Kriminal
Share this on:

Astagfirullohaladziim, Preadator Seksual Mengintai di Pengungsian

  • Astagfirullohaladziim, Preadator Seksual Mengintai di Pengungsian
  • Astagfirullohaladziim, Preadator Seksual Mengintai di Pengungsian

LOMBOK UTARA - Musibah gempa tak membuat aksi predator anak terhenti. Satu bulan terakhir, tercatat lima peristiwa kekerasan seksual dengan korban anak dan perempuan dewasa. Ironisnya, empat kasus terjadi di tenda-tenda pengungsian.

Guncangan gempa 29 Juli lalu, membuat salah seorang anak perempuan berinisial RR di Lombok Utara (Lotara) mengalami trauma. Kondisi itu, membuat RR memilih untuk mengobati rasa traumanya ke seorang dukun.

Pengobatan tradisional dilaksanakan RR dua hari setelah gempa pertama ini. Seorang pria berinisial Az, yang mengklaim dirinya sebagai dukun, datang dan melakukan pengobatan di kamar mandi pengungsian, di Kecamatan Bayan, Lotara.

Namun bukan penyembuhan yang didapat. Az, malah melancarkan aksi bejatnya dan berbuat tindak asusila dengan menyentuh bagian sensitif di tubuh korban.

Perbuatan cabul itu diiringi dengan ancaman kepada korban. Az meminta korban untuk diam dan tidak melarikan diri. Jika bertindak nekat, pelaku tak segan untuk menghilangkan nyawa korban.

Ancaman itu tak membuat nyali korban ciut. Dia tetap nekat lari dan melaporkan perbuatan bejat Azhir kepada orang tuanya.

Apa yang menimpa RR, merupakan satu dari banyak kasus kekerasan seksual yang masuk dalam radar Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB. ”Kalau yang dilaporkan ke LPA ada lima kasus. Tapi, masih banyak kasus kekerasan seksual lainnya, yang tidak dilaporkan,” kata Ketua Divisi Hukum dan Advokasi LPA NTB Joko Jumadi.

Joko mengatakan, tingginya kasus kekerasan seksual, meski di tengah musibah, tak terlepas dari kondisi pengungsian. Banyak orang tua, yang di wilayah terdampak gempa, tidak mampu mengawasi anaknya dengan maksimal.

Tenda-tenda pengungsian, dengan posisi tidur yang saling berdempetan, tentu memberi kesempatan bagi predator anak untuk beraksi. Apalagi di tengah kondisi sulitnya penyaluran kebutuhan biologis ketika berada di pengungsian.

”Dari sisi keamanan untuk perempuan juga begitu, sangat longgar. Rata-rata tenda pengungsian berada di tanah lapang, kamar mandinya juga terbuka,” terang dia.

”Ada beberapa kasus, yang korbannya perempuan, itu ketika mandi mereka diintip,” ujarnya.

Wilayah sebaran kekerasan seksual di posko pengungsian, tersebar di wilayah terdampak gempa. Mulai dari Lotara, Lombok Barat, hingga Lombok Timur.

Menurut Joko, kondisi pengungsian yang menjadi tempat tinggal bersama-sama, memang menjadi masalah tersendiri. Ini yang menjadi faktor utama terjadinya kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan.

Guna mengatasi itu, LPA mengaharapkan pemerintah bisa cepat membangun hunian sementara (Huntara). Pembangunan huntara membuat orang tua bisa lebih fokus melakukan pengawasan terhadap anak.

”Pencegahan yang paling pertama, ya, secepatnya ya huntara harus jadi. Kedua, perketat pengawasan terhadap anak,” pungkas dia.

Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda NTB AKBP Ni Made Pujewati mengatakan, perbuatan bejat pelaku dilaporkan orang tua korban ke polisi. Jajaran Polres Lotara dan Polsek Bayan langsung menangkap pelaku.

”Ditangkap anggota Polres dan Polsek. Sempat ditangani di Lotara, tapi setelah rentetan gempa, kasusnya dilimpahkan ke Polda,” kata Pujewati.

Pujewati mengatakan, penyidik telah memproses pelaku dan menahannya di Polda NTB. Upaya memperkuat alat bukti juga sudah dilakukan. Salah satunya, visum terhadap korban. Tetapi, rentetan gempa membuat rumah sakit, tempat visum dilakukan, rusak parak. Bukti visum pun hilang.

”Nanti kita pakai rekam medis saja,” ujarnya.

