Kriminal
Share this on:

Dugaan Aksi Koboi Petugas Transjakarta Dikecam

  • Dugaan Aksi Koboi Petugas Transjakarta Dikecam
  • Dugaan Aksi Koboi Petugas Transjakarta Dikecam

JAKARTA - Dugaan aksi koboi petugas terhadap penumpang bus Transjakarta yang diduga melakukan tindak kriminal menuai kecaman dari banyak pihak. Ahli psikolog Musni Umar mengatakan, dugaan aksi koboi petugas Transjakarta tidak dibenarkan oleh Undang-undang. Karena, hukum di Indonesia menganut azas praduga tidak bersalah.

“Jangankan petugas bus Transjakarta, seorang polisi pun tidak dibenarkan melakukan aksi pemukulan terhadap terduga tindak kriminalitas, apalagi ini belum bisa dibuktikan,” ujar Musni Umar kepada indopos (jawa pos grup), Minggu (18/11).

Musni mengatakan, seharusnya petugas Transjakarta mengamankan terduga untuk selanjutnya diserahkan kepada Polisi. Bukan dengan mengamankan dan main hakim sendiri.

“Kalau protap sudah dibenarkan, bisa saja saja terduga diamankan. Tapi bukan untuk dihakimi, kan bisa saja dilaporkan ke pihak yang berwajib,” ungkapnya.

Musni menyebutkan, dalam keadaan apapun tidak dibenarkan seorang petugas layanan publik melakukan aksi koboi. Apalagi itu mengatasnamakan penegakan hukum. “Secara psikologi bisa saja orang melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap orang lain. Bisa karena faktor tekanan kerja, tekanan sosial masyarakat di kota besar hingga keinginan meniru aksi koboi dari media sosial. Tapi apapun tekanan tersebut, tidak dibenarkan seorang petugas melakukan aksi koboi,” katanya.

Sementara itu, Anggota DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono mengatakan, tugas penempatan seorang petugas di bus Transjakarta hanya melakukan pencegahan. Jadi tidak dibenarkan seorang petugas melakukan aksi penghakiman terhadap setiap aksi kriminalitas di layanan umum tersebut.

Dirut Transjakarta selaku pimpinan tertinggi di PT Transjakarta harus ikut bertanggungjawab terhadap perilaku anak buahnya yang main hakim sendiri ini. Apalagi yang menjadi korban adalah masyarakat penumpang bus.

“Penempatan petugas di bus Transjakarta kan hanya untuk pencegahan, jadi tidak benar aksi koboi sekalipun itu benar terjadi aksi kriminalitas. Seharusnya itu tidak harus dipertontonkan di tempat umum, kan bisa saja diamankan lalu diserahkan ke pihak berwajib. Dirut Transjakarta harus bertanggungjawab dan menjadikan ini sebagai bahan evaluasi,” ujarnya.

Dengan kejadian tersebut, menurut Gembong menjadi pembelajaran terhadap pihak Transjakarta. Bahwa dikemudian hari dugaan tindakan penegakan tidak bisa dilakukan oleh petugas bus Transjakarta. “Janganlah, kalau mempertontonkan tindakan kekerasan di tempat publik, serahkan saja ke kepolisian,” ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Operasional PT Transjakarta Daud Joseph mengatakan, pihaknya telah meminta keterangan sejumlah petugas bus transjakarta terkait dugaan pengeroyokan yang dilakukan petugas bus transjakarta terhadap seorang warga, Faisal (38) di Halte Harmoni, Jakarta Pusat, Kamis (8/11) lalu.

“Sedang dimintai keterangan, saat ini sedang dalam proses. Nanti kalau sudah ada titik terang kami kabarin,” ujarnya.

Ia mengatakan, hingga saat ini manajemen Transjakarta tengah mengumpulkan keterangan terkait tudingan pengeroyokan tersebut. Dalam prosedur, menurutnya ketika ditemukan tindak kriminal, petugas wajib melaporkan hal tersebut ke pihak kepolisian.

Namun, Daud enggan menjawab apakah tindakan memajang Faisal di depan umum dengan bertelanjang dada dan tanpa celana merupakan tindakan yang menyalahi aturan. “Sejak awal prosedursnya bahwa tindak kriminal kami ajukan pelaporan ke pihak berwajib,” bebernya.

