Ekonomi
Share this on:

Tarif Garuda Indonesia Bakal Segera Ditetapkan Menhub

  • Tarif Garuda Indonesia Bakal Segera Ditetapkan Menhub
  • Tarif Garuda Indonesia Bakal Segera Ditetapkan Menhub

Foto: bbc.com

JAKARTA - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya menilai diskon tarif tiket 50 persen maskapai Garuda Indonesia tidak jujur. Karena selama ini perusahaan pelat merah itu, belum juga menginformasikan kepada masyarakat tarif secara jelas.

"Kita kan ngomong sama masyarakat mesti jujur. Harus terbuka dan orang kan multitafsir, masyarakat ini kan banyak," kata Budi.

Menteri Budi menegaskan, pihak Garuda harus lebih jelas menginformasikan soal tarif setiap golongan penumpang yang telah ditetapkan pemerintah tarif batas atas dan tarif batas bawah. "Sebetulnya itu berjenjang harga yang 100 persen, harga yang 80 persen, harga yang 65 persen, harga yang 50 persen, sama yang 35 persen," ujar Budi.

Ancam Budi, jika pihak Garuda tidak juga menetapkan tarif harga sendiri, maka Kemenhub yang akan menetapkan.

"Saya beri kesempatan Garuda sebagai public company menetapkan sendiri. Ada di undang-udang aturan itu. Kalay dua Minggu lagi tidak bisa ya saya tetapin," tegas Budi.

Soal tiket pesawat tersebut, Budi mengungkapkan, telah bertemu dengan Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara. Dalam pertemuan itu, Kemenhub meminta kejelasan mengenai tarif tiket pesawat subclass (murah). "Saya minta soal pentarifan itu lebih clear. (Ari Askhara) disampaikan bahwa subclass itu sudah dilakukan, tapi say menganggap apa yang dilakukan belum clear," ucap Budi.

Istilah subclass tiket pesawat adalah penggolongan tiket berdasarkan jensi layanan yang diberikan. Misalnya untuk kelas termahal atau full fare seperti first class menggunakan kode F dan P. Adapun untuk full fare kelas bisnis, eksekutif dikenal tiket golongan J dan C, sedangkan kelas ekonomi biasanya menggunakan kode tiket Y.

Selain meminta kejelasan tarif tiket pesawat, Budi juga meminta Garuda untuk menyediakan sebanyak 5-10 persen tiket pesawat murah tersebut. Nah sampai saat ini tarif tersebut belum jelas, padahal pemerintah telah menetapkan tarif batas bawah sebesar 35 persen.

Ketika dikonfirmasi mengenai tarif tiket pesawat, Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan enggan berkomentar. "Maaf dalam kaitan ini kami enggak komen dulu ya. Nggak elok," ujar Ikhsar kepada Fajar Indonesia Network (FIN).

Sementara pengamat penerbangan, Gerry Soejatman setuju yang diinginkan Menteri Budi Karya bahwa prinsip yield management harus diterapkan maskapai sendiri, bukan oleh pemerintah.

"Saya setuju bahwa prinsip yield management harus diterapkan, dan saya juga sependapat dengan Pak Menhub (Budi Karya), lebih baik yield management dilakukan atas kemauan maskapai itu sendiri, dan bukan ditentukan oleh pemerintah," ujar Gerry kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Jumat (19/4).

"Prinsip yield management ini sudah diterapkan di seluruh dunia kok," tambah Gerry.

Gerry juga meminta Menteri Budi agar lebih jelas apa yang ingin dimaksud soal harga clear, tulus dan jujur. "Saya rasa Pak Menhub (Budi Karya) juga harus lebih jelas apa yang diharapkan, bukan hanya sekadar 'harga lebih murah,' tetapi agar 'harga yang murah juga tersedia untuk dijual.' Yang diinginkan menhub sepertinya adalah bagaimana tiket murah bisa dijual tetapi tiket mahal juga bisa dijual," pungkas Gerry.

