Ekonomi
Share this on:

Startup Unicorn RI Bakal Dikuasai Investor Asing

  • Startup Unicorn RI Bakal Dikuasai Investor Asing
  • Startup Unicorn RI Bakal Dikuasai Investor Asing

JAKARTA - Satu persatu perusahaan rintisan teknologi (startup) unicorn Indonesia dimiliki asing. Tidak menutup kemungkinan ke depan, seluruh startup unicorn milik anak bangsa dimiliki oleh investor asing.

Kekhawatiran ini disampaikan dalam diskusi yang bertajuk Polemik Investasi Asing di Startup Unicorn di Jakarta, Senin (5/8).

"Ironisnya, startup lokal yang dibanggakan oleh pemerintah, nyatanya mayoritas sahamnya sudah dimiliki asing. Sekalipun masih ada yang didominasi oleh investor dalam negeri, namun saya yakin cepat atau lambat akan dikuasai oleh investor asing," ujar Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ariyo Irhamna.

Di sisi lain, kata Ariyo, banyak investasi yang masuk ke Indonesia tidak berkualitas, yakni didominasi oleh perusahaan yang market seeking dan resource seeking.

Menurut dia, hal tersebut selain karena kembali ke alam karena jumlah populasi Indonesia dan ketersediaan sumber daya alam. Selain itu, juga didorong juga oleh cara pemerintah (BKPM) melakukan promosi investasi yang mempromosikan Indonesia sebagai negara dengan populasi yang banyak dan ketersediaan SDA.

"Dampaknya banyak investasi asing di Indonesia yang masuk justru menambah barang impor, sebab praktik investasinya lebih didominasi untuk 'membuka toko' di dalam negeri bukan melakukan produksi dan ekspor," ujar Ariyo.

Sehingga lanjut dia, yang perlu didorong oleh pemerintah adalah menarik efficiency seeking investor yang motivasi investasinya untuk membangun jaringan produksi industri yang export oriented.

"Sehingga kualitas investasi memiliki dampak tidak hanya terhadap penyerapan tenaga kerja tetapi juga pertumbuhan industri dan kinerja ekspor," ucap dia.

Sayangnya lagi, menurut dia, tren perkembangan startup di Indonesia tidak direspon oleh pemerintah dengan tepat. Sehingga banyak platform e-commerce didominasi oleh barang impor.

"Mengapa saham startup lokal banyak dimiliki oleh asing? Selain aspek market size yang besar, juga disebabkan oleh sumber pembiayaan investasi pada startup berasal dari venture capital (bukan sumber pembiayaan konvensional, seperti bank). Sedangkan venture capital belum berkembang pesat di Indonesia. Sehingga banyak startup lokal mendapatkan pembiayaan dari asing," papar dia.

Oleh sebab itu, saran dia, dalam merespon kepemilikan asing di startup, pemerintah dan otoritas perlu mendorong perusahaan venture capital dalam negeri agar berkembang sehingga dapat mendukung investasi startup lokal.

"Hal lain yang perlu diperhatikan adalah aktivitas startup atau perusahaan tersebut dalam mengumpulkan data pribadi masyarakat, mulai dari data kewarganegaraan, data keuangan, hingga data mobilitas sehari-hari," kata dia.

Peneliti Indef lainnya, Bhima Yudhistira menyoroti keberadaan startup yang didanai asing justru memperparah defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan sekaligus.

"Startup khususnya yang bergerak di bidang e-commerce berkontribusi terhadap naiknya impor barang konsumsi. Tahun 2018 impor barang konsumsi naik 22 persen, padahal konsumsi rumah tangga hanya tmbuh 5 persen. Ini anomali pertama," ujar Bhima.

Bhima mengatakan, data asosiasi e-commerce menunjukkan kecenderungan 93 persen barang yang dijual di marketplace adalah barang impor. Artinya produk lokal hanya 7 persen.

Sementara, lanjut Bhima, manfaat keberadaan startup bagi penyerapan tenaga kerja (semi skilled dan high skilled) masih terbatas. Misalnya, driver online jutaan yang terserap lebih masuk kategori low skilled atau mengerjakan pekerjaan yg sederhana.

"SDM high skilled startup di Indonesia masih dipenuhi dari tenaga kerja asing atau outsourcing ke negara lain. Contoh kasus adalah Gojek di mana pengembangan IT dilakukan sebagian di Kota Bangalore India," ucap Bhima.

