Ekonomi
Share this on:

The Fed Picu Ketidakpastian Global

  • The Fed Picu Ketidakpastian Global
  • The Fed Picu Ketidakpastian Global

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai ketidakpastian ekonomi dunia akan berlanjut 2019. Itu menyusul tren kenaikan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed) terus membayangi bursa ekuitas global. Dengan begitu, aliran modal akan mencari market dengan fundamental ekonomi stabil.

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen ketidakpastian ekonomi global masih akan berlanjut hingga akhir tahun ini. Bahkan, diyakini bakal berlanjut hingga tahun depan. ”Saat ini, kami dan pemerintah masih melihat ada ketidakpastian global sampai 2019,” tutur Hoesen di Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Hoesen mengungkapkan, sejauh ini Bank Indonesia (BI) sudah merespons kebijakan The Fed yang terus menaikkan tingkat Fed Fund Rate (FFR) yang diperkirakan akan berlanjut sampai tahun depan. Dia menyebutkan, BI sempat mengatakan akan menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebanyak dua kali di pengujung tahun ini.

”Kemarin BI sudah menaikkan satu kali lagi tingkat suku bunga sebesar 25 basis points (bps) menjadi 6 persen. Sehingga, masih ada satu kali kenaikan tahun ini,” imbuh Hoesen.

Kebijakan moneter itu bilang Hoesen untuk menekan defisit transaksi berjalan. Dia meyakini, aliran modal masuk akan mengalir ke pasar saham dan obligasi di dalam negeri. Itu dengan catatan, pemerintah mampu menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi.

”Capital market juga sangat tergantung pada konsensus pertumbuhan ekonomi,” ucap Hoesen.

Hoesen mengatakan, jika laju pertumbuhan ekonomi sejalan dengan asumsi di rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2019 sebesar 5,2-5,3 persen. Dengan begitu, ketidakpastian di luar negeri akan menciptakan capital inflow ke market domestik.

”Menilik asumsi pertumbuhan ekonomi di RAPBN, kondisi kita tidak memburuk di tengah uncertainty global,” ujarnya.

Dia menyatakan situasi capital inflow yang terjadi dalam dua pekan terakhir, setelah adanya tren net sell asing di capital market, menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat dan stabil. ”Sekarang banyak apresiasi ke Indonesia yang dianggap smart boy emerging country,” sanjung Hoesen.

Lebih lanjut Hoesen menjelaskan, Indonesia terbukti mempu mengelola perekonomian secara baik di tengah ketidakpastian global dengan pertumbuhan ekonomi stabil. ”Namun, pasar kita yang dangkal masih menjadi persoalan. Harus memperbanyak investor dan emiten,” imbuhnya. (jaa/jpg)

Berita Sebelumnya

PGN Perluas Penyebaran Gas Bumi
PGN Perluas Penyebaran Gas Bumi

Berita Berikutnya

Kebut Pengembangan Pelabuhan
Kebut Pengembangan Pelabuhan

Berita Sejenis

Telkomsel Tantang Akademisi, Profesional dan Start-up Indonesia

Telkomsel Tantang Akademisi, Profesional dan Start-up Indonesia

Telkomsel sebagai digital telco company terus bergerak maju mengembangkan ekosistem digital, untuk meningkatkan daya saing global Indonesia di era Industry 4.0.


Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bergerak Tipis

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bergerak Tipis

Kondisi ekonomi global masih belum pulih. Hal ini berimbas pada ekonomi Indonesia di mana diperkirakan akan bergerak naik tipis.


Ekonomi Melambat, Minat Investor Asing Masih Tinggi

Ekonomi Melambat, Minat Investor Asing Masih Tinggi

Di tengah perlambatan ekonomi global, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat minat investor asing berinvestasi di pasar saham domestik masih cukup tinggi.


Utang Luar Negeri Swasta RI Berpotensi Picu Krismon 1998

Utang Luar Negeri Swasta RI Berpotensi Picu Krismon 1998

Bank Indonesia (BI) meyebutkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia untuk swasta dan BUMN tumbuh sebesar 1999,6 miliar dolar AS atau setara Rp2.834,2 triliun.


Aksi 22 Mei Picu Pelemahan Rupiah

Aksi 22 Mei Picu Pelemahan Rupiah

Pengamat ekonomi memperkirakan aksi massa 22 Mei memicu nilai tukar rupiah melemah semakin dalam.


Vo;ume Impor BBM Picu Defisit Migas

Vo;ume Impor BBM Picu Defisit Migas

Defisit neraca perdagangan pada kuartal I 2019, utamanya disebabkan defisit migas sebesar 2,76 miliar dolar AS.


Perang Diskon Ojek Online Bisa Picu Monopoli

Perang Diskon Ojek Online Bisa Picu Monopoli

Meski Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah menetapkan besaran tarif ojek online namun di lapangan masih ditemukan aplikator masih melakukan perang harga dan



Lonjakan Harga Tiket Bisa Picu Inflasi

Lonjakan Harga Tiket Bisa Picu Inflasi

Pada minggu ketiga April, Bank Indonesia (BI) menyebutkan, inflasi secara bulanan 0,31 persen, sedangkan secara tahunan 2,7 persen.


Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Akan Picu Inflasi

Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Akan Picu Inflasi

Pemerintah memastikan akan menaikkan tarif iuran BPJS Kesehatan bagi Penerima Bantuan Iuran (PBI).



Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!