Maskapai Lion Air Group pada Sabtu 30 Maret 2019 telah menurunkan harga jual tiket pesawat untuk seluruh jaringan penerbangannya baik Lion AIr, Wings Air, dan Batik Air.

Belum lama ini, Kementerian Perhubungan menerbitkan aturan baru yang tertuang dalam Permenhub Nomor 20 Tahun 2019 tentang Tata Cara dan Formulasi Perhitungan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri yang diteken pada 28 Maret lalu.

Selain itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi juga meneken aturan turunannya, yaitu Keputusan Menhub (Kepmen) Nomor 72 Tahun 2019 Tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri, sehari setelahnya, 29 Maret 2019.

Dalam aturan baru, pemerintah mengubah aturan tarif batas bawah menjadi 35% dari tarif batas atas. Tarif batas bawah sebelumnya 30% dari tarif atas. Aturan berlaku pada 1 April 2019. Dengan kenaikan 5%, maka menjadi tanya besar mengingat tuntutan masyarakat ingin harga tiket pesawat turun. (din/zul/fin)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya

Pasar Ekonomi Kompak Menguat
Pasar Ekonomi Kompak Menguat

Berita Sejenis

Investor Asing Tunda Berinvestasi di Indonesia

Investor Asing Tunda Berinvestasi di Indonesia

Aksi massa 21 dan 22 Mei yang berujung ricuh membuat investor asing menunda menanamkan modalnya di Indonesia.


Mudik Lewat Tol, Saldo E-Toll Maksimal Rp2 Juta

Mudik Lewat Tol, Saldo E-Toll Maksimal Rp2 Juta

Bank Indonesia bekerjasama dengan Perbankan dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) menyediakan lebih dari 100 layanan gerak Uang Elektronik (UE) di sejumlah rest area


BEI Siap Putuskan Kejanggalan Laporan Keuangan Garuda

BEI Siap Putuskan Kejanggalan Laporan Keuangan Garuda

Sejumlah pihak melakukan penelusaran terkait ketidakberesan laporan keuangan Garuda Indonesia.


Maskapai Penerbangan Akhirnya Patuhi Tarif Baru

Maskapai Penerbangan Akhirnya Patuhi Tarif Baru

Kementerian Perhubungan melakukan pemantauan penerapan tarif penumpang kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal.


Kapasitas Kursi Kereta Lebaran Ditambah

Kapasitas Kursi Kereta Lebaran Ditambah

Menyambut masa angkut mudik lebaran 2019, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan total 78 kereta api dengan kapasitas 957.282 penumpang.


Pemerintah Dianggap Belum Mampu Kelola Utang

Pemerintah Dianggap Belum Mampu Kelola Utang

Utang Luar Negeri Indonesia (ULNI) pada kuartal I sebesar 387,6 miliar dolar AS atau setara Rp5.542,6 triliun.


Bandel Tak Turunkan Tarif, Izin Maskapai Bisa Dicabut

Bandel Tak Turunkan Tarif, Izin Maskapai Bisa Dicabut

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memberikan warning kepada maskapai penerbangan jika sampai, Jumat (17/5) hari ini, tidak menurunkan tarif batas atas (TBA).


Jangan Merakit Terus, Saatnya Industri Elektronik Produksi Sendiri

Jangan Merakit Terus, Saatnya Industri Elektronik Produksi Sendiri

Investasi elektronika dan telematika di Indonesia mulai mengepakan sayapnya, meski belum sebesar industri manufaktur.


Pariwisata Lebih Laku Ketimbang Minyak Sawit

Pariwisata Lebih Laku Ketimbang Minyak Sawit

Menteri Pariwisata Arief Yahya memproyeksikan devisa pariwisata Indonesia mencapai USD 18 miliar atau jauh melampaui minyak sawit (CPO).


Defisit April Lalu Paling Buruk di Indonesia

Defisit April Lalu Paling Buruk di Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan sepanjang bulan April 2019 defisit sebesar 2,5 miliar dolar AS.



Berita Hari Ini

Video

Populer

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!