Ekonomi
Share this on:

Sinergi Fiskal Moneter, Jurus Ampuh Antisipasi Resesi Ekonomi

  • Sinergi Fiskal Moneter, Jurus Ampuh Antisipasi Resesi Ekonomi
  • Sinergi Fiskal Moneter, Jurus Ampuh Antisipasi Resesi Ekonomi

JAKARTA - Ekonomi dunia tengah diselimuti awan mendung. Indonesia tengah dihantui krisis. Di sejumlah negara telah mengalami krisis.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani tak menampik atas kondisi demikian. Ekonom melihat Indonesia berpotensi terkena krisis cukup besar. Jika tidak melakukan antisipasi sejak saat ini, seperti melalui sinergi fiskal dan moneter.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman mengungkapkan, Indonesia perlu mewaspadai risiko resesi ekonomi global pada 2021. Hal itu terlihat sejak arus investasi dan perdagangan global yang melambat akibat perang dagang. Ditambah kebijakan moneter The Fed yang lebih longgar demi mendorong ruang pertumbuhan lebih tinggi.

Menurut dia, kondisi perekonomian global pada Triwulan II/2019 diperkirakan mengalami perlambatan. Hal ini tercermin dari data industri serta perdagangan di pasar global yang cenderung melemah. Meski pun, kata dia, kondisi ekonomi beberapa negara sebagai mitra dagang Indonesia masih tumbuh positif, tetapi tetap Indonesia perlu antisipatif dan tidak boleh lengah dengan kondisi ekonomi global yang tidak bisa diprediksi ini.

Dia menyebutkan, perekonomian Cina tumbuh 6,2 persen (Q2/19) lebih lambat dibandingkan 6,7 persen (Q2/18) dan 6,4 persen (Q1/19). Demikian juga Amerika Serikat (AS) yang kian melambat menjadi 2,3 persen (Q2/19) dari 3,2 persen (Q2/18) dan 2,7 persen (Q1/19). Singapura juga melambat menjadi 0,1 persen (Q2/19), lebih rendah dibandingkan 4,2 persen (Q2/18) dan 1,1 persen (Q1/19).

Termasuk juga Korea Selatan melambat menjadi 2,1 persen (Q2/19) dari 2,9 persen (Q2/18), namun lebih tinggi dibandingkan 1,7 persen (Q1/19).

"Tentu saja kondisi ini akan mempengaruhi kinerja perekonomian Indonesia," tutur dia.

Jadi, lanjut dia, langkah yang harus dilakukan untuk menghindari krisis ekonomi di Indonesia adalah optimalisasi kebijakan fiskal dan moneter. Dari sisi kebijakan fiskal, yakni pertama, peningkatan penanaman modal LN (FDI) yang terkendali sesuai dengan kebutuhan dan peningkatan produktivitas hilirisasi. Terutama industri manufaktur yang mampu mendorong supply-driven baik domestik maupun pasar LN yakni yang berkontribusi terhadap penurunan CAD yang masih defisit.

Kedua, mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur yang dibangun baik pembangkit listrik, jalan raya bebas hambatan, dan airport untuk mendorong perbaikan produksi agregat.

Ketiga, melakukan perbaikan iklim investasi domestik melalui perbaikan regulasi dengan cara menginventarisasi regulasi-regulasi atau aturan-aturan yang menghambat dan memperlambat terhadap kemudahan berinvestasi.

Keempat, memberikan berbagai insentif dan kemudahan fiskal bagi investor dalam negeri terutama yang akan berinvestasi di industri manufaktur dalam mendongkrak sisi penawaran, seperti salah satunya dengan melakukan penurunan tarif PPh Badan.

Sedangkan dari sisi kebijakan moneter, yakni pertama, perlu melakukan pengendalian terhadap nilai tukar AS terhadap rupiah. Artinya perlu mendorong perbaikan neraca pembayaran.

Kedua, adanya kenaikan harga komoditas akibat tingginya inflasi, maka Bank Indonesia (BI) perlu melakukan optimalisasi inflasi targeting dengan stabilisasi volatilitas harga dengan mengefektifkan kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terutama barang-barang yang kontribusi terhadap inflasi tinggi.

Ketiga, kebijakan makro-prudential yang efektif dan pruden. Dengan cara BI menurunkan suku bunga acuan hingga efektif dan prudent. Harapannya BI menurunkan hingga pada besaran 5 persen.

"Maka implikasinya adalah perlu dilakukan sinergitas policy-mix, yaitu antara ekspansi fiskal dan ekspansi moneter secara sinergis dalam kurun waktu yang bersamaan. Di mana BI dan pemerintah perlu duduk bersama dan melakukan antisipasi resesi ini tidak hanya untuk jangka pendek, tetapi jangka panjang. Sehingga kebijakan yang dihasilkan dan diimplementasikan akan mendorong terhadap pertumbuhan ekonomi sesuai yang ditargetkan tahun ini yaitu sebesar 5.3 persen. Apabila tidak tercapai, tentu saja resesi akan menghampiri kinerja ekonomi, suka ataupun tidak suka," papar dia.

