Kriminal
Share this on:

Di-TO Polisi, Mahasiswa Undip Ditangkap karena Edarkan Sabu

  • Di-TO Polisi, Mahasiswa Undip Ditangkap karena Edarkan Sabu
  • Di-TO Polisi, Mahasiswa Undip Ditangkap karena Edarkan Sabu

GELAR PERKARA - Petugas Satuan Reserse Narkotika (Satresnakroba) Polrestabes Semarang saat gelar perkara narkoba, kemarin. (istimewa)

SEMARANG - Kasus peredaran narkotika di Kota Semarang melibatkan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip). Tersangka bernama Rico Geger Prakoso (RG) (23), warga Sekayu, Semarang Tengah.

Mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat D3 Undip itu ditangkap petugas Satuan Reserse Narkotika (Satresnarkoba) Polrestabes Semarang di kawasan Jalan Seroja II Kelurahan Karang Kidul, Semarang Tengah, Selasa (5/3) sekitar pukul 21.00. Selain Rico, petugas juga mengamankan partnernya, M Dimas alias D (43).

Pelaku kedua ditangkap di rumahnya Jalan Patriot, Kelurahan Purwosari, Semarang Utara. Mantan kernet truk itu ditangkap pada hari yang sama setelah petugas mendapat pengakuan dari Rico.

“Ada dua orang, salah satunya mahasiswa perguruan tinggi di Kota Semarang. Ini juga ada KTP dan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM)," ungkap Wakasat Resnarkoba Polrestabes Semarang AKBP Enrico Silalahi saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Selasa (12/3) lalu.

Pengungkapan kasus ini berawal adanya informasi dari masyarakat terkait peredaran narkotika yang dilakukan oleh seorang warga Semarang Tengah. Menindaklanjuti informasi tersebut, didapatlah nama Rico, yang sudah tidak asing lagi bagi aparat Polrestabes Semarang. Sebab, nama Rico telah menjadi target operasi alias TO.

"Dalam aksinya pelaku ini yang kita tangkap sebagai pengedar. Sebelumnya sudah menjadi TO Satresnarkoba Polrestabes Semarang," katanya.

Setelah dilakukan penangkapan dan penggeledahan di rumah tersangka Rico, petugas berhasil menemukan barang bukti berupa sabu seberat kurang lebih 2 gram dikemas tiga bungkusan plastik klip siap edar, dan uang tunai Rp 95 ribu yang diduga hasil penjualan sabu. Selain itu juga disita sebuah handphone serta satu unit sepeda motor yang digunakan sebagai alat dan sarana transaksi mengedarkan sabu.

"Pada saat pelaku ditangkap sedang membagi paket di titik-titik yang sudah ditentukan atau sesuai pesanan," bebernya.

Hasil interogasi petugas, tersangka Rico mengaku mengedarkan barang tersebut atas perintah Anton. Ia juga dibantu rekannya, Dimas, hingga akhirnya dilakukan penangkapan dan berhasil menemukan barang bukti alat isap sabu, timbangan digital, lima bendel plastik klip dan sebuah handphone.

Menanggapi peredaran narkotika yang dikendalikan dari dalam lapas, Enrico mengatakan masih proses penyelidikan dan pengembangan dari pengakuan tersangka.

"Masih ada satu orang yang masuk Daftar Pencarian Orang (DPO). Ini masih kita kembangkan, bagaimana hasil pemeriksaan selanjutnya dari tersangka," tegasnya.

Enrico mengaku sangat prihatin dengan penyalahgunaan barang terlarang yang melibatkan mahasiswa. Menurut dia, biasanya peredaran ini sebagian besar dilakukan oleh masyarakat biasa.

"Ini menjadi perhatian kita bersama, karena kejahatan ini merambah ke mahasiswa. Harusnya mahasiswa fokus kuliah, tapi malah sibuk jual beli narkotika. Tersangka menjadi mahasiwa sejak 2014, sampai sekarang belum selesai," katanya.

Adanya dugaan narkotika tersebut diedarkan di lingkungan kampus, Enrico mengaku masih dalam penyelidikan. "Statusnya mahasiswa, tapi dalam beroperasinya dia di luar kampus. Dia ditangkap juga di luar kampus," tegasnya.

Enrico mengakui, sebelumnya tersangka Rico juga pernah ditangkap petugas Satresnarkoba Polrestabes Semarang. Informasi yang beredar, Rico ditangkap terkait kasus sama, namun karena tidak ada barang bukti, sehingga ia tidak bisa diproses hukum.

Akibat perbuatannya, kedua tersangka akan dijerat pasal 112 dan 114 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukumam minimal 5 tahun.

Rico Geger Prakoso mengakui mengedarkan atas kendali dari seseorang bernama Anton yang merupakan narapidana penghuni Lapas Kedungpane. Ia pun mendapat imbalan ratusan ribu rupiah dalam mengedarkan sabu.

"Awalnya saya punya teman, lha teman saya itu kenal sama Anton, dia di LP Kedungpane. Pertama 1,5 kantong, 1 kantong itu isinya 5 gram, kalau yang ini cuma 3 (gram). Sekantong dikasih Rp 350 ribu," akunya.