Lebih lanjut, proses kasus ini sudah pada tahapan pelimpahan berkas perkara ke jaksa peneliti. Penyidik kepolisian menunggu apakah berkas dinyatakan lengkap atau dikembalikan dengan sejumlah petunjuk.

”Sudah tahap satu. Tinggal tunggu, kalau dinyatakan lengkap, langsung kita limpahkan tersangka untuk diadili,” tandas Pujewati.

Untuk kasus ini, polisi menjerat Azr dengan Pasal 76E Jo Pasal 82 Ayat 1 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya paling lama 15 tahun penjara.

Sementara itu, Psikolog Tri Utami Afriyanti mengatakan, pelaku yang berbuat kekerasan seksual meski di tengah musibah, dipicu banyak faktor. Salah satunya, bisa saja pelaku mengalami masalah kejiwaan.

”Tapi, untuk membuktikan itu perlu dilakukan assessment,” kata Tami.

Lebih lanjut, peraih magister di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyebut, masalah kejiwaan membuat pelaku tidak menyadari perbuatan mereka salah. Mereka tidak dapat berpikir realistis. Memilah antara yang baik dan benar.

”Saat kondisi biasa saja, tidak ada bencana dan ada bencana, tidak bisa mereka bedakan. Mereka tidak bisa menahan hasratnya,” pungkas dia.(was/r2/jpg)

Berita Sebelumnya

Pungli PTSL, Lurah Jadi Tersangka
Pungli PTSL, Lurah Jadi Tersangka

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Enam Perempuan Alami Kekerasan Seksual

Enam Perempuan Alami Kekerasan Seksual

Jaringan Perlindungan Perempuan dan Anak (JPPA) Kabupaten Kendal mengajak semua pihak peduli terhadap tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan.


Sindir UGM, Mahasiswa Goreng Ikan Asin

Sindir UGM, Mahasiswa Goreng Ikan Asin

Kasus dugaan kekerasan seksual yang dialami mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) terus bergulir.


Cabuli Siswi SMP, Seorang Pemuda Terancam 15 Tahun Penjara

Cabuli Siswi SMP, Seorang Pemuda Terancam 15 Tahun Penjara

Di tengah kehebohan kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami mahasiswi UGM, Polres Gunungkidul menangkap seorang pemuda terduga pelaku pencabulan.


Waspada, Teror Remas Payudara

Waspada, Teror Remas Payudara

Dugaan tindak pidana pelecehan seksual di Kota Beriman membuat kaum hawa resah. Apalagi, modus yang digunakan pelaku membuat korbannya lengah.


Gendeng! Siswi SMP Nyaris Diperkosa Dua Temannya

Gendeng! Siswi SMP Nyaris Diperkosa Dua Temannya

Kejahatan seksual saat ini sudah mulai merambah terhadap anak remaja.


ABG Penunggu Pasien Dicabuli di Rumah Sakit

ABG Penunggu Pasien Dicabuli di Rumah Sakit

Waduh, seorang ABG berumur 17 tahun, warga Katiyasa, Kota Cirebon, menjadi korban pelecehan seksual dari seorang pria yang tidak dikenalnya.


Lecehkan Wanita Berdaster, Cleaning Service Ditangkap

Lecehkan Wanita Berdaster, Cleaning Service Ditangkap

Setelah dicari-cari tim reserse Polres Jakarta Timur dan Polsek Jatinegara, akhirnya pelaku pelecehan seksual terhadap wanita cantik.


Usai Dilecehkan, Oknum Guru Beri Siswinya Rp50 Ribu

Usai Dilecehkan, Oknum Guru Beri Siswinya Rp50 Ribu

Tidak terima dengan perlakuan yang diterima Ra (15), anaknya, Su, warga Tanjungkarang Pusat, melaporkan dugaan pelecehan seksual ke Polresta Bandarlampung.


Dicekoki Miras, Pacar Sendiri Digilir bersama Tiga Temannya

Dicekoki Miras, Pacar Sendiri Digilir bersama Tiga Temannya

Aksi kekerasan seksual terhadap kaum perempuan terus terjadi di Kota Bekasi.


Pepet Korban, Dua Pemuda Remas Dada ABG

Pepet Korban, Dua Pemuda Remas Dada ABG

Aksi asusila terjadi di Kabupaten Sarolangun. Seorang gadis remaja yang masih dibawah umur jadi korban pelecehan seksual.



Berita Hari Ini

IKLAN ARIP

Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!