Peneliti Indef lainnya, Andry Satrio Nugroho mengatakan, bahwa resesi yang akan datang berbeda dengan resesi di tahun 2008. Dia sependapat yang dikatakan ekonomi tersohor AS, Nouriel Robini yang mengatakan penyebab resesi yang akan datang adalah negative supply shocks. Artinya, ke depan supply dari barang akan mulai terganggu dari segi kuantitas dan harga. Dalam jangka panjang akan merembet pada harga yang mahal, menurunkan daya beli konsumen dan berimplikasi pada perlambatan ekonomi.

"Setidaknya ada tiga shocks yang menyebabkan resesi global yaitu eskalasi perang dagang, perang teknologi, dan harga minyak," ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Minggu (8/9).

Lantas apa yang perlu dilakukan Indonesia untuk menghadapi gelombang resesi yang akan datang dari sisi perdagangan dan industri? Menurut dia menggeliatkan ekspor.

"Perkuat basis produksi dan mengejar perbaikan pada industri prioritas yang berorientasi ekspor ke pasar dan negara dengan konsumen terbesar, dalam hal ini salah satunya adalah AS," ucap dia.

Sementara Ekonom Senior Indef Fadhil Hasan mengatakan, Indonesia harus belajar dari krisis tahun 1998, dan harus melakukan reformasi berbagai kebijakan fiskal dan moneter serta sektoral setelah itu, sehingga lebih resilien terhadap berbagai krisis atau shock yang terjadi.

Belajar dari pengalaman masa lalu, seharusnya Indonesia sedia payung sebelum hujan. Dimulai dari sekarang melakukan langkah-langkah konkret yang antisipatif. Seperti melakukan reformasi struktural secara lebih fundamental terutama terkait dengan aturan dan perizinan, seperti penurunan restriksi perdagangan (tarif dan nontarif), perizinan FDI harus direlaksasi, peraturan pemerintah daerah yang memberatkan ekonomi juga harus dihilangkan.

Kemudian, melanjutkan pembangunan infrastruktur secara lebih terarah dan terencana sehingga membawa dampak ekonomi lebih signifikan.

"Juga menggenjot ekspor habis-habisan dengan menghilangkan berbagai restriksi dan promosi besar-besaran dengan target market yang terukur," pungkas dia. (fin/ima)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

UU Ekonomi Kreatif Segera Disahkan

UU Ekonomi Kreatif Segera Disahkan

Rancangan Undang-Undang tentang Ekonomi Kreatif telah rampung dibahas oleh Komisi X DPR. Dalam waktu dekat, UU ini akan disahkan.


Kenang BJ Habibie Kuatkan Rupiah Saat Krisis Ekonomi

Kenang BJ Habibie Kuatkan Rupiah Saat Krisis Ekonomi

Banyak karya yang telah disumbangkan oleh Presiden ke-3 RI BJ Habibie, sehingga putra bangsa itu tidak hanya dikenal di Tanah Air, melainkan di dunia.


Buruknya Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah Hambat Investasi Asing

Buruknya Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah Hambat Investasi Asing

Berkali-kali Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluhkan masalah perizinan yang masih berjalan lambat, berbelit, dan terjadinya pungutan liar alias pungli.


Mayoritas Muslim, Ekonomi Islam Tetap Sulit Kuasai Perbankan di Indonesia

Mayoritas Muslim, Ekonomi Islam Tetap Sulit Kuasai Perbankan di Indonesia

Meski penduduk Indonesia mayoritas memeluk agama Islam, namun tidak mudah ekonomi Islam menguasai perbankan di Indonesia.


Perang Dagang, Indonesia Potensi Kena Resesi Ekonomi

Perang Dagang, Indonesia Potensi Kena Resesi Ekonomi

Perang dagang yang semakin memanas antara Amerika Serikat (AS)-Cina dan Jepang-Korea, ditambah kasus Brexit yang tak segera selesai


Antisipasi Blackout, PLN Bakal Tanam Kabel Listrik Bawah Laut

Antisipasi Blackout, PLN Bakal Tanam Kabel Listrik Bawah Laut

Untuk antisipasi insiden blackout listrik yang terjadi separuh di Pulau Jawa dan se Jabodetabek pada 4-5 Agustus 2019 lalu, PT PLN (Persero)


Pemerintah Tekan CAD Lewat Insentif Fiskal

Pemerintah Tekan CAD Lewat Insentif Fiskal

Untuk menekan defisit transaksi berjalan (curent account deficit/CAD), pemerintah melalui Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani.


Ini Lima Jurus Jitu Genjot Ekspor Pertanian

Ini Lima Jurus Jitu Genjot Ekspor Pertanian

Sesuai arahan Presiden Jokowi, Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian terus berupaya meningkatkan volume ekspor produk pertanian.


Masyarakat Kena Dampak Tumpahan Minyak Karawang

Masyarakat Kena Dampak Tumpahan Minyak Karawang

Insiden tumpahan minyak PT Pertamina (Persero) yang terjadi di Karawang hampir dua pekan ini dinilai berdampak pada kehidupan ekonomi nelayan


Pemerintah Siapkan 4 Jurus Tingkatkan Mutu Ekonomi

Pemerintah Siapkan 4 Jurus Tingkatkan Mutu Ekonomi

Untuk meningkatkan mutu ekonomi Indonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani telah menyiapkan empat jurus jitu yakni daya saing, produktivitas, inovasi dan riset.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!