Atas dugaan tindakan kekerasan tersebut, usai melakukan visum penumpang bus transjakarta, Faisal (38) pun melapporkan ke Mapolres Metro Jakarta Pusat. Pengacara Faisal, M Al Marsyahdan, menegaskan, kliennya tidak mencopet, melainkan mengembalikan dompet penumpang yang ditemukannya di dalam bus saat melintas di Halte Utan Kayu, Jakarta Timur.

Secara kronologis, menurutnya Faisal tetap dicurigai petugas dan dibawa ke Pulogadung, Jakarta Timur. Faisal menuruti permintaan petugas karena mengira akan memberikan keterangan kepada polisi. Namun, setiba di Halte Pulogadung, ia justru dibawa ke Halte Harmoni. Di Halte Harmoni, Faisal mengalami pengalaman tidak mengenakkan.

Sebuah tulisan "saya copet" digantungkan ke leher Faisal. Faisal disuruh buka baju dan buka celana, disuruh duduk di sekitar halte dan diminta mengelilingi Halte Harmoni. Kemudian Faisal juga sempat dikurung di dalam ruang sekuriti bersama delapan petugas lainnya.

Faisal, kata Marsyahdan, baru dibebaskan pada pukul 21.00 WIB setelah dipaksa mengakui dirinya copet. “Sebelum dikeluarin, dia dipaksa. Dihajar sampai lemas kemudian dipaksa membuat surat pernyataan bahwa mengakui pencopetan,” katanya. (nas/jpg)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Jual Ciu, Warung Kelontong Digedor

Jual Ciu, Warung Kelontong Digedor

Nekad berjualan minuman keras atau ciu, warung kelontong milik Aji warga Jalan Ponorogo Sumurpanggang, Margadana, Rabu (12/12) malam, digedor petugas.


Asyik Mangkal, Empat PSK Terjaring Razia

Asyik Mangkal, Empat PSK Terjaring Razia

Petugas Satpol PP Kabupaten Pekalongan kembali berhasil menjaring empat PSK yang menjajakan bisnis syahwat di siang bolong, kemarin (12/12).


Istri Mantan Kapolresta Ditetapkan Tersangka

Istri Mantan Kapolresta Ditetapkan Tersangka

Masih ingat kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan mantan istri Kapolresta Pontianak berinisial Mhn kepada Nia Kurnia?


Gagal Rampas Tas, Dua ABG Dimassa

Gagal Rampas Tas, Dua ABG Dimassa

Aksi perampasan dengan melibatkan pelaku remaja kembali terjadi.


Sindir UGM, Mahasiswa Goreng Ikan Asin

Sindir UGM, Mahasiswa Goreng Ikan Asin

Kasus dugaan kekerasan seksual yang dialami mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) terus bergulir.


Dalang Tawuran yang Tewaskan Seorang ABG Diburu Polisi

Dalang Tawuran yang Tewaskan Seorang ABG Diburu Polisi

Tim Reserse Mobil (Resmob) Satreskrim Polres Tegal Kota tengah memburu pelaku yang diduga sebagai dalang aksi tawuran.


Soal Dugaan Penganiayaan, Kapolda Harus Turun Tangan

Soal Dugaan Penganiayaan, Kapolda Harus Turun Tangan

Langkah Nia Kurnia melaporkan Mhn ke Ditreskrimum Polda Kalbar atas dugaan melakukan penganiayaan dianggap Indonesia Police Watch (IPW) sudah tepat.


Cabuli Siswi SMP, Seorang Pemuda Terancam 15 Tahun Penjara

Cabuli Siswi SMP, Seorang Pemuda Terancam 15 Tahun Penjara

Di tengah kehebohan kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami mahasiswi UGM, Polres Gunungkidul menangkap seorang pemuda terduga pelaku pencabulan.


Waspada, Teror Remas Payudara

Waspada, Teror Remas Payudara

Dugaan tindak pidana pelecehan seksual di Kota Beriman membuat kaum hawa resah. Apalagi, modus yang digunakan pelaku membuat korbannya lengah.


Ngaku Keturunan Cucu Keraton, Dua Orang Keruk Rp1,3 Miliar

Ngaku Keturunan Cucu Keraton, Dua Orang Keruk Rp1,3 Miliar

Banyak modus para pelaku kejahatan dalam menjalankan aksi kejahatanya.



Video

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!