Kriminal
Share this on:

Buntut Demo Ricuh, 649 Diamankan, 250 Masuk Rumah Sakit

  • Buntut Demo Ricuh, 649 Diamankan, 250 Masuk Rumah Sakit
  • Buntut Demo Ricuh, 649 Diamankan, 250 Masuk Rumah Sakit

JAKARTA - Sebanyak 649 peserta aksi demo pelajar dan mahasiswa di depan Gedung DPR/DPD/MPR, Senin (30/9), diamankan pihak kepolisian. Sementara 250 orang, termasuk 41 anggota polisi terpaksa dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan berdasarkan data yang diperoleh dari Polda Metro Jaya total 649 peserta aksi diamankan oleh aparat kepolisian dari satuan kerja dan beberapa Polres di jajaran Polda Metro Jaya. Mereka diamankan sejak, Senin (30/9) malam, hingga, Selasa (1/10) dinihari WIB.

"Update data sementara diduga perusuh yang diamankan Polda Metro Jaya dan beberapa Polres jajaran, sebanyak 649 orang. Dan sampai kini, masih dalam proses pendataan dan penyelidikan lebih lanjut guna menentukan status hukumnya," kata Dedi di Mabes Polri, Selasa (1/10) kemarin.

Ratusan orang diamankan diduga sebagai pelaku kerusuhan. Mereka diamankan oleh sejumlah jajaran Polda Metro Jaya. Antara lain, satuan Ditreskrimum berhasil mengamankan sebanyak 258 orang. Lalu Ditreskrimsus sebanyak 40 orang, dan Ditresnarkoba 82 orang. Kemudian aparat Polres Jakarta Utara mengamankan 36 orang, Polres Jakarta Pusat 63 orang, dan Polres Jakarta Barat 170 orang.

"Sekali lagi, anggota masih proses pendalaman dan penyelidikan untuk bisa memastikan status hukumnya, kalau pun nanti ada cukup bukti yang tentunya akan diproses hukum. Kita tunggu saja proses tersebut ya," ujar Dedi.

Dedi menyebut orang-orang yang diamankan merupakan oknum pelajar dan mahasiswa. Sebab, jika mereka pelajar dan mahasiswa tentunya mengetahui aturan terkait waktu atau jam melakukan unjuk rasa.

"Mereka ini bisa dikatakan oknum ya, karena tak membubarkan diri hingga pukul 18.00 wib, atau batas waktu kegiatan menyampaikan pendapat di muka umum sesuai aturan UU. Jadi, saya pikir kalau mahasiswa atau pelajar, Insya Allah pasti damai dan tahu aturannya," ungkap Dedi.

"Tapi kalau pun ini kita bicara oknum ya, dan kita sudah berulang kali sampaikan, kalau demo lebih dari jam 18.00 ke atas sudah dipastikan mereka ini akan menjelma menjadi perusuh," sambungnya.

Selain para terduga perusuh yang diamankan, Dedi juga menjelaskan tentang ratusan orang yang mengalami luka-luka. Mereka kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat. Menurutnya, dalam kerusuhan Senin (30/9), sebanyak 209 orang diduga perusuh terpaksa dilarikan ke rumah sakit.

Mereka mengalami luka-luka. Selain itu, sebanyak 41 anggota polisi juga mengalami luka-luka. "Untuk kondisi semuanya masih dalam kategori luka-luka ringan, dan hingga saat ini dalam proses penanganan medis di beberapa rumah sakit, antara lain di RS Polri, RS AL Pelni, RSPP, Bidokkes, RS Bakti Mulya, dan juga klinik di DPR MPR," terangnya.

Terakhir, Dedi mengimbau kepada masyarakat, agar tidak melakukan provokasi di media sosial dan berharap, serta meminta masyarakat untuk tidak ikut melakukan propaganda atas kerusuhan yang terjadi akhir-akhir ini, baik di Jakarta maupun di wilayah lainnya.

"Ya, masyarakat di Jakarta sudah jenuh dengan kondisi kerusuhan seperti ini. Jadi kita mengimbau kepada masyarakat untuk tidak terprovokasi dengan berita yang sengaja diviralkan di media sosial untuk membuat propaganda, agitasi untuk munculkan kebencian ke institusi maupun pihak lain. Ini pola propaganda adu domba ini yang dilakukan oleh oknum tertentu," pungkasnya.

Berdasarkan pantauan lapangan di sejumlah Satker Polda Metro Jaya, nampak para orangtua dan keluarga dari pelajar mendatangi Polda Metro Jaya untuk mencari informasi keberadaan anaknya. Salah satunya, seorang ibu paruh baya yang mengaku berasal dari wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Dia mengatakan, kalau kedatangannya itu untuk mencari anak laki-lakinya yang sejak, Senin (30/9) pagi, tak pulang ke rumah usai pamit berangkat ke sekolah.