Hasil data Glassdoor menunjukkan gaji Data Scientist di kantor Gojek Bangalore rata-rata 2.1 juta rupee per tahun atau dikonversi ke rupiah setara Rp35.7 juta per bulannya.

"Jadi bukan masalah upah di India lebih murah dibanding tenaga kerja Indonesia. Permasalahan utama adalah skill SDM di Indonesia belum memenuhi syarat untk berkompetisi di dunia ekonomi digital," ujar Bhima.

Peneliti senior Indef, Didik J. Rachbini mengaku kaget dengan pernyataan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, yang hanya menjelaskan alasan mengapa empat unicorn Indonesia diklaim menjadi milik Singapura berdasarkan riset Google dan Temasek. Adalah Gojek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak.

"Penjelasan ini tidak hanya membingungkan publik, tetapi juga menunjukkan tidak jelas posisi Indonesia di dalam kiprah investasi global. Ke depan tidak bisa tidak, Indonesia harus mempunyai dan menempatkan posisinya yang jelas karena ada peluang pasar yang besar dari 100 juta kelas menengah Indonesia yang potensial sebagai sasaran investasi," ujar Didik.

Didik menegaskan, potensi pasar ini yang tidak boleh diobral murah kepada investor yang hanya mengincar pasar Indonesia dan hanya menarik untung yang besar dari pasar di dalam negeri.

"Pemerintah tidak bisa naif menjual murah pasar dalam negeri untuk dieksploitasi tanpa melihat seberapa besar manfaatnya bagi ekonomi dalam negeri," pungkas dia. (fin/ima)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Pertumbuhan Ekonomi Digital Bantu Geliatkan Investasi

Pertumbuhan Ekonomi Digital Bantu Geliatkan Investasi

Perkembangan ekonomi digital di Tanah Air cukup tumbuh secara signifikan. Hal itu bisa mendorong investor asing menanamkan modalnya ke Indonesia.


Menteri Keuangan Nilai Teror Tak Pengaruhi Ekonomi Indonesia

Menteri Keuangan Nilai Teror Tak Pengaruhi Ekonomi Indonesia

Sejumlah ekonom sebagian besar menyebutkan insiden penusukan terhadap Menko Polhukam, Wiranto, bakal memengaruhi perekonomian di Indonesia.Sejumlah ekonom sebag


Risiko Gagal Bayar, BI Keluarkan Aturan Baru

Risiko Gagal Bayar, BI Keluarkan Aturan Baru

Bank Indonesia kemarin (2/10) mengeluarkan peraturan baru yang akan memungkinkan perusahaan dan investor untuk mendirikan lembaga kliring


Investor Ragu Tanam Modal di RI

Investor Ragu Tanam Modal di RI

Demontrasi di Jakarta dan beberapa wilayah lain di Indonesia hingga berkepanjangan selama sepekan terakhir ini bakal berdampak pada investasi domestik.


Rusuh di Wamena, Investor Asing Lirik Negara Lain

Rusuh di Wamena, Investor Asing Lirik Negara Lain

Kerusuhan hingga menyebabkan 30 orang meninggal, sekitar 70 orang terluka, ratusan bangunan milik pemerintah maupun swasta dirusak


Dorong Investor, Cukup UU Investasi

Dorong Investor, Cukup UU Investasi

Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk menggeliatkan investor asing di pasar domestik. Namun pada kenyataannya nihil.


RUU Sertifikat Halal Pukul Pertumbuhan UMKM

RUU Sertifikat Halal Pukul Pertumbuhan UMKM

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) pada 17 Oktober 2019 bakal mewajibkan seluruh produk, termasuk hasil produksi Usaha Mikro


Revisi UU KPK Pukul Investasi dan Perekonomian RI

Revisi UU KPK Pukul Investasi dan Perekonomian RI

Revisi Undang-Undang (RUU) KPK yang telah disetujui DPR bakal berpengaruh pada melemahnya pertumbuhan investasi dan perekonomian Indonesia.


Tarik Investor, Pemerintah Rombak 72 UU Perizinan

Tarik Investor, Pemerintah Rombak 72 UU Perizinan

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menggeliatkan investasi asing di Indonesia.


Buruh Tolak Kebijakan Pro Tenaga Kerja Asing

Buruh Tolak Kebijakan Pro Tenaga Kerja Asing

Pekerja yang tergabung dalam Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), dengan tegas mendesak pemerintah segera mencabut kebijakan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!