala Prihantoro menuturkan bahwa pihaknya pasrah. Dia menyatakan akan mematuhi aturan yang dibuat regulator. "Nah untuk keuntungan bersama serta kepentingan semua pihak," ujarnya.

Sebenarnya Kemenhub sudah memiliki regulasi terkait tarif maskapai. Peraturan Menteri Perhubungan PM 14 tahun 2016 sudah mengatur mekanisme penghitungan tarif. Terkait hal tersebut Pakar Penerbangan Alvin Lie mengatakan pemerintah saat ini sudah memiliki regulasi yang cukup untuk mengatur operasional maskapai penerbangan dan harga tiket di Indonesia.

"Sudah patuh itu (maskapai), dari peraturan tidak ada pelanggaran, minta menurunkan harga tiket harus ada data-data biaya operasional airlines itu turun, maka dari itu TBA (Tarif Batas Atas) dan TBB (Tarif Batas Bawah) itu turun," timpalnya, kemarin.

Di satu sisi, jika maskapai bisa menunjukkan ada kenaikan biaya operasional maka pemerintah juga harus berani merevisi permenhub dengan menaikkan TBA maupun TBB. "Kita harus membuat kebijakan publik itu berdasarkan fakta-fakta, statistik yang akuntanble," tegasnya.

TBB, lanjut dia, memang diperlukan agar tidak terjadi predatory pricing atau tidak ada perang tarif antar maskapai. Aturan itu bertujuan agar maskapai mendapatkan laba yang cukup sehingga bisa melaksanakan kewajibannya meliputi keselamatan penerbangan, disiplin dalam perawatan pesawat, serta kesejahteraan pekerjanya. Dia juga menilai tidak diperlukan memperbanyak subclass.

"Dalam management itu micro managing terlalu ngurusin yang kecil-kecil itu kan sebenarnya udah ranahnya korporasi. Pemerintah sudah atur batas atas dan batas bawah itu sudah cukup," imbuhnya.

Di negara lain, menurutnya tidak ada aturan mengenai tarif batas atas dan batas bawah. "Ini sekarang mau masuk sampai subclass. Rasa-rasanya ini negara Korut tidak sampai kayak seperti itu, jangan berlebihan lah," katanya.

Selain itu, konsumen juga harus realistis dengan kondisi keuangan maskapai saat ini terkait penurunan tiket pesawat. Sebab, menurutnya ketiga maskapai penerbangan terbesar di Indonesia yakni Garuda Group, Lion Group dan Air Asia pada tahun lalu masih menderita kerugian.

"Nah, kalau semuanya sudah rugi, disuruh menurunkan harga lagi, nanti kalau berdampak kepada keselamatan penumpang bagaimana? Kan saling terkait," imbuhnya.

Sehingga, asalkan maskapai sudah bisa mematuhi tarif batas atas (TBA) dan tarif batas bawah (TBB) tersebut maka seharusnya sudah tidak menjadi persoalan lagi. "Saya tidak akan kaget kalau dalam waktu dekat ini (maskapai) menyatakan tidak mampu lagi operasi," urainya.

Hal itu justru akan merugikan penumpang lantaran kapasitas angkut berkurang. Untuk itu, pemerintah perlu bertemu dengan maskapai untuk membicarakan alasan penurunan harga meski tidak melanggar peraturan TBB dan TBA. (rls/lyn/ful/fin)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Tiket Kereta Lebaran Sudah Terjual 59 Persen

Tiket Kereta Lebaran Sudah Terjual 59 Persen

Tiga Minggu menjelang Lebaran 2019, tiket kereta yang sudah terjual sejauh ini mencapai 59 persen.


YLKI Ragu Maskapai Turunkan Tarif Pesawat 12-16 Persen

YLKI Ragu Maskapai Turunkan Tarif Pesawat 12-16 Persen

Setelah mendapat tekanan dan protes dari berbagai pihak, akhirnya Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menurunkan tarif batas atas (TBA) pesawat 12-16 persen.


Pendapatan dan Belanja Biang Keladi Defisit BPJS Kesehatan

Pendapatan dan Belanja Biang Keladi Defisit BPJS Kesehatan

Sejak tahun pertama, di 2014 sampai saat ini penyakit defisit BPJS Kesehatan tidak kunjung sembuh. Bahkan terus semakin parah.


Mulai Besok, Tiket Pesawat Turun Harga

Mulai Besok, Tiket Pesawat Turun Harga

Setelah terus mendapatkan desakan dan kritik terhadap harga tiket yang relatif mahal, akhirnya pemerintah melunak.


Tarif Pesawat Mahal Gerus Pendapatan Daerah

Tarif Pesawat Mahal Gerus Pendapatan Daerah

Masih mahalnya harga tiket pesawat domestik menyebabkan merosotnya pendapatan daerah.


Senin Depan, Pemerintah Tentukan Turun Tidaknya Tarif Pesawat

Senin Depan, Pemerintah Tentukan Turun Tidaknya Tarif Pesawat

Polemik mahalnya tarif pesawat tidak berujung. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pun terus berupaya mencari cara untuk menyelesaikannya.



Menhub Janji Turunkan Tarif Pesawat Sebelum Lebaran

Menhub Janji Turunkan Tarif Pesawat Sebelum Lebaran

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi memastikan harga tiket maskapai akan turun sebelum musim mudik Lebaran 2019.


Bawang Merah dan Pesawat Sumbang Inflasi April 0,44%

Bawang Merah dan Pesawat Sumbang Inflasi April 0,44%

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi sepanjang April 0,44%. Inflasi terbesar disumbang oleh kenaikan harga bawang merah dan mahalnya tarif pesawat terban


Boeing 737 Sempat Dilarang Terbang

Boeing 737 Sempat Dilarang Terbang

Federasi Penerbangan Amerika Serikat (FAA) disebut, sempat mempertimbangkan untuk melarang terbang beberapa pesawat Boeing 737 Max.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!