"Iya mas, dari kemarin pamit berangkat sekolah kita tungguin sore belum pulang, sampai malam juga gak pulang juga. Makanya saya pagi-pagi ke sini mau mencari dia. Saya tadi itu, sempet muter-muter nyari dan lihat daftar nama yang dikasih polisi," katanya tanpa mau menyebut namanya.

Beruntung, ibu tersebut dapat menemukan anaknya. Sang anak yang duduk di bangku sekolah SMK Fatahillah kelas tiga tersebut ternyata berada di gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

"Awalnya, saya sempat ragu pas polisi bilang dia ada di dalam. Akhirnya polisi tanya tanggal lahirnya dan setelah dicocokan, akhirnya kata polisi tadi anak saya ada didalam cuma pas saya mau lihat tidak boleh suruh nunggu nanti, magrib baru dibebasin," tuturnya.

"Jadi, sampai saat ini saya belum ketemu anak, dan tadi sempat maksa petugas mau ketemu. Cuma kata dia (petugas), semuanya juga mau ketemu bu tapi perintahnya belum boleh. Karena anak saya dan yang lainnya lagi dikasih bimbingan atau pembinaan. Saya cuma suruh siapin kaos saja buat pulang," ungkapnya.

Diakui olehnya, hingga kini dirinya belum tahu apa alasan anaknya ikut unjuk rasa. Sang ibu juga bingung tentang keberadaan motor sang anak.

"Saya belum tahu mas, cuma tadi polisi bilang anaknya berangkat ke Jakarta rombongan dengan ratusan orang naik truk. Dan polisi bilang ada yang bayar Rp 40 ribu, gak tahu bener gak tapi masa iya dia mau," pungkasnya. (mhf/zul/gw/fin)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya

Masih Bandel, Cabut Izinnya!
Masih Bandel, Cabut Izinnya!

Berita Sejenis

Korsleting, Tiga Rumah Terbakar

Korsleting, Tiga Rumah Terbakar


TKI Dicabuli Majikannya di Malaysia

TKI Dicabuli Majikannya di Malaysia

Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di Malaysia mengaku telah dicabuli oleh majikan di tempatnya bekerja.


70 Kg Sabu dan 40 Ribu Ekstasi Diamankan

70 Kg Sabu dan 40 Ribu Ekstasi Diamankan

Direktorat Narkoba Bareskrim Polri menangkap lima anggota jaringan narkotika Internasional.


Enam Polisi Pembawa Senjata Diputus Bersalah

Enam Polisi Pembawa Senjata Diputus Bersalah

Polri memberi sanksi enam polisi anggota Polres Kendari, Sulawesi Tenggara yang membawa senjata api saat mengawal demo mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) di


Curi Tas Mewah, TKI di Singapura Divonis Enam Bulan

Curi Tas Mewah, TKI di Singapura Divonis Enam Bulan

Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga (PRT), dijatuhi vonis enam bulan penjara oleh pengadilan Singapura.


WNI Disiksa Majikannya di Malaysia sampai Buta

WNI Disiksa Majikannya di Malaysia sampai Buta

Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) berhasil menyelamatkan seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia, yang diduga menjadi korban penyiksaan.


Usut Kasus Ninoy, Polisi Tetapkan 15 Tersangka

Usut Kasus Ninoy, Polisi Tetapkan 15 Tersangka

Polda Metro Jaya menetapkan 15 tersangka dan 1 orang masuk daftar pencarian orang (DPO) atas kasus penculikan dan penganiayaan relawan Jokowi, Ninoy Karundeng.


Penegakkan Hukum Jadi PR Utama Jokowi-Ma'ruf

Penegakkan Hukum Jadi PR Utama Jokowi-Ma'ruf

Joko Widodo-Ma'ruf Amin resmi menjabat Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024. Berbagai pekerjaan rumah (PR) masa pemerintahan sebelumnya menjadi sudah m


Sakit Hati Diputus, Foto Syur Mantan Disebar di Facebook

Sakit Hati Diputus, Foto Syur Mantan Disebar di Facebook

Warga Jalan Cerme Kelurahan Sidanegara Kecamatan Cilacap Selatan berinisial S (44) nekat menyebarkan foto tak senonoh mantan pacarnya, setelah diputus.


Dua Tahun Buron, Pengusaha Asal Makassar Ditangkap

Dua Tahun Buron, Pengusaha Asal Makassar Ditangkap

Seseorang pengusaha asal Makassar yang masuk daftar pencarian orang (DPO) dibekuk tim intelijen Kejaksaan Agung.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!