Kriminal
Share this on:

Hasil Kinerja TPF Novel Melempem

  • Hasil Kinerja TPF Novel Melempem
  • Hasil Kinerja TPF Novel Melempem

**JAKARTA ** - Tim advokasi penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengaku kecewa dengan paparan hasil investigasi Tim Pencari Fakta (TPF) kasus penyiraman air keras. Mereka menilai tim telah gagal menjalankan mandat yang diberikan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

Tim yang terdiri dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Amnesty Internasional Indonesia dan kalangan pengacara itu menilai bentuk kegagalan paling utama yakni tidak berhasil terungkapnya pelaku penyiraman air keras. Baik eksekutor mau pun aktor intelektual di balik aksi teror tersebut.

"Kami menyatakan kekecewaan yang besar. Tim Satgas bentukan Kapolri yang merupakan tidnak lanjut rekomendasi Komnas HAM telah gagal total untuk menjalankan mandatnya," ujar Direktur LBH Jakarta Arif Maulana dalam jumpa pers di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta, Rabu (17/7) kemarin.

Arif pun menyayangkan sikap tim yang seakan menyudutkan Novel selaku korban. Eks Kasat Reskrim Polresta Bengkulu itu dituding melakukan dugaan penggunaan kewenangan secara berlebihan (excessive use of power) kala berusaha mengungkap enam kasus besar oleh TPF.

"Dan yang menyedihkan lagi hari ini kita justru melihat ada statement laporan yang justru menyudutkan korban tindak pidana. Atas dasar apa tim gabungan sebutkan hal tersebut?" sambung Arif. Ia menganggap, kegagalan TPF dalam mengusut kasus penyiraman Novel bukan hanya tanggung jawab tim sendiri. Namun, ini juga menandakan kegagalan institusi Polri secara keseluruhan.

"Struktur satgas tanggung jawab Kapolri. Kegagalan ini kegagalan kepolisian secara terang benderang terhadap kasus Novel Baswedan," tukasnya.

Pengacara Alghiffari Aqsa menuturkan, pihaknya menemukan kontradiksi antara penjelasan dan kesimpulan yang disampaikan TPF. Ia menjelaskan, dalam paparannya, TPF menyatakan telah memeriksa 74 saksi, 38 rekaman CCTV, dan 114 toko bahan kimia. Namun, kata dia, mereka justru menyimpulkan tidak berhasil menemukan alat bukti.

"Hal ini menunjukan bahwa Tim Satgas Polri telah mencoba membangun opini yang spekulatif, tanpa adanya bukti yang mencukupi," ungkapnya.

Alghiffari juga menyoroti keluhan TPF mengenai kurangnya sumber daya manusia dalam mengungkap kasus Novel. Menurutnya, seharusnya hal tersebut bukanlah masalah yang serius. Padahal, sambungnya, Polri merupakan salah satu institusi dengan jumlah sumber daya manusia yang melimpah.

Ditambah, Polri kerap berhasil mengungkap berbagai kasus dengan minim alat bukti seperti pembunuhan, perampokan, ataupun penjambretan dalam kurun hitungan jam. Dengan ini, menurut Alghiffari, sumber daya manusia seharusnya tak jadi masalah.

Lebih lanjut dikatakan dia, proses pengungkapan kasus Novel dapat berjalan dengan baik jika TPF mau memandang perkara tersebut sebagai serangan yang dilakukan secara sistematis. "Harus dipandang sebagai bagian dari rangkaian yang tidak terpisahkan dari penyerangan lain terhadap pegawai, struktural, mau pimpinan KPK," tandas Alghiffari.

Ia pun beranggapan, rekomendasi pembentukan tim teknis yang dilayangkan TPF pada akhir paparannya hanyalah upaya untuk kembali mengulur-ulur waktu dan semakin mengaburkan pengungkapan kasus ini. Deputi Koordinator Kontras Putri Karnesia mengatakan, sejak pembentuman TPF pada awal Januari lalu, tim advokasi telah merasa pesimis. Pasalnya, kata dia, ada dugaan keterlibatan perwira kepolisian dalam kasus ini.

Novel dan tim, tambahnya, justru menginginkan pembentukan tim secara independen. "Kami ingin tim independen di bawah komando presiden seperti tim pencari fakta kasus Munir," ucap Putri.

Terkait pernyataan serangan tersebut bukan termasuk upaya percobaan pembunuhan, Putri menegaskan salah kaprah. "Kita sama-sama tahu akibat penyiraman Novel sesak napas. Saya pikir bukan berupaya membuat Novel menderita tapi percobaan pembunuhan," tegasnya.

Campaign Manager Amnesty International Indonesia Puri Kencana Putri menyayangkan sketsa wajah terduga pelaku penyiraman air keras justru tidak dibahas dalam paparan TPF. "Fokus tim pakar terkesan mendegradasi posisi Novel sebagai korban," ucapnya.

Seperti diketahui, TPF kasus penyiraman Novel Baswedan telah selesai menjalankan tugas. Tim beranggotakan 65 orang itu telah memaparkan hasil investigasi mereka usai enam bulan dibentuk pada 8 Januari 2019 lalu.

Hasilnya, tim merekomendasikan Kapolri untuk melakukan pendalaman terhadap salah seorang tak dikenal yang mendatangi kediaman Novel pada 5 April 2017. Selain itu, mereka juga memberikan rekomendasi kepada Kapolri untuk mendalami probabilitas antara enam kasus besar yang pernah diungkap Novel dengan perkara penyiraman air keras ini. (riz/zul/fin/tgr)

Berita Sebelumnya

Berita Berikutnya


Berita Sejenis

Polri Harus Intropeksi dan Evaluasi Diri

Polri Harus Intropeksi dan Evaluasi Diri

Kasus tragis yang menimpa anggota Polri di sejumlah peristiwa menunjukan kinerja korps berbaju cokelat tersebut harus dievaluasi.


Tim Teknis Kasus Novel Tak Sentuh Perkara 'Buku Merah'

Tim Teknis Kasus Novel Tak Sentuh Perkara 'Buku Merah'

Kasus Buku Merah yang diduga sebagai salah satu sebab penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan tak menjadi fokus Tim Teknis Polri.


90 Persen Perkara Pileg Ditolak MK

90 Persen Perkara Pileg Ditolak MK

Dari 260 perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pileg 2019 yang ditangani Mahkamah Konstitusi (MK), lebih dari 90 persen telah ditolak dan tidak diter


Tim Teknis Kasus Novel Mulai Rapat

Tim Teknis Kasus Novel Mulai Rapat

Tim teknis lapangan Polri untuk kasus Novel Baswedan mulai rapat, Selasa (6/8), di Bareskrim Polri.


Sengketa Pileg Diputus Mulai Hari Ini

Sengketa Pileg Diputus Mulai Hari Ini

Mahkamah Konstitusi (MK) akan menggelar sidang pembacaan putusan akhir untuk 202 perkara sengketa hasil Pileg 2019.


MK Gelar Sidang Putusan Sengketa Pileg Pekan Depan

MK Gelar Sidang Putusan Sengketa Pileg Pekan Depan

Gugatan sengketa hasil pemilihan legislatif (Pileg) 2019 memasuki babak akhir. Pekan depan, Mahkamah Konstitusi (MK) akan menggelar sidang pembacaan putusan.


Tim Teknis Kasus Novel Berjumlah 120 Personel Polri

Tim Teknis Kasus Novel Berjumlah 120 Personel Polri

Polri mengumumkan jumlah personel tim teknis yang akan mengungkap kasus penyiraman air keras kepada penyidik senior KPK Novel Baswedan.


Tim Teknis Polri Resmi Bertugas Ungkap Kasus Novel

Tim Teknis Polri Resmi Bertugas Ungkap Kasus Novel

Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah menandatangani surat perintah (Sprin) sejumlah anggota yang masuk dalam tim untuk mengungkap kasus penyiraman air keras te


90 Anggota Isi Tim Teknis Kasus Novel

90 Anggota Isi Tim Teknis Kasus Novel

Polri menindaklanjuti rekomendasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus Novel Baswedan, yaitu dengan membentuk sebuah tim yang lebih spesifik.


Bekukan Anggaran Berarti Mematikan KPK

Bekukan Anggaran Berarti Mematikan KPK

KPK menyatakan pembekuan anggaran sesuai pernyataan Anggota Komisi III DPR Masinton Pasaribu akan mematikan kinerja lembaga antirasuah.



Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!