Ekonomi
Share this on:

Suku Bunga Acuan Turun Jadi 5,25 Persen

  • Suku Bunga Acuan Turun Jadi 5,25 Persen
  • Suku Bunga Acuan Turun Jadi 5,25 Persen

JAKARTA - Bank Indonesia (BI), kembali menurunkan suku bunga acuan BI 7 Daya Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen. Sebelumnya, pada bulan Agustus suku bunga diturunkan 25 bps menjadi 5,5 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan alasan penurunan suku bunga acuan tersebut karena rendahnya perkiraan inflasi yang berada di bawah titik tengah sasaran 3,5 plus minus 1 persen.

"Selain itu, imbal hasil aset keuangan domestik tetap menarik dalam mendukung stabilitas eksternal dan langkah preemptive BI dalam mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ke depan dari dampak perlambatan ekonomi global," ujar Perry di Jakarta, kemarin (19/9).

Menanggapi penurunan suku bunga acuan tersebut, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah mengatakan, dampak penurunan suku bunga belum terasa karena belum tertransmisikan ke penurunan suku bunga kredit.

Namun menurut Pieter, penurunan suku bunga acuan akumulatif sebesar 75 bps bisa menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan ekonomi global.

"Melalui kebijakannya yang secara konsisten menurunkan suku bunga BI menegaskan komitmennya mendorong pertumbuhan ekonomi. Stabilitas tetap penting, tapi di tengah perlambatan ekonomi global sekarang ini BI berani untuk lebih mengutamakan pertumbuhan. Ini adalah bentuk nyata kebijakan yang counter cyclical," ujar Pieter kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Kamis (19/9).

Hanya saja, lanjut Pieter, kebijakan BI yang agresif melonggarkan likuiditas dan menurunkan suku bunga dalam rangka menstimulus perekonomian justru tidak diimbangi oleh kebijakan fiskal.

"Kebijakan fiskal justru terlihat main aman. Mengedepankan stabilitas ketimbang pertumbuhan. Hal ini terlihat nyata di postur APBN 2019 dan juga RAPBN 2020 di mana pemerintah berusaha meningkatkan penerimaan pajak dan menurunkan defisit. Peningkatan penerimaan pajak cenderung akan menahan pertumbuhan. Demikian juga dengan mengurangi defisit. Tidak memiliki semangat mendorong pertumbuhan," tutur Pieter.

Menurut Pieter, kebijakan BI menurunkan suku bunga dan juga melonggarkan likuiditas memang tidak akan secara spontan meningkatkan pertumbuhan kredit.

"Ya akan ada jeda sekitar satu sampai dengan dua triwulan baru akan berdampak, pertama ke suku bunga kredit dan kemudian ke pertumbuhan penyaluran kredit," ujar dia.

Kepala Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, dampak penurunan suku bunga acuan akan berdampak pada sektor riil dan pertumbuhan ekonomi tidak akan dirasakan tahun ini. Karena tinggal tersisa tiga bulan lagi akan berada di penghunjung 2019.

"Memang efek pemangkasan suku bunga ini baru akan dirasakan enam bulan ke depan. Target BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi itu tercapai 2020 bukan 2019," ujar dia. (din/fin/ima)

Berita Sebelumnya

UU Ekonomi Kreatif Segera Disahkan
UU Ekonomi Kreatif Segera Disahkan

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Ekonomi Global Diproyeksikan Turun, Indonesia Terjaga di 5 Persen

Ekonomi Global Diproyeksikan Turun, Indonesia Terjaga di 5 Persen

Dana Moneter Internasional (IMF) kembali memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global turun dari 3,5 persen menjadi 3 persen pada 2019.


Masuk Kuartal Keempat, Geliat Ekonomi Masih di Level 5 Persen

Masuk Kuartal Keempat, Geliat Ekonomi Masih di Level 5 Persen

Kuartal ketiga akan segera berakhir, dan segera memasuki kuartal keempat 2019, namun pertumbuhan ekonomi belum menunjukkan geliat yang menggembirakan


Inflasi Lebih Rendah dari Bulan Lalu, Kenapa?

Inflasi Lebih Rendah dari Bulan Lalu, Kenapa?

Bank Indonesia (BI) mengumumkan hasil survei pemantauan harga (SPH) di sejumlah wilayah, tercatat inflasi minggu kedua Oktober 2019 sebesar 0,04 persen.


Peringkat Daya Saing Indonesia Turun ke Posisi 50

Peringkat Daya Saing Indonesia Turun ke Posisi 50

Peringkat daya saing Indonesia menurun, dari 45 menjadi 50.


Deflasi September 2019 0,27 Persen, Faktor Harga Komoditas Turun

Deflasi September 2019 0,27 Persen, Faktor Harga Komoditas Turun

Anggapan September 2019 mengalami deflasi 0,27 persen disebabkan penurunan daya beli adalah tidak tepat.


Status Ojol Jadi Angkutan Umum Tak Mungkin Terjadi

Status Ojol Jadi Angkutan Umum Tak Mungkin Terjadi

Desakan pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) agar pemerintah memberi payung hukum terhadap ojol


Karhutla Turunkan Jumlah Penumpang Pesawat 5,9 Persen

Karhutla Turunkan Jumlah Penumpang Pesawat 5,9 Persen

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan menimbulkan kerugian materil


Terancam PHK, Buruh Tembakau Tolak Kenaikan Cukai Rokok

Terancam PHK, Buruh Tembakau Tolak Kenaikan Cukai Rokok

Rencana kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen dan Harga Jual Eceran (HJE) sebesar 35 persen, tidak pernah reda dari sorotan berbagai pihak.


Kenaikan Cukai Rokok, 254 Pabrik Rokok Terancam Gulung Tikar

Kenaikan Cukai Rokok, 254 Pabrik Rokok Terancam Gulung Tikar

Pengusaha rokok mengeluhkan kenaikan cukai rokok yang terlalu tinggi sebesar 23 persen dan Harga Jual Eceran (HJE) 35 persen.


RI Jadi Lumbung Pangan Dunia 2045, Impossible

RI Jadi Lumbung Pangan Dunia 2045, Impossible

Wakil Presiden terpilih sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maruf Amin menyatakan MUI memiliki lima strategi untuk mewujudkan Indonesia



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!