Rico mengatakan, komunikasi dengan Anton menggunakan handphone. Setelah mengambil di suatu alamat atas petunjuk Anton, kemudian sabu dalam kantong tersebut dipecah-pecah dan diedarkan sesuai pesanan. "Kadang ditentukan dari sana, kadang saya sendiri ditaruh di pohon," bebernya.

Rico mengakui, mengedarkan sabu sejak dua bulan terakhir dengan merekrut Dimas. Keduanya mengatakan, saling kenal lantaran teman semasa SMA. Selain mendapat uang Rp 350 ribu, juga mendapat imbalan 0,5 gram.

"Iya, dikasih setengah (0,5) gram, saya pakai sendiri, bisa empat kali pakai. Awalnya memakai, sudah 6 bulan (2018)," katanya.

Ia tak menampik pernah ditangkap petugas pada akhir Desember 2018 terkait kasus serupa. Ia juga belum lulus kuliah. "Banyak mata kuliah yang mengulang. Ini cuti. Iya, pernah ditangkap akhir tahun lalu," akunya.

Tersangka Dimas mengaku sudah saling kenal dengan Rico sejak SMA. Ia tergiur mengedarkan sabu lantaran sudah tidak lagi bekerja sebagi kernet.

Terpisah, Kepala UPT Humas Undip Nuswantoro Dwiwarno mengatakan, saat ini masih melakukan cross check kesesuaian dan kebenaran identitas terhadap yang bersangkutan dengan fakultasnya. Jika benar itu mahasiswanya, perbuatan yang dilakukan adalah dalam kapasitas bersangkutan sebagai pribadi yang dilakukan di luar kampus Undip.

"Sehingga menjadi tanggung jawab pribadi. Kedua, jika dugaan penggunaan sabu/narkotika itu terbukti, itu adalah kasus pidana. Undip mendukung langkah-langkah penegak hukum untuk penindakan terhadap yang bersangkutan. Ketiga Undip tidak akan memberikan bantuan hukum pada yang bersangkutan, karena perbuatannya menjadi tanggung jawab pribadi yang bersangkutan," papar Nuswantoro Dwiwarno. (mha/wan/zul)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

KPU Tunggu Rancangan Pilkada Diundangkan

KPU Tunggu Rancangan Pilkada Diundangkan

Rancangan PKPU diharapkan segera rampung, karena pilkada serentak 2020 mendatang sudah di depan mata.


Dua Kapal Penyelundup BBM Diciduk

Dua Kapal Penyelundup BBM Diciduk

Kapal MT yang diduga melakukan transfer BBM ilegal di Perairan Muara Baru, Jakarta Utara ditangkap, Kamis (18/7).


Pengacara Tomy Winata yang Pukul Hakim Dipenjara

Pengacara Tomy Winata yang Pukul Hakim Dipenjara

Desrizal, salah seorang pengacara Tomy Winata, ditetapkan polisi sebagai tersangka Kasus pemukulan Hakim PN Jakarta Pusat.


Pimpinan KPK Harus Ada Polisi dan Jaksanya

Pimpinan KPK Harus Ada Polisi dan Jaksanya

Panitia Seleksi Calon Pimpinan (Pansel Capim) KPK periode 2019-2023 diingatkan agar memilih pimpinan KPK yang memenuhi unsur penyidikan dan penuntutan.


Bandar Narkoba Internasional Jaringan Aceh Dimiskinkan

Bandar Narkoba Internasional Jaringan Aceh Dimiskinkan

Bandar narkoba internasional jaringan Aceh dimiskinkan Badan Narkotika Nasional (BNN). Seluruh aset tersangka berinisial KML disita usai ditangkap.


Tawarkan Gaji Besar, 7 Pelaku Human Trafficking Ditangkap

Tawarkan Gaji Besar, 7 Pelaku Human Trafficking Ditangkap

Tujuh pelaku tindak pidana perdagangan orang (TPPO) atau human trafficking ditangkap aparat Bareskrim Polri.


BNN Musnahkan Ganja, Sabu dan Ekstasi di Aceh

BNN Musnahkan Ganja, Sabu dan Ekstasi di Aceh

Badan Narkotika Nasional (BNN) memusnahkan barang bukti narkoba berupa 338 Kg ganja kering, 52 Kg sabu, dan 22.766 butir pil ekstasi.


Polisi Endus Keberadaan Pelaku Penembakan saat Rusuh

Polisi Endus Keberadaan Pelaku Penembakan saat Rusuh

Polri mengklaim telah mengantongi indentitas pelaku penembakan yang menyebabkan beberapa anggota masyarakat tewas saat kerusuhan 21-22 Mei lalu.


Polisi Pertimbangkan Penangguhan Penahanan Habil Marati

Polisi Pertimbangkan Penangguhan Penahanan Habil Marati

Polri tengah mempertimbangkan penangguhan penahanan Habil Marati, tersangka kasus makar yang dituding berperan sebagai penyandang dana.


Selundupkan Gula Ilegal, Empat WNI Ditangkap Polisi Malaysia

Selundupkan Gula Ilegal, Empat WNI Ditangkap Polisi Malaysia

Empat warga negara Indonesia (WNI) ditangkap Kepolisian Maritim Malaysia di Tawau (Negeri Sabah), Malaysia, Kamis (11/7) lalu.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!