Ekonomi
Share this on:

Rupiah Menguat, Waspadai Sentimen Global

  • Rupiah Menguat, Waspadai Sentimen Global
  • Rupiah Menguat, Waspadai Sentimen Global

JAKARTA - Pergerakan positif rupiah berlanjut. Berdasar data Bloomberg, kemarin (7/9) mata uang Garuda ditutup di level Rp 14.820 per dolar AS. Menguat Rp 70 (+0,47 persen) daripada level penutupan sebelumnya Rp 14.890 per dolar AS. Posisi rupiah tersebut merupakan level penguatan yang tertinggi di kawasan Asia. Tak pelak, penguatan rupiah itu disambut semringah oleh Bank Indonesia (BI).

’’Ini merupakan karunia Allah. Rupiahnya stabil dan menguat,’’ tutur Gubernur BI Perry Warjiyo di gedung BI kemarin.

Menurut dia, penguatan rupiah tersebut tidak terlepas dari peran pemerintah dan pengusaha. Berbagai upaya pemerintah untuk menekan current account deficit (CAD) cukup konkret. BI pun optimistis defisit transaksi berjalan bisa menurun tahun ini dan tahun depan, bahkan dalam jumlah yang signifikan. Penurunan CAD itu ikut mendorong stabilitas nilai tukar rupiah.

’’Saya sebut konkret karena sejumlah langkah telah dan akan terus dilakukan. B20 sudah diimplementasikan. Kemarin ada pengumuman (kenaikan tarif) PPh impor dan beberapa langkah terkait dengan pariwisata. Saya meyakini CAD bakal turun,’’ ujarnya.

Perry juga mengapresiasi para pelaku usaha yang bersedia menjual valasnya di pasar dan menyetorkan devisanya. Hal tersebut menambah suplai di pasar. Dengan suplai yang terus bertambah, mekanisme pasar makin stabil. Artinya, tanpa intervensi BI, rupiah bisa kembali stabil, bahkan menguat. ’’Dalam dua hari ini, supply dan demand bekerja. Mekanisme pasar bekerja,’’ katanya.

Meski begitu, Perry menegaskan bahwa BI tetap berkomitmen untuk fokus menjalankan sejumlah kebijakan moneter dalam menstabilkan nilai tukar rupiah. Juga, tetap mengawal ketat pergerakan rupiah ke depan.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengungkapkan, penguatan rupiah terjadi di tengah sentimen positif dari melemahnya USD terkait dengan ancaman Presiden Trump untuk melakukan perang dagang dengan Jepang. Apresiasi itu juga didorong penguatan pound sterling atas ekspektasi perkembangan positif dari proses negosiasi Brexit. ’’Selain itu, pelemahan USD dipengaruhi rilis data US yang mixed menjelang rilis data ketenagakerjaan malam ini. US nonfarm payroll dan unemployment rate diekspektasikan membaik,’’ jelasnya.

Ekonom BCA David Sumual menilai, penguatan rupiah pada akhir pekan ini dipicu negosiasi perdagangan yang baik antara AS dan Kanada. Selain itu, jumlah klaim pengangguran mingguan AS empat minggu ini tercatat 209.500, menurun 2.750 dari rata-rata minggu sebelumnya 212.250. Akibatnya, pasar terkoreksi. Meski terjadi penguatan, pemerintah harus tetap waspada. ’’Kita harus tetap mengikuti perkembangan negosiasi dagang AS dengan Tiongkok, lalu seberapa cepat The Fed menaikkan suku bunga,’’ tuturnya.

Pada 26 September mendatang, dilangsungkan rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan di AS makin kuat. David memprediksi, jika The Fed menaikkan suku bunganya, ada peluang kenaikan suku bunga pada rapat dewan gubernur Bank Indonesia (BI) bulan ini. Itulah respons terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed.

Menurut David, dengan estimasi The Fed yang bakal menaikkan suku bunga acuan dua kali hingga akhir tahun, BI masih mempunyai ruang pengetatan berupa kenaikan BI 7-day reverse repo rate (BI-7DRRR) 50–100 basis poin lagi tahun ini.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan pasar saham kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) tumbuh 1,30 persen di angka 5851,465. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen meyakinkan investor bahwa perekonomian Indonesia baik. ’’Tidak perlu khawatir,’’ tegasnya.

Dia meminta para investor tidak ikut spekulan. Dinamika yang terjadi banyak dipengaruhi faktor eksternal seperti perang dagang antara AS dan Tiongkok serta meningkatnya eskalasi krisis di Argentina, Afrika Selatan, dan Turki. ’’Masih baik. Banyak perusahaan yang menggalang dana melalui pasar modal,’’ ungkapnya. (ken/rin/nis/c14/fal/jpg)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya

BUMN-Swasta Bangun Pabrik Magnesium
BUMN-Swasta Bangun Pabrik Magnesium

Berita Sejenis

Rupiah Konsisten Menguat

Rupiah Konsisten Menguat

Pergerakan nilai tukar rupiah terus bergerak positif.


Optimistis Ekonomi Tumbuh 5,4 Persen

Optimistis Ekonomi Tumbuh 5,4 Persen

Bank Indonesia (BI) mengklaim bersyukur perekonomian Indonesia tetap stabil di tengah gejolak ekonomi global.


Penguatan Rupiah Masih Banyak Tantangan

Penguatan Rupiah Masih Banyak Tantangan

Stabilitas nilai tukar menjadi pertimbangan penting dalam menyusun belanja modal dan program-program bisnis setahun mendatang.


The Fed Picu Ketidakpastian Global

The Fed Picu Ketidakpastian Global

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai ketidakpastian ekonomi dunia akan berlanjut 2019.


Positif, Rupiah Terbaik Asia

Positif, Rupiah Terbaik Asia

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) menanjak signifikan sepanjang perdagangan kemarin.


Rupiah Loyo Lagi, Jangan Utak-atik Cadangan Devisa

Rupiah Loyo Lagi, Jangan Utak-atik Cadangan Devisa

Bank Indonesia kembali harus melakukan upaya stabilisasi rupiah seiring dengan kembali melemahnya mata uang Garuda.


Pemilu Sela AS Tunggangi Rupiah

Pemilu Sela AS Tunggangi Rupiah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terus menguat.


Tekanan Terhadap Rupiah Mulai Mereda

Tekanan Terhadap Rupiah Mulai Mereda

Setelah cukup lama bertengger di atas Rp15 ribu per USD, nilai tukar rupiah kembali menunjukkan kekuatannya.


Rupiah Belum Bisa Bangkit

Rupiah Belum Bisa Bangkit

Nilai tukar rupiah tidak berkutik dihadapan dolar Amerika Serikat (USD).


Ekspor Kendaraan Terus Melaju

Ekspor Kendaraan Terus Melaju

Indonesia kini menjadi basis produksi otomotif global. Kali ini giliran PT Suzuki Indomobil Motor (SIM) yang mengekspor produknya ke mancanegara.



Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!