Ekonomi
Share this on:

Rupiah Loyo Lagi, Jangan Utak-atik Cadangan Devisa

  • Rupiah Loyo Lagi, Jangan Utak-atik Cadangan Devisa
  • Rupiah Loyo Lagi, Jangan Utak-atik Cadangan Devisa

JAKARTA - Bank Indonesia kembali harus melakukan upaya stabilisasi rupiah seiring dengan kembali melemahnya mata uang Garuda. Namun, bank sentral tidak mengorbankan cadangan devisa.

Caranya, meningkatkan likuiditas pasar melalui instrumen keuangan yang terbaru. Yakni, membuka lelang transaksi Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) dengan target USD 100 juta untuk kemarin.

’’Itu sekaligus menjaga market confidence (kepercayaan pasar) terhadap rupiah sehingga hari ini (kemarin, Red) kami buka lelang DNDF dengan target USD 100 juta. Bidding (penawaran) yang masuk USD 140 juta dengan waktu lelang 30 menit dari 15.30–16.00 WIB,’’ jelas Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsyah kemarin (12/11).

Meski menggunakan nilai nominal yang cukup besar, yakni USD 100 juta, Nanang memastikan bahwa otoritas moneter tidak mengeluarkan cadangan devisa (cadev). Sebab, yang diperhitungkan hanya selisih antara kurs lelang DNDF BI dan bank yang memenangkan lelang atau penawaran dibandingkan dengan kurs tengah BI.

’’Yaitu, dua hari sebelum tanggal setelmen. Jadi, tidak menggunakan cadev,’’ katanya.

Mengawali pekan ini, rupiah kembali terpuruk setelah sempat menguat tajam pekan lalu, bahkan hingga menjauhi level psikologis Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat (USD). Mengacu Bloomberg, pada penutupan perdagangan, rupiah berada di level Rp14.820 per USD atau melemah 0,97 persen (142,5 poin) dari penutupan sebelumnya. Sepanjang hari rupiah diperdagangkan dengan kisaran Rp14.732–Rp 14.836 per USD.

Sementara itu, berdasar kurs tengah BI, rupiah kemarin berada di posisi Rp14.747 per USD atau melemah dari posisi sebelumnya Rp 15.632 per USD dengan kisaran perdagangan Rp14.821–14.673 per USD. Depresiasi rupiah tersebut merupakan yang terburuk di kawasan Asia.

Nanang menyatakan, pelemahan rupiah awal minggu ini sejalan dengan melemahnya seluruh mata uang regional. Hal itu dipicu sentimen negatif atas indikasi pelemahan ekonomi Tiongkok. Juga reaksi pemerintah Italia yang belum bersedia melakukan penyesuaian budget plan sesuai dengan permintaan Uni Eropa.

’’Itu memicu pelepasan saham, mulai dari pasar modal AS ke pasar Asia. Kemudian, aksi beli surat obligasi pemerintah AS sebagai instrumen yang aman (flight to quality) dan menurunnya harga komoditas,’’ jelas Nanang.

Project Consultant Asian Development Bank (ADB) Eric Alexander Sugandi menuturkan, ada faktor eksternal dan domestik yang memengaruhi pelemahan rupiah kemarin. Dari eksternal, antara lain, ekspektasi pelaku pasar mengenai makin kuatnya kemungkinan kenaikan Fed fund rate (FFR) pada Desember. Ada juga ekspektasi akan naiknya harga minyak dunia karena pemerintah Saudi menyatakan keinginan untuk memangkas kuota produksi.

Sementara itu, dari domestik, depresiasi rupiah dipicu dampak lanjutan dari rilis CAD Indonesia yang membengkak di kuartal III 2018 jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Sebagaimana diketahui, pada kuartal III, CAD menembus USD 8,8 miliar atau mencapai 3,37 persen dari PDB.

’’Yang jelas, jangan euforia dulu karena penguatan rupiah minggu lalu. Justru ketika tekanan terhadap rupiah mereda, sebenarnya itu waktu konsolidasi serta persiapan bagi BI dan pemerintah untuk siap-siap menghadapi risiko tekanan terhadap rupiah ke depan,’’ paparnya. (ken/c22/fal/jpg)

Berita Sebelumnya

Mobil Tua Terbantu Part Palsu
Mobil Tua Terbantu Part Palsu

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Jangan Merakit Terus, Saatnya Industri Elektronik Produksi Sendiri

Jangan Merakit Terus, Saatnya Industri Elektronik Produksi Sendiri

Investasi elektronika dan telematika di Indonesia mulai mengepakan sayapnya, meski belum sebesar industri manufaktur.


Pariwisata Lebih Laku Ketimbang Minyak Sawit

Pariwisata Lebih Laku Ketimbang Minyak Sawit

Menteri Pariwisata Arief Yahya memproyeksikan devisa pariwisata Indonesia mencapai USD 18 miliar atau jauh melampaui minyak sawit (CPO).


Pemerintah Bakal Tambah Impor 125 Ribu Ton Bawang Putih

Pemerintah Bakal Tambah Impor 125 Ribu Ton Bawang Putih

Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan segera mengeluarkan SPI bawang putih lagi kepada 11 importir swasta.


Ekspor Batik Dibidik Naik 8 Persen

Ekspor Batik Dibidik Naik 8 Persen

Ekspor batik Nusantara menjadi salah satu dari sekian banyak komoditi tekstil penyumbang devisa negara.


Pemerintah Diminta Jangan Takut Tindak Aplikator Ojol Nakal

Pemerintah Diminta Jangan Takut Tindak Aplikator Ojol Nakal

Penerapan tarif baru ojek online (ojol) yang ditetapkan pemerintah tidak berjalan dengan semestinya.


Hingga Akhir 2019, Cadangan Devisa Diprediksi Melemah

Hingga Akhir 2019, Cadangan Devisa Diprediksi Melemah

Bank Indonesia (BI) merilis posisi cadangan devisa Indonesia pada April lalu sebesar 124,3 miliar dolar AS.


Terkoreksi, BI Klaim Rupiah Menguat

Terkoreksi, BI Klaim Rupiah Menguat

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada triwulan III-2019 cenderung mengalami penguatan.


Indonesia Segera Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

Indonesia Segera Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

Selangkah lagi Indonesia dapat berada pada urutan pertama dan menjadi salah satu pusat fesyen muslim dunia.


Tak Perlu Impor Beras Lagi

Tak Perlu Impor Beras Lagi

Perum Bulog mendukung penuh program swasembada pangan pemerintah. Karenanya, Bulog bakal memaksimalkan penyerapan gabah dan beras dalam negeri.


Hot Wheels dan Barbie Penyumbang Devisa Terbesar

Hot Wheels dan Barbie Penyumbang Devisa Terbesar

Nilai ekspor mainan anak-anak Indonesia tembus USD319,93 juta atau naik 5,79 persen dibanding sebelumnya yang hanya USD302,42 juta.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!