Ekonomi
Share this on:

Rupiah Rp15.235 Per Dolar, Perbankan Jangan Panik

  • Rupiah Rp15.235 Per Dolar, Perbankan Jangan Panik
  • Rupiah Rp15.235 Per Dolar, Perbankan Jangan Panik

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terus bergejolak, bahkan makin lemah. Merujuk data Bloomberg, pada penutupan perdagangan kemarin (9/10), rupiah berada di level Rp 15.237,5 per dolar AS. Kurs tersebut terdepresiasi 0,13 persen (20 poin) dari perdagangan sebelumnya Rp 15.217,5 per dolar AS. Kondisi rupiah yang belum juga stabil menjadi perhatian Wapres Jusuf Kalla (JK).

’’Itu ada masalah dari luar. Ada juga masalah dari dalam. Jadi, dua-duanya,’’ ujar JK di Kantor Wakil Presiden kemarin. JK menuturkan, untuk masalah dari luar negeri, Indonesia tidak bisa berbuat banyak. Untuk masalah dalam negeri, pemerintah akan menyeimbangkan ekspor dan impor. Selain itu, Bank Indonesia (BI) tentu akan mengintervensi sesuai dengan kemampuan mereka. Tapi, bila tidak memungkinkan lagi, pemerintah akan lebih banyak menghemat atau mengurangi impor. ’’Harus ada yang berkorban,’’ tegasnya.

Presdir PT BCA Tbk Jahja Setiaatmadja mengungkapkan bahwa para bankir sudah mengantisipasi pelemahan nilai tukar rupiah yang kini mencapai level psikologis baru di kisaran Rp 15 ribu. Dia menuturkan, industri perbankan tanah air sudah belajar banyak dari krisis moneter pada 1998. ’’Jadi, kita juga mengelola dolar AS lebih baik. Tidak ada yang spekulasi. Tidak ada pinjaman yang terlalu banyak dalam dolar,’’ ungkapnya kemarin.

Jahja melanjutkan, bukan hanya rupiah yang terdepresiasi terhadap dolar AS. Mata uang negara-negara lainnya juga mengalami hal serupa. Salah satunya mata uang Jepang yen. ’’Jadi, saya kira sepanjang kepanikan berlebih tidak terjadi, maka bisa terkendali,’’ lanjutnya. Jahja mengakui bahwa pelemahan rupiah memiliki dampak signifikan pada sektor riil. Sebab, bahan-bahan baku dari produk industri di sektor itu masih diimpor.

Karena itu, pihaknya menilai harus ada balans antara kurs, suku bunga, dan inflasi. Rupiah melemah 12,49 persen sejak awal tahun. Sebagian besar melemahnya nilai tukar dipengaruhi defisit transaksi berjalan yang pada kuartal II lalu mencapai USD 8 miliar. Angka tersebut setara 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). ’’Inilah hebatnya superdolar. Dalam kondisi negaranya maju, semua memilih dolar,’’ sahut Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo kemarin.

Mata uang negara-negara maju memang bak primadona saat ini. Uang dari negara-negara berkembang kembali ke negara-negara maju dan ditempatkan di aset safe haven seperti dolar AS. Akibatnya, likuiditas mata uang negara-negara maju, terutama dolar AS, mengetat. Hal itu mengakibatkan mata uang di negara berkembang, termasuk Indonesia, melemah.

Menurut Dody, masalah supply and demand itu cukup tertahan dengan adanya capital inflow. Terutama inflow di pasar surat berharga negara (SBN) dan sedikit inflow di pasar saham. ’’Ada tekanan yang kita rasakan, tapi ini bukan rupiah melemah. Tetapi, superdolar ini berpengaruh terhadap hampir semua mata uang, terutama di negara-negara berkembang,’’ ucap Dody. (jun/ken/rin/c19/oki/jpg)

Berita Sebelumnya

Gencar Garap Pasar Ekspor
Gencar Garap Pasar Ekspor

Berita Berikutnya

Tekan HPP Gula
Tekan HPP Gula

Berita Sejenis

Katrol Rupiah, CPO Perlu Insentif Ekspor

Katrol Rupiah, CPO Perlu Insentif Ekspor

Pemerintah dinilai perlu memberikan stimulus lebih bagi ekspor minyak sawit mentah (CPO).


Pelemahan Rupiah Tak Berdampak pada Krisis Ekonomi

Pelemahan Rupiah Tak Berdampak pada Krisis Ekonomi

Rupiah kembali melemah terhadap dollar Amerika, Kamis (4/10).


Indonesia Tidak Akan Dibiarkan Krisis

Indonesia Tidak Akan Dibiarkan Krisis

Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Kamis (4/10).


Regulasi Anyar untuk Kawal Rupiah

Regulasi Anyar untuk Kawal Rupiah

Bank Indonesia (BI) punya jurus baru untuk mengontrol gejolak nilai tukar rupiah.


Net Kewajiban Investasi Turun

Net Kewajiban Investasi Turun

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah berdampak pada kinerja investasi.


Kemenkeu Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Kemenkeu Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Pemerintah menggunakan serangkaian startegi jitu untuk memperkuat otot rupiah.


Kejar Kenaikan Konsumsi

Kejar Kenaikan Konsumsi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengejar kenaikan konsumsi listrik per kapita nasional menjadi 1.200 kilowatt hours (kWh) pada 2019.


Perbankan Kerek Dana Murah

Perbankan Kerek Dana Murah

Perbankan terus mendorong pertumbuhan dana murah (current account savings account/CASA).


Sepakat Kurs di Level Rp14.500 per USD

Sepakat Kurs di Level Rp14.500 per USD

Badan anggaran (banggar) DPR dan pemerintah sepakat menetapkan asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) sebesar Rp14.500.


Rupiah Melemah Lagi, Pelaku Usaha Selektif Ekspansi

Rupiah Melemah Lagi, Pelaku Usaha Selektif Ekspansi

Fluktuasi nilai tukar rupiah membuat pelaku usaha harus menyesuaikan strategi bisnisnya